analitik

IHSG Anjlok 1,43% ke 6.541,37: Dampak Harga Minyak, Konflik Timur Tengah, dan Yield US Treasury

Ule.co.id – IHSG anjlok pada perdagangan minggu ini, mencatat penurunan 1,43% menjadi 6.541,37 poin, dipicu lonjakan harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Penurunan ini sekaligus menandai penurunan harian sebesar 0,73% pada sesi Jumat, 11 September 2026, menambah tekanan pada sentimen pasar modal Indonesia.

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan kapitalisasi pasar terpangkas 1,32% menjadi Rp 11.446 triliun, sementara rata‑rata nilai transaksi harian turun 14,88% menjadi Rp 16,36 triliun. Volume transaksi saham harian juga menyusut 26,34% menjadi 36,09 miliar lembar, dan frekuensi transaksi harian berkurang 7,07% menjadi 2,22 juta kali. Aktivitas perdagangan pada hari Jumat tercatat 30,40 miliar lembar saham dengan nilai transaksi Rp 14,6 triliun, dipicu oleh dominasi 453 saham yang berakhir di zona merah.

Baca juga:
Pengumuman MSCI Segera Dirilis, OJK Berharap Kepastian untuk Saham Indonesia

Para analis menilai bahwa faktor utama yang memicu IHSG anjlok adalah kenaikan tajam harga minyak mentah dunia. Konflik yang berkepanjangan di Timur Tengah serta serangan terhadap infrastruktur energi di Arab Saudi mendorong harga minyak melewati batas US$100 per barel. Pada saat yang sama, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik 11 basis poin menjadi 4,954%, menambah beban valuasi saham di pasar global.

Herditya Wicaksana dari PT MNC Sekuritas menekankan bahwa selain harga minyak, data inflasi Amerika Serikat turut memperkuat ekspektasi kebijakan hawkish The Fed. Producer Price Index (PPI) AS naik 0,4% MoM dan 5,4% YoY, sementara konsensus Consumer Price Index (CPI) diproyeksikan 3,4%. Probabilitas kenaikan suku bunga Fed diperkirakan mencapai 71%.

Di sisi domestik, cadangan devisa Indonesia tercatat US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, memberikan bantalan bagi nilai tukar rupiah yang menguat menjadi 17.645 per dolar AS. Namun, inflasi Agustus 2026 masih berada pada 0,21% bulanan (3,19% YoY, 1,86% YTD), menambah tekanan pada kebijakan moneter Bank Indonesia.

Investor asing beralih ke aksi jual, mencatatkan arus keluar sebesar Rp 3,36 triliun pada pekan ini, berbanding terbalik dengan pembelian Rp 2,3 triliun pada pekan sebelumnya. Sementara itu, data pasar domestik menunjukkan penurunan pada hampir seluruh sektor, dengan sektor energi turun 1,22%, diikuti sektor barang baku, konsumer non‑primer, dan finansial.

Baca juga:
Jelang Putusan Terbaru MSCI, Investor Perlu Pantau Kelayakan Investasi Indonesia

Secara teknikal, IHSG berada dalam fase downtrend. Setelah menembus level koreksi 6.502, analis memperkirakan level support selanjutnya berada di kisaran 6.448. Jika tekanan jual berlanjut, risiko penurunan lebih dalam tetap mengintai.

Berikut ringkasan data utama pada penutupan Jumat:

Indikator Nilai
IHSG 6.541,37 (-0,73%)
Kapitalisasi Pasar Rp 11.446 triliun (-1,32%)
Volume Saham 30,40 miliar lembar
Nilai Transaksi Rp 14,6 triliun
Saham Merah 453
Saham Hijau 183
Rupiah/USD 17.645
Harga Minyak >US$100/barel
Yield 10‑yr US Treasury 4,954%

Dengan tekanan eksternal yang terus berlanjut, para pelaku pasar diimbau untuk memperhatikan perkembangan geopolitik, kebijakan moneter global, serta data ekonomi domestik yang dapat memengaruhi likuiditas dan sentimen investor.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *