Kunjungan Presiden Aoun ke Nabatieh: Bagaimana hizbullah Memengaruhi Konflik Lebanon-Israel
Ule.co.id – Presiden Lebanon Joseph Aoun melakukan kunjungan tak terduga ke kota Nabatieh pada 12 September 2026, menyoroti peran strategis hizbullah dalam dinamika konflik antara Lebanon dan Israel yang terus memanas. Dalam pernyataannya, Aoun menekankan bahwa ketahanan penduduk selatan, khususnya di Nabatieh, menjadi simbol kebanggaan nasional dan bukti bahwa masyarakat Lebanon mampu bangkit meski dihadapkan pada perang yang berkepanjangan.
Kunjungan tersebut terjadi sesaat setelah operasi militer Israel menargetkan alun-alun strategis di sekitar punggungan Ali al‑Taher, yang selama ini menjadi jaringan terowongan milik hizbullah. Pasukan Israel berhasil merebut dan meledakkan fasilitas tersebut, menewaskan atau memaksa sejumlah pejuang Hizbullah melarikan diri. Kejadian ini memicu gelombang kritik internasional dan menambah tekanan pada pihak Lebanon untuk menegosiasikan penarikan pasukan Israel dari wilayah yang telah diduduki selama beberapa minggu.
Sejak serangan pertama Hizbullah terhadap Israel pada 2 Maret 2026, kelompok militan ini telah melancarkan serangkaian serangan roket dan infiltrasi, didukung secara logistik dan ideologis oleh Iran. Dukungan Tehran mencakup pasokan senjata, pelatihan, serta narasi politik yang mengaitkan perjuangan Hizbullah dengan perjuangan revolusioner Khomeinist di Iran, yang selama dekade terakhir bertransformasi menjadi kekuatan politik “reformis” di dalam negeri. Transformasi tersebut, meski bersifat politis, tetap memberi legitimasi bagi Iran dalam memperluas pengaruhnya di kawasan, termasuk melalui peranannya dalam memfasilitasi aksi militer Hizbullah.
Operasi Israel di Ali al‑Taher tidak hanya menargetkan infrastruktur militer, tetapi juga berdampak pada warga sipil. Laporan saksi mata mengungkapkan bahwa pasukan Israel melakukan penangkapan paksa terhadap tiga warga Lebanon di desa Halta, termasuk seorang anggota dewan kota setempat. Meskipun satu dari mereka dibebaskan pada tengah malam, insiden tersebut menambah daftar korban sipil dan menegaskan taktik Israel yang menggunakan penduduk sebagai tawaran tawar-menawar dalam konflik bersenjata.
Presiden Aoun menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan keamanan warga selatan, memulihkan infrastruktur yang hancur, dan mengembalikan wilayah yang dikuasai Israel. Ia juga menyatakan harapan bahwa proses negosiasi yang difasilitasi oleh Amerika Serikat, termasuk perjanjian kerangka kerja antara Israel dan Lebanon serta memorandum pemahaman antara Amerika Serikat dan Iran, dapat mempercepat penarikan pasukan Israel dan memulihkan stabilitas regional.
Di tengah tekanan internasional, Hizbullah tetap menjadi aktor utama yang mengendalikan jalur perlawanan di selatan Lebanon. Keberadaan jaringan terowongan di bawah punggungan Ali al‑Taher, meski kini sebagian telah dihancurkan, menunjukkan kemampuan logistik dan strategi gerilya yang dimiliki kelompok tersebut. Sementara itu, Iran terus memanfaatkan narasi revolusi Khomeinist untuk memperkuat aliansi dengan Hizbullah, menegaskan bahwa dukungan terhadap kelompok militan merupakan bagian dari agenda geopolitik lebih luas di Timur Tengah.
Upaya diplomatik yang dipimpin oleh Presiden Aoun mencakup rencana untuk menyerahkan posisi-posisi strategis yang dikuasai Hizbullah kepada Angkatan Darat Lebanon, sekaligus menuntut disarmament milisi yang didukung Iran. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi ketegangan di perbatasan selatan, memperkuat kedaulatan negara, dan membuka jalan bagi proses rekonstruksi pasca‑konflik yang melibatkan bantuan internasional.
Ketahanan penduduk Nabatieh dan wilayah selatan lainnya tetap menjadi bukti nyata bahwa masyarakat Lebanon tidak mudah menyerah. Meskipun menghadapi ancaman serangan udara, penangkapan paksa, dan kerusakan infrastruktur, mereka terus berjuang untuk mempertahankan hak atas tanah dan kehidupan yang aman. Kunjungan Presiden Aoun menjadi simbol solidaritas pemerintah dengan rakyat, sekaligus menegaskan pentingnya dialog dan solusi diplomatik dalam mengakhiri konflik yang telah melukai ribuan jiwa di kawasan.
