analitik

Kunjungan Raja Maha Vajiralongkorn ke Hanoi: Titik Balik Diplomasi Vietnam‑Thailand

Ule.co.id – Raja Maha Vajiralongkorn bersama Permaisuri Suthida mengakhiri kunjungan bersejarah ke Hanoi pada 14-16 September, menandai pertama kalinya monarki Thailand menjejakkan kaki di Vietnam sejak hubungan diplomatik kedua negara dibuka pada 1976. Kedatangan mereka tidak hanya menjadi sorotan protokoler, tetapi juga memperkuat agenda kebijakan luar negeri Vietnam yang menekankan keterbukaan, kemandirian, dan diversifikasi hubungan internasional.

Dalam rangka memperingati 50 tahun hubungan bilateral, kunjungan Raja Vajiralongkorn disambut oleh Presiden To Lam dan Sekjen Partai Komunis Vietnam, Tuan Pham Thu Hang, yang menegaskan pentingnya transformasi menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif yang baru saja ditandatangani pada Mei 2025. Pertemuan di Istana Presidensial menyoroti kerja sama di bidang perdagangan, energi, serta keamanan maritim, sekaligus menegaskan komitmen kedua negara untuk menjadi mitra terpercaya dalam forum multilateral.

Baca juga:
Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance Akui Penyelidikan Serangan di Pesta Pernikahan Iran, Tekankan Tidak Menargetkan Warga Sipil

Selain agenda resmi, raja dan permaisuri juga meluangkan waktu mengunjungi Universitas Hanoi, di mana mereka berinteraksi dengan dosen dan mahasiswa. Kunjungan akademik ini mencerminkan keinginan kedua negara memperluas kerjasama pendidikan dan penelitian, terutama dalam bidang teknologi penerbangan—sebuah topik yang relevan mengingat Raja Vajiralongkorn dan Permaisuri Suthida memiliki lisensi pilot komersial dan secara rutin mengoperasikan pesawat Boeing 737 pribadi mereka.

Sejumlah delegasi tinggi Vietnam juga menanggapi kunjungan tersebut dengan menyiapkan paket kerja sama konkret. Di satu sisi, Kementerian Luar Negeri menekankan pentingnya mengubah setiap perjanjian menjadi proyek riil yang dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Di sisi lain, Kementerian Perdagangan menyiapkan draft memorandum of understanding (MoU) yang mencakup ekspor produk pertanian Thailand ke pasar Vietnam, serta kolaborasi dalam pengembangan infrastruktur pelabuhan di sepanjang Selat Malaka‑Sunda.

Keberhasilan kunjungan ini tidak lepas dari konteks diplomasi tingkat tinggi yang baru-baru ini dijalankan Vietnam. Pada bulan September yang sama, Presiden To Lam melakukan kunjungan ke Rusia dan Prancis untuk menghadiri KTT Antariksa Internasional, sementara Perdana Menteri Lê Minh Hưng menghadiri KTT BRICS di India. Selain itu, Ketua DPR Trần Thanh Mẫn melakukan kunjungan ke Korea Selatan dan Mongolia, dan anggota tetap Sekretariat Partai Trần Cẩm Tú mengunjungi Singapura. Serangkaian misi tersebut menegaskan kebijakan luar negeri Vietnam yang menekankan diversifikasi kemitraan, multilateralitas, serta peran strategis dalam menggerakkan sumber daya untuk pembangunan nasional.

Para analis menilai bahwa kunjungan Raja Vajiralongkorn memperkuat citra Vietnam sebagai negara yang mampu mengakomodasi peran strategis monarki konstitusional dalam kerangka hubungan bilateral. Dalam pernyataan resmi, Spokeswoman Kementerian Luar Negeri Pham Thu Hang menekankan bahwa kunjungan tersebut “menjadi momen historis yang menegaskan komitmen bersama untuk memperkuat perdamaian, persahabatan, dan kemakmuran regional”.

Baca juga:
Shin Tae‑yong Puaskan Taktik, Persija Dominasi Police Tero 2‑1 dalam Persija vs Police Tero Uji Coba di Bangkok

Di samping dimensi politik, kunjungan juga menyoroti aspek teknis penerbangan. Pada 9 September, Otoritas Penerbangan Sipil Thailand mengumumkan bahwa Raja Vajiralongkorn dan Permaisuri Suthida telah lulus serangkaian pemeriksaan kompetensi, termasuk pembaruan tipe rating untuk Boeing 737-300 hingga 737-900, serta kualifikasi navigasi berbasis performa. Permaisuri Suthida, mantan pramugari maskapai JALways dan Thai Airways, memiliki lisensi pilot komersial dengan rating Boeing 737 yang diperoleh di Jerman, sementara Raja Vajiralongkorn pernah terbang dengan jet tempur F‑5 dan F‑16 sebelum memperoleh lisensi komersial pada tahun 2004.

Keberhasilan diplomasi ini juga mendapat sorotan dari komunitas investasi internasional. Pada 17 September, Perdana Menteri Lê Minh Hưng menyambut kedatangan CEO FTSE Russell Fiona Bassett beserta delegasi lembaga keuangan global. Diskusi mencakup peluang pengembangan pasar modal Vietnam, yang kini tidak lagi terbatas pada bursa domestik, melainkan menargetkan integrasi dengan bursa internasional. Kegiatan ini selaras dengan kebijakan Vietnam untuk meningkatkan konektivitas logistik, menurunkan biaya transportasi menjadi di bawah 12% PDB pada 2030, serta memperkuat jaringan multimodal.

Secara keseluruhan, kunjungan Raja Maha Vajiralongkorn ke Hanoi menandai titik balik dalam hubungan Vietnam‑Thailand. Dengan menekankan kerja sama praktis, memperluas jaringan pendidikan, dan mengintegrasikan keahlian teknis penerbangan, kedua negara memperlihatkan komitmen untuk menjadikan kemitraan strategis tidak sekadar simbolis, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi dan stabilitas kawasan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *