analitik

Lonjakan Sewa Inggris dan Risiko Hipotek di AS Dipicu Kenaikan Mortgage Rates

Ule.co.id – Peningkatan mortgage rates kini menjadi faktor utama yang mengubah dinamika pasar properti di Inggris dan Amerika Serikat. Di Inggris, kenaikan suku bunga hipotek memaksa calon pembeli pertama tetap menyewa lebih lama, menurunkan pasokan properti sewa dan mendorong harga sewa naik tajam. Sementara itu, di Amerika Serikat, mortgage rates yang lebih tinggi membuat sebagian pembeli beralih ke produk hipotek berisiko, menambah ketidakpastian pasar.

Menurut laporan terbaru portal properti Zoopla, permintaan sewa di Inggris meningkat signifikan pada kuartal kedua 2026. Rata‑rata sewa bulanan mencapai £1.340, naik 2,6 % dibandingkan Februari 2026. Zoopla memperkirakan pertumbuhan tahunan sewa akan mencapai 4‑5 % menjelang akhir tahun, dipicu oleh penurunan pasokan properti sewa sebesar 3 % dibandingkan tahun sebelumnya. Wilayah Yorkshire dan Humber mencatat penurunan pasokan sebesar 12 %, sementara London turun 6 %.

Baca juga:
Binance USDC Raih APR 7%: Strategi Baru binance exchange untuk Pengguna Crypto dan TradFi

Richard Donnell, Executive Director Zoopla, menegaskan bahwa mortgage rates yang lebih tinggi tidak hanya menekan pasar penjualan, tetapi juga memperpanjang masa tinggal penyewa. “Semakin sedikit rumah yang tersedia untuk disewa, semakin kuat tekanan pada kenaikan harga,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa meski ada peningkatan permintaan, kemampuan finansial penyewa tetap menjadi batas utama pertumbuhan sewa.

Data tambahan menunjukkan bahwa pada Agustus 2026, jumlah properti yang tersedia untuk disewa turun 6 % dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, rata‑rata pertanyaan per iklan sewa mencapai 5,3, level tertinggi dalam hampir dua tahun, menandakan intensitas permintaan yang tinggi.

  • Rata‑rata sewa bulanan: £1.340
  • Pertumbuhan sewa tahunan Juli 2026: 2,6 %
  • Penurunan pasokan sewa tahun 2026: 3 %
  • Proyeksi pertumbuhan sewa akhir 2026: 4‑5 %

Di sisi lain, pasar hipotek Amerika menunjukkan tren yang berbeda namun terkait. Menurut data Mortgage Bankers Association (MBA), aplikasi hipotek turun 2,7 % pada minggu berakhir 4 September 2026. Suku bunga tetap 30‑tahun naik dari 6,79 % menjadi 6,85 %, sementara suku bunga jumbo mencapai 7,08 %.

Penurunan aplikasi ini memicu pergeseran perilaku pembeli. Lebih banyak konsumen kini mempertimbangkan hipotek dengan suku bunga dapat disesuaikan (ARM), yang awalnya lebih rendah namun berpotensi naik di masa depan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan peningkatan risiko gagal bayar, mengingat suku bunga ARM sempat turun menjadi 5,82 % dari 5,94 % sebelumnya.

Joel Kan, Wakil Presiden dan Deputi Kepala Ekonom MBA, menyatakan, “Kenaikan mortgage rates terus menahan niat pembeli rumah, meski inventaris properti meningkat di banyak pasar.” Ia menambahkan bahwa tekanan suku bunga dapat memperpanjang periode penyewaan di pasar Inggris dan memperburuk eksposur risiko di pasar hipotek AS.

Baca juga:
Jelang Putusan Terbaru MSCI, Investor Perlu Pantau Kelayakan Investasi Indonesia

Fenomena ini menyoroti keterkaitan global antara kebijakan moneter, suku bunga hipotek, dan dinamika pasar properti. Di Inggris, kebijakan Bank of England yang menaikkan suku bunga untuk mengekang inflasi secara tidak langsung memicu krisis pasokan sewa. Di Amerika, Federal Reserve yang menyesuaikan suku bunga acuan menciptakan iklim di mana konsumen mencari solusi hipotek yang lebih murah di muka namun berisiko di masa depan.

Pengamat ekonomi menekankan pentingnya kebijakan yang menyeimbangkan antara menurunkan inflasi dan menjaga kestabilan pasar properti. Jika mortgage rates terus berada pada level tinggi, tekanan pada penyewa Inggris dapat memicu krisis keterjangkauan, sementara di Amerika risiko hipotek berisiko dapat meningkatkan tingkat kebangkrutan rumah.

Para penyewa dan calon pembeli diharapkan terus memantau perkembangan suku bunga serta kebijakan pemerintah yang dapat mempengaruhi ketersediaan dan biaya hunian. Sementara itu, investor properti harus menilai kembali strategi mereka mengingat volatilitas pasar yang dipicu oleh fluktuasi mortgage rates ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *