analitik

Saham BMRI Melonjak Usai Reshuffle Menkeu: Apa Artinya Bagi Investor?

Ule.co.id – Setelah reshuffle Menteri Keuangan pada 14 September 2026, saham BMRI mencatat kenaikan 1,84% dan menutup pada level Rp4.440 per lembar, menandai respons positif pasar terhadap pergantian pimpinan fiskal. Kenaikan tersebut terjadi meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hanya sedikit turun 0,1% ke 6.534,69, menunjukkan bahwa sektor perbankan mampu menahan tekanan bearish.

Penggantian Purbaya Yudhi Sadewa oleh Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan disambut hangat oleh pelaku pasar. Saham-saham bank Himbara (Bank Indonesia, Bank Mandiri, BRI, BNI, BTN, dan BRIS) berbondong-bondong menguat, dengan BBRI memimpin naik 3,98% menjadi Rp3.400, diikuti BBTN naik 3,40%, BBNI 3,20%, dan BRIS 0,58%. Bahkan BBCA, yang bukan termasuk bank pelat merah, turut menguat 2,77% ke Rp6.500.

Baca juga:
Farizon Resmi Rakit Mobil di Indonesia, Ini Model Pertamanya

Data perdagangan pada sesi pertama menunjukkan net foreign sell sebesar Rp383,65 miliar, dengan BMRI menjadi saham paling banyak dijual oleh investor asing, mencatat penjualan Rp176,97 miliar. Penjualan ini diikuti oleh BBRI (Rp95,40 miliar) dan BBNI (Rp46,30 miliar). Total nilai transaksi pasar hari itu mencapai Rp7,15 triliun dengan volume 16,75 miliar lembar saham.

Berikut rangkuman pergerakan utama saham perbankan pada hari Senin, 14 September 2026:

Saham Perubahan Harga Penutupan (Rp)
BBRI +3,98% 3.400
BBTN +3,40% 1.215
BBNI +3,20% 3.800
BMRI +1,84% 4.440
BRIS +0,58% 1.725
BBCA +2,77% 6.500

Meski BMRI mengalami tekanan jual asing, kenaikan harga internal menandakan adanya dukungan beli domestik yang kuat. Analis pasar menilai bahwa sentimen positif dapat bertahan asalkan kebijakan fiskal yang baru mengarah pada stabilitas makroekonomi dan tidak menimbulkan ketidakpastian regulasi.

Beberapa analis menyoroti bahwa sektor keuangan masih berada di zona merah, dengan penurunan rata-rata 1,31% pada indeks sektoral keuangan. Namun, aksi beli yang terpusat pada saham-saham besar seperti BMRI dan BBRI mengindikasikan adanya pergeseran sentimen jangka pendek.

Berikut beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelanjutan penguatan saham perbankan:

Baca juga:
Dubes Pakistan RI Punya Peran Penting Dorong Resolusi Kashmir, Apa yang Diharapkan?
  • Kebijakan fiskal baru: Rencana reformasi perpajakan dan alokasi anggaran APBN yang diusulkan oleh Menteri Keuangan baru dapat meningkatkan likuiditas pasar.
  • Sentimen investor domestik: Kenaikan suku bunga Bank Indonesia yang moderat serta ekspektasi pertumbuhan ekonomi Q3 yang stabil.
  • Arus modal asing: Penurunan net foreign sell di sektor keuangan dapat membuka ruang bagi pembelian kembali oleh investor institusional.

Dalam perspektif teknikal, grafik harian BMRI menunjukkan pola bullish dengan moving average 20 hari berada di atas moving average 50 hari, serta RSI berada pada level 58, menandakan momentum masih positif. Namun, level resistance terdekat berada di Rp4.600, sementara support kuat berada di Rp4.300.

Para trader yang mengadopsi strategi “wait and see” disarankan untuk memperhatikan pergerakan IHSG. Jika indeks berhasil menembus level resistance 6.550, potensi rebound pada saham perbankan, termasuk BMRI, akan semakin kuat. Sebaliknya, kegagalan menembus level tersebut dapat memicu koreksi kembali ke zona 6.450‑6.500.

Secara fundamental, BMRI mencatat laba bersih kuartal II 2026 sebesar Rp12,3 triliun, naik 7% YoY, didukung oleh peningkatan margin bunga bersih dan penurunan rasio NPL. Posisi likuiditas yang kuat dengan LDR 73% dan CAR 18,5% memberikan bantalan yang cukup untuk menghadapi volatilitas pasar.

Kesimpulannya, meskipun BMRI menjadi target penjualan asing terbesar pada sesi tersebut, dukungan internal dan prospek kebijakan fiskal baru dapat menjaga tren naiknya dalam jangka menengah. Investor disarankan tetap memantau data ekonomi makro dan kebijakan Menteri Keuangan yang baru untuk menilai kelanjutan momentum bullish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *