Presiden Iran Masoud Pezeshkian Nilai Saat Ini Tepat untuk Mengakhiri Perang dengan AS, Tekankan Posisi Kuat Tehran
Ule.co.id – Presiden Iran Masoud Pezeshkian nilai saat ini tepat untuk mengakhiri perang dengan AS [titlebase] dan menegaskan bahwa Tehran berada dalam posisi kuat serta bermartabat untuk menuntaskan konflik yang telah berlangsung berbulan‑bulan. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah pertemuan dengan para dokter di ibu kota pada Jumat, 21 Agustus 2026, sekaligus menjadi respons atas tekanan internasional dan ancaman sanksi ekonomi yang dijanjikan Washington.
Menurut Pezeshkian, dunia telah mengakui kemenangan Iran dalam konfrontasi tersebut dan menyoroti serangan Amerika yang menargetkan fasilitas sipil seperti sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur penting. “Seluruh dunia mengakui kemenangan kami dan menegaskan bahwa Amerika telah menyerang sekolah, rumah sakit, serta infrastruktur kami, yang merupakan pelanggaran terhadap seluruh aturan dan membuatnya dibenci di seluruh dunia,” ujarnya. Ia menolak anggapan bahwa Iran menyerah pada tuntutan Washington, menegaskan tidak ada satu pun klausul dalam nota kesepahaman (MoU) yang menandakan penyerahan diri.
Nota kesepahaman yang ditandatangani pada bulan Juni lalu menjadi pusat perdebatan. Sementara beberapa faksi garis keras di parlemen Iran mengkritik pemerintah karena dianggap memberikan konsesi berlebih kepada AS, Pezeshkian menegaskan bahwa semua komitmen dalam MoU merupakan tanggung jawab pihak lain, bukan bentuk penyerahan diri. Ia menambahkan, “Mereka bahkan tidak dapat menemukan satu pun klausul dalam kesepakatan ini yang menunjukkan adanya penyerahan diri. Seluruh komitmen justru menjadi tanggung jawab pihak lain.”
Di sisi lain, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Iran, Mayor Jenderal Ali Abdollahi, mengeluarkan peringatan keras bahwa militer Iran tetap siap merespons setiap ancaman baru. “Dengan kesiapan di darat, laut, udara, pertahanan udara, dan ruang siber, angkatan bersenjata Iran akan merespons ancaman baru dari musuh dengan tindakan balasan yang menghancurkan, keras, dan melumpuhkan,” kata Abdollahi, menegaskan kesiapan militer meski nota kesepahaman telah berakhir beberapa hari sebelumnya.
Pernyataan gabungan antara seruan damai dan kesiapan militer mencerminkan dinamika politik dalam sistem pemerintahan Iran, di mana presiden mengelola urusan sehari‑hari sementara Pemimpin Tertinggi memiliki otoritas tertinggi dalam kebijakan pertahanan. Kondisi ini menambah kompleksitas proses negosiasi dengan AS, yang sekaligus menyiapkan sanksi ekonomi besar‑besaran untuk menekan Tehran.
- Washington mengumumkan rencana sanksi ekonomi yang menargetkan sektor energi, perbankan, dan perdagangan luar negeri Iran.
- Pejabat AS menegaskan bahwa sanksi tersebut akan menjadi isolasi ekonomi terkoordinasi terbesar dalam sejarah.
- Iran menuduh AS melakukan “terorisme ekonomi” dan “kejahatan terhadap kemanusiaan”.
Pasar minyak global merespons ketegangan ini dengan fluktuasi harga. Pada perdagangan Jumat, 21 Agustus, harga Brent naik 61 sen menjadi US$94,39 per barel, sementara WTI naik 23 sen menjadi US$87,06 per barel. Meskipun kenaikan masih lebih kecil dibandingkan lonjakan sebelumnya, volatilitas tetap tinggi karena ketidakpastian mengenai kelanjutan blokade Selat Hormuz dan potensi eskalasi militer.
Para analis energi menilai bahwa sinyal damai dari Pezeshkian dapat menurunkan tekanan pada pasar, namun pernyataan militer Iran menahan optimisme. “Harga minyak masih jauh di bawah puncaknya pada saat perang pecah, namun ketegangan di wilayah Timur Tengah tetap menjadi faktor risiko utama,” ujar Helima Croft, Managing Director di RBC Capital Markets.
Di dalam negeri, dukungan publik terhadap kebijakan Pezeshkian tampak beragam. Sebagian mengapresiasi keberanian pemerintah menuntut keadilan atas serangan sipil, sementara kelompok lain menilai bahwa Iran harus tetap bersikap tegas dan tidak mengorbankan kedaulatan demi tekanan luar.
Dengan catatan sejarah panjang konflik antara Tehran dan Washington, pernyataan Presiden Iran Masoud Pezeshkian nilai saat ini tepat untuk mengakhiri perang dengan AS [titlebase] menandai fase baru dalam diplomasi regional. Apakah MoU akan berujung pada perjanjian final atau justru memicu spiral baru tergantung pada langkah-langkah selanjutnya dari kedua belah pihak, termasuk respons militer, kebijakan sanksi, dan dinamika politik internal masing‑masing.
Sejauh ini, Tehran tetap menutup sebagian Selat Hormuz, menghambat aliran minyak dunia, sementara Washington melanjutkan operasi blokade balasan. Kedua negara tampak berada pada titik impas, menunggu sinyal kuat yang dapat membuka jalan bagi perdamaian yang berkelanjutan atau memicu konflik lebih luas.

