Panda Bond Segera Terbit, Purbaya Sebut Yield Lebih Kompetitif dari Dim Sum Bond
JAKARTA, Ule.co.id – Pemerintah Indonesia bersiap menerbitkan Panda Bond bulan depan sebagai bagian dari strategi diversifikasi pembiayaan negara. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut instrumen surat utang berdenominasi Yuan tersebut memiliki daya tarik lebih besar dibandingkan Dim Sum Bond karena menawarkan imbal hasil atau yield yang lebih kompetitif.
Purbaya mengatakan Panda Bond diproyeksikan memberikan biaya pendanaan yang lebih rendah dibandingkan penerbitan obligasi serupa di pasar internasional lainnya.
“Kalau bunganya lebih rendah, kan hemat kita,” ujar Purbaya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin.
Menurut dia, Panda Bond menjadi salah satu alternatif pembiayaan yang potensial karena kondisi pasar keuangan China saat ini menawarkan tingkat yield yang relatif rendah.
Yield Panda Bond Dinilai Lebih Kompetitif
Purbaya menjelaskan yield Panda Bond yang ditawarkan di pasar keuangan China saat ini berada pada kisaran 2,3 persen hingga 2,5 persen.
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan yield Dim Sum Bond yang sebelumnya berada pada rentang 2,5 persen hingga 2,9 persen.
Perbedaan tingkat imbal hasil itu dinilai menguntungkan pemerintah Indonesia karena dapat menekan biaya utang sekaligus memperkuat efisiensi pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Panda Bond nantinya akan menawarkan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan Dim Sum Bond,” kata Purbaya.
Dengan biaya pinjaman yang lebih murah, pemerintah berharap dapat memperoleh ruang fiskal yang lebih baik di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang terus meningkat.
Panda Bond Jadi Strategi Diversifikasi Pembiayaan
Penerbitan Panda Bond disebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas sumber pendanaan dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Selama ini, sebagian besar pembiayaan global Indonesia masih didominasi instrumen berbasis dolar AS.
Melalui Panda Bond, pemerintah ingin memperkuat diversifikasi portofolio pembiayaan agar struktur utang negara lebih seimbang dan tidak terlalu bergantung pada satu mata uang tertentu.
Menurut Purbaya, diversifikasi pembiayaan penting untuk menjaga ketahanan APBN terhadap gejolak ekonomi global dan volatilitas pasar keuangan internasional.
“Penerbitan obligasi ini bakal menambah diversifikasi portofolio RI sehingga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS,” ujarnya.
Ia menilai strategi tersebut akan membantu memperkuat fondasi fiskal Indonesia dalam jangka panjang.
Pemerintah Siap Tambah Penerbitan Jika Permintaan Tinggi
Meski belum menentukan target jumlah penerbitan Panda Bond, Purbaya mengaku telah memberikan arahan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto untuk memanfaatkan tingginya minat pasar apabila permintaan investor besar.
Ia mengatakan pemerintah siap meningkatkan jumlah penerbitan apabila respons pasar China terhadap Panda Bond sangat positif.
“Saya bilang ke Pak Minto kalau banyak peminatnya, perbanyakkan di situ,” kata Purbaya.
Langkah tersebut dinilai realistis mengingat pasar keuangan China memiliki tingkat likuiditas tinggi dan kapasitas investor yang besar.
Pemerintah berharap penerbitan Panda Bond mampu menarik minat investor institusional di China yang selama ini aktif mencari instrumen investasi dengan fundamental ekonomi kuat.
China Dinilai Percaya pada Fundamental Ekonomi Indonesia
Purbaya menilai pasar China memiliki kepercayaan cukup tinggi terhadap kondisi fundamental ekonomi Indonesia.
Menurut dia, penilaian investor China terhadap Indonesia tidak terlalu rentan dipengaruhi perubahan peringkat kredit global.
Faktor tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah optimistis Panda Bond dapat diterima baik di pasar keuangan China.
Selain itu, China dinilai memiliki kapasitas likuiditas yang memadai untuk menyerap instrumen surat utang pemerintah Indonesia dalam jumlah besar.
“China memiliki likuiditas yang memadai serta pasar keuangan berkapasitas besar sehingga diyakini mampu menyerap instrumen utang pemerintah Indonesia,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuka peluang baru bagi Indonesia untuk memperoleh sumber pembiayaan yang lebih kompetitif di tengah dinamika pasar global.
ICBC Disebut Siap Berpartisipasi
Dalam proses persiapan penerbitan Panda Bond, pemerintah Indonesia juga telah melakukan komunikasi dengan sejumlah lembaga keuangan besar di China.
Purbaya mengungkapkan dirinya telah bertemu dengan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC).
Dalam pertemuan tersebut, pihak China disebut menyatakan kesiapan untuk ikut berpartisipasi dalam penerbitan Panda Bond Indonesia.
Dukungan dari institusi keuangan besar seperti ICBC dipandang menjadi sinyal positif terhadap prospek penerbitan surat utang tersebut.
Selain memperkuat peluang sukses penerbitan, dukungan investor China juga dapat memperluas akses pembiayaan Indonesia di pasar internasional.
Indonesia Buka Peluang China Terbitkan Obligasi di Pasar Domestik
Sebagai bagian dari penguatan kerja sama keuangan bilateral, pemerintah Indonesia juga membuka peluang bagi China untuk menerbitkan surat utang atau obligasi di pasar domestik Indonesia.
Langkah tersebut dinilai dapat mempererat hubungan ekonomi dan meningkatkan integrasi pasar keuangan kedua negara.
Selain itu, kerja sama tersebut juga membuka ruang pertukaran instrumen investasi lintas pasar yang lebih luas di masa depan.
Penerbitan Panda Bond sendiri dipandang sebagai langkah strategis pemerintah dalam menjaga fleksibilitas pembiayaan negara sekaligus memperkuat ketahanan fiskal menghadapi ketidakpastian ekonomi global.
Dengan yield yang lebih kompetitif dibandingkan Dim Sum Bond, Panda Bond diperkirakan menjadi salah satu instrumen pembiayaan yang akan mendapat perhatian besar dari pelaku pasar internasional dalam waktu dekat.

