analitik

Antrean BBM di Palangka Raya Meningkat: Eceran Rp18 Ribu Tekan Harga Pangan

Ule.co.id – Fenomena BBM Eceran Rp18 Ribu Harga Pangan Tertekan mulai mengemuka di Palangka Raya, di mana antrean panjang di SPBU memaksa sebagian warga beralih ke penjual eceran yang menawarkan pertalite dengan harga jauh di atas tarif resmi.

Warga seperti Kurnia melaporkan bahwa di Jalan RTA Milono, harga pertalite eceran berfluktuasi antara Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per liter, jauh melampaui harga subsidi sebesar Rp10 ribu. Zaid menambahkan bahwa pada titik tertentu, harga eceran bahkan mencapai Rp18 ribu per liter, menambah beban ekonomi rumah tangga.

Baca juga:
Pemerintah Sukamara Lanjutkan Peningkatan Jalan Poros Kartamulya, Akses Masyarakat Semakin Lancar

Karena perbedaan harga yang signifikan, banyak konsumen memilih menunggu di antrean SPBU meski harus menghabiskan waktu berjam‑jam. Seorang pengguna bernama Boy menilai bahwa selisih harga antara SPBU dan penjual eceran membuat antrean menjadi pilihan yang tak dapat dihindari.

Empat SPBU yang beroperasi 24 jam—Jalan Tjilik Km 12, Jalan Sethadji, Jalan Diponegoro, dan Pahandut Seberang—diharapkan dapat meredam antrean. Namun, warga mengkritik ketersediaan BBM bersubsidi di malam hari. Wandi mengaku ketika datang pada dini hari, hanya BBM nonsubsidi yang tersedia, sementara Bram menyoroti penutupan SPBU pada jam salat magrib yang tidak konsisten dengan praktik sebelumnya.

Keluhan serupa juga terdengar dari pedagang pasar. Di Pasar Kahayan, pedagang seperti Rafiah mengamati kenaikan harga cabai dan kelangkaan jeruk nipis, yang kini hanya tersedia dua kali seminggu dengan ukuran lebih kecil dan harga lebih tinggi. Menurutnya, sulitnya memperoleh BBM meningkatkan biaya operasional petani yang harus menggunakan mesin diesel untuk penyiraman, sehingga biaya produksi naik.

Data harga BBM di Kalimantan Tengah per 1 September 2026 menunjukkan variasi tarif sebagai berikut:

Jenis BBM Harga per Liter (Rp)
Pertamax Turbo (RON 98) 20000
Pertamina Dex (CN 53) 25750
Dexlite (CN 51) 24200
Pertamax (RON 92) 16300
Pertalite (RON 90) 10000
Biosolar (CN 48) 6800

Meskipun harga resmi pertalite tetap Rp10 ribu, fenomena eceran dengan harga Rp18 ribu menimbulkan tekanan pada biaya hidup, khususnya harga pangan. Kenaikan harga kacang tanah dari Rp38 ribu menjadi Rp45 ribu per kilogram, serta peningkatan modal menjadi Rp43 ribu, memaksa sebagian pedagang menahan penjualan demi menghindari harga konsumen yang terlalu tinggi.

Baca juga:
Antrean BBM Palangka Raya: Pendekatan Proporsional Atasi Kepadatan Antrian

Pihak Pertamina dan Pemerintah Kota Palangka Raya menegaskan bahwa pasokan pertalite masih mencukupi, dan antrean dipicu oleh peralihan konsumen dari pertamax ke pertalite. Upaya evaluasi termasuk optimalisasi SPBU 24 jam dan penambahan titik pengisian baru sedang dijalankan.

Namun, masyarakat menuntut tindakan lebih tegas, seperti pembatasan pembelian berulang oleh kendaraan berkapasitas besar dan pengawasan terhadap praktik pelanggaran penjualan BBM. Rasyid menekankan perlunya regulasi yang melindungi konsumen yang benar‑benar membutuhkan bahan bakar.

Secara keseluruhan, BBM Eceran Rp18 Ribu Harga Pangan Tertekan menjadi indikator keterkaitan antara kebijakan energi dan stabilitas harga pangan. Jika tidak ditangani secara holistik, tekanan ini dapat memperburuk inflasi regional dan menambah beban rumah tangga di tengah musim kemarau yang sudah menurunkan produksi pertanian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *