analitik

10 Sumur Bor Baru Dibangun Atasi Karhutla Anggaran Rp 3 Juta per Titik, Solusi Air untuk Pemadaman di Palangka Raya

Ule.co.id – 10 Sumur Bor Baru Dibangun Atasi Karhutla Anggaran Rp 3 Juta per Titik menjadi langkah strategis Pemerintah Kota Palangka Raya dalam memperkuat sumber air bagi operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBP) Kota Palangka Raya, Hendrikus Satriya Budi, mengungkapkan bahwa sebanyak sepuluh sumur bor telah selesai dibangun pada tahun 2026, menyasar area rawan kebakaran di wilayah perkotaan dan sekitarnya.

Proyek pembangunan sumur bor ini dilaksanakan secara bertahap melibatkan berbagai unsur, termasuk BPBD, TNI, Polri, serta tim pemadam kebakaran Manggala Agni. Setiap unit bertanggung jawab memasang sumur bor di lokasi yang diprioritaskan, kemudian BPBD akan menginventarisasi seluruh titik agar data dapat dipantau secara terpadu. “Kalau dihitung jumlahnya mungkin banyak, karena kami buat, TNI buat, Polri buat, Manggala Agni juga buat. Kami tinggal merekapnya saja nanti,” ujar Hendrikus dalam konferensi pers pada Kamis (24/9/26).

Baca juga:
detikcom: Kilas Balik Berita Terkini dari Sumsel hingga Barcelona
➜

Biaya pembangunan satu titik sumur bor dengan pipa berdiameter dua inci kini mencapai sekitar Rp 3 juta, meningkat dari kisaran Rp 2,5 juta sebelumnya. Anggaran tersebut mencakup pengadaan pipa, pompa, serta instalasi listrik sederhana yang memungkinkan aliran air stabil ke lokasi pemadaman. “Untuk satu titik sebesar tiga juta rupiah. Kalau pipa satu setengah incinya biasanya kisarannya Rp 2 juta,” jelasnya.

Lokasi sumur bor pertama berada di sekitar posko pemadaman, di mana dua titik sumur dipasang untuk mengisi embung kecil. Embung tersebut berfungsi sebagai penampung air yang selanjutnya dipompa ke mobil tangki pemadam, memastikan pasokan air tidak terhambat meski kebakaran terjadi jauh dari sumber air alami. Selain posko, sumur bor juga dibangun di kawasan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Kilometer 14, area yang dikenal rawan karena titik api sering muncul di sisi kiri, kanan, dan belakang TPA.

Di Tabat Kalsa, sumur bor baru melengkapi jaringan air yang sebelumnya mengandalkan sumur tua. Sementara di Petuk Ketimpun, pembangunan sumur dipimpin oleh personel TNI dengan material yang disiapkan oleh BPBD, menegaskan kolaborasi lintas institusi dalam penanggulangan karhutla. “Kebutuhan sumber air menjadi bagian penting dalam memperkuat operasi pemadaman, terutama ketika kebakaran terjadi jauh dari sumber air yang mudah dijangkau,” kata Hendrikus.

Dengan total sepuluh sumur bor baru, diharapkan waktu respons pemadam kebakaran dapat dipercepat, mengurangi luas lahan yang terbakar, serta menurunkan risiko penyebaran api ke pemukiman. Data inventarisasi yang sedang dikumpulkan BPBD akan menjadi acuan untuk penambahan sumur di masa depan, menyesuaikan dengan pola kebakaran yang terus berubah akibat perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Baca juga:
Pemkab Pulang Pisau Perkuat Koordinasi Penanganan Karhutla untuk Mencegah Kebakaran Hutan
➜

Penguatan infrastruktur air ini sejalan dengan program pemerintah daerah yang menargetkan penurunan angka karhutla secara signifikan dalam lima tahun ke depan. Upaya tersebut meliputi edukasi masyarakat tentang bahaya pembakaran lahan, penegakan hukum yang lebih tegas, serta peningkatan kapasitas aparat pemadam kebakaran melalui pelatihan dan peralatan modern.

Keberhasilan pembangunan 10 Sumur Bor Baru Dibangun Atasi Karhutla Anggaran Rp 3 Juta per Titik menjadi contoh konkret sinergi antara pemerintah, militer, kepolisian, dan lembaga penanggulangan bencana. Jika dikelola dengan baik, jaringan sumur ini dapat menjadi tulang punggung strategi mitigasi kebakaran hutan di Palangka Raya, memberikan rasa aman bagi warga sekaligus melindungi ekosistem hutan yang masih lestari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *