Irak vs Oman: Ketegangan Penerbangan Iran Memicu Perubahan Rute di Timur Tengah
Ule.co.id – Ketegangan irak vs oman kembali menjadi sorotan utama setelah sanksi Amerika Serikat terhadap maskapai Iran menimbulkan gangguan signifikan pada layanan penerbangan regional. Pada 23 September 2026, perusahaan ground handling di Bandara Internasional Baghdad menghentikan layanan kepada pesawat Iran karena khawatir terkena sanksi sekunder, sementara otoritas penerbangan Irak dan Oman belum memberikan pernyataan resmi terkait langkah tersebut.
Menurut laporan resmi dari Kementerian Transportasi Irak, tidak ada perintah langsung untuk menutup jalur penerbangan Iran‑Baghdad. Namun, dua sumber tak bernama yang memberi keterangan kepada Reuters menyatakan bahwa otoritas penerbangan sipil Irak telah memerintahkan penangguhan penerbangan Iran mulai 23 September. Sementara itu, pihak bandara di Najaf menyatakan belum menerima instruksi penutupan, sehingga penerbangan Iran‑Najaf tetap beroperasi sesuai jadwal.
Di sisi lain, Otoritas Penerbangan Sipil Iran mengumumkan pembatalan rute Tehran‑Baghdad dan Tehran‑Muscat setelah sanksi AS diterapkan pada 27 maskapai Iran. Majid Akhavan, juru bicara organisasi tersebut, menyebutkan bahwa bandara di Baghdad dan Muscat akan berhenti melayani penerbangan Iran mulai tengah malam waktu setempat, dan upaya pengalihan ke Najaf sedang dibahas. Sementara itu, laporan media lokal menegaskan bahwa negosiasi dengan pihak Oman masih berlangsung, namun belum ada kepastian mengenai jadwal penerbangan selanjutnya.
Sanksi sekunder yang diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa perusahaan asing yang menyediakan bahan bakar, layanan pendaratan, atau penjualan tiket kepada maskapai Iran dapat dikenai pemutusan akses ke sistem dolar. Kebijakan ini, yang merupakan bagian dari rangkaian tekanan ekonomi terhadap Tehran setelah konflik militer antara AS‑Israel dan Iran, secara efektif memaksa perusahaan ground handling di negara-negara lain untuk menolak layanan kepada pesawat Iran demi menghindari denda atau pembekuan aset.
Akibatnya, industri penerbangan regional menghadapi tantangan logistik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Bandara Baghdad, yang sebelumnya menjadi hub penting bagi penerbangan antara Timur Tengah dan Asia, kini harus menyesuaikan operasionalnya. Sementara itu, Oman, yang mengelola Bandara Internasional Muscat, juga berada di bawah tekanan untuk menegakkan sanksi tanpa mengganggu arus penumpang internasional lainnya. Pengalihan penerbangan Iran ke Najaf diperkirakan akan menambah beban pada infrastruktur bandara tersebut, termasuk kebutuhan bahan bakar, layanan darat, dan penanganan penumpang.
Para analis penerbangan menilai bahwa meskipun Amerika Serikat tidak memiliki wewenang untuk menutup wilayah udara negara lain, pemutusan layanan darat dan bahan bakar secara efektif menghentikan operasi maskapai Iran di jaringan internasional. Mereka memperingatkan bahwa efek domino dapat meluas ke negara-negara lain yang bergantung pada layanan serupa, terutama di kawasan Teluk di mana alur perdagangan udara sangat padat.
Dalam konteks geopolitik yang lebih luas, persaingan irak vs oman kini tidak hanya terbatas pada isu politik tradisional, melainkan juga melibatkan dimensi ekonomi dan keamanan penerbangan. Kedua negara harus menyeimbangkan kepatuhan terhadap kebijakan sanksi AS dengan kebutuhan menjaga stabilitas transportasi udara regional. Keputusan selanjutnya akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan diplomatik antara Tehran, Washington, serta peran mediator regional seperti Uni Emirat Arab dan Qatar.

