analitik

Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO akui Barat kesulitan mengimbangi Rusia

PALANGKA RAYA, Ule.co.id – Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO akui Barat kesulitan mengimbangi Rusia dalam hal produksi persenjataan. Laksamana Pierre Vandier, Supreme Allied Commander Transformation NATO, mengakui bahwa Barat menghadapi tantangan serius dalam perlombaan persenjataan modern. Menurut Vandier, sistem senjata dan industri pertahanan negara-negara Barat tidak lagi dirancang untuk menghadapi perang berintensitas tinggi seperti yang terjadi di Ukraina maupun ketegangan yang meluas di Timur Tengah.

Vandier menyampaikan peringatan tersebut beberapa hari setelah para pemimpin NATO menyepakati investasi pertahanan baru bernilai puluhan miliar dolar AS. Dalam wawancara dengan Fox News, Vandier mengakui bahwa keunggulan produksi persenjataan kini tidak lagi berada di pihak Barat. "Hari ini, hitung-hitungan matematis tidak berpihak kepada Barat," kata Vandier.

Baca juga:

Perang Rusia-Ukraina telah menguji batas kemampuan sistem pertahanan udara Barat yang selama ini dibangun untuk menghadapi jumlah ancaman yang jauh lebih sedikit. Ribuan drone murah, rudal jelajah, hingga rudal balistik yang diluncurkan Rusia secara berulang telah memaksa NATO untuk memperkuat kemampuan menghadapi serangan drone. Dalam KTT NATO di Ankara, Turki, NATO berkomitmen membeli sekitar 900 rudal Patriot dan mengalokasikan lebih dari 40 miliar dolar AS selama lima tahun untuk memperkuat kemampuan menghadapi serangan drone.

Namun, bagi Vandier, langkah itu belum cukup. Menurut dia, persoalan terbesar justru terletak pada model industri pertahanan Barat yang tidak mampu memproduksi senjata dalam jumlah besar dengan biaya yang efisien. "Tidak mungkin memproduksi 50.000 rudal Patriot dalam setahun. Kita tidak memiliki rantai pasok yang mendukungnya, dan secara ekonomi itu tidak masuk akal," ujarnya.

Baca juga:

Vandier menilai NATO harus meninggalkan paradigma lama yang mengandalkan rudal pencegat berharga jutaan dolar untuk menghancurkan drone yang nilainya hanya puluhan ribu dolar. Ia mengusulkan pendekatan pertahanan berlapis. Drone, amunisi berkeliaran, dan sasaran murah lainnya harus dihadapi menggunakan senjata berbiaya rendah yang dapat diproduksi secara massal. Sementara rudal Patriot dan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) tetap difokuskan untuk menghadapi ancaman strategis seperti rudal balistik.

Sebagai contoh, Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO akui Barat kesulitan mengimbangi Rusia dalam hal produksi persenjataan. Hal ini menunjukkan bahwa NATO perlu memperbarui strategi pertahanannya untuk menghadapi ancaman modern. Dengan demikian, Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO akui Barat kesulitan mengimbangi Rusia menjadi isu penting yang perlu diselesaikan oleh NATO.

Baca juga:

Di sisi lain, Beranggotakan 32 negara, jenderal NATO akui Barat kesulitan mengimbangi Rusia juga menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan NATO dalam menghadapi ancaman di masa depan. Apakah NATO dapat memperbarui strategi pertahanannya untuk menghadapi ancaman modern? Atau apakah NATO akan terus menghadapi kesulitan dalam mengimbangi Rusia? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu dijawab oleh NATO untuk memastikan keamanan dan stabilitas di wilayahnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *