Iran Kecam Serangan AS di Fasilitas Desalinasi Qeshm
Teheran, ule.co.id – Iran, melalui Menteri Luar Negerinya Seyed Abbas Araghchi, menyatakan kecaman keras terhadap serangan Amerika Serikat (AS) yang menargetkan sebuah fasilitas desalinasi air di Pulau Qeshm, wilayah selatan Iran. Insiden yang dilaporkan terjadi pada Jumat (6/3) ini tidak hanya merusak infrastruktur vital, tetapi juga berdampak signifikan pada pasokan air bersih bagi sekitar 30 desa di pulau tersebut, memicu ketegangan yang semakin meningkat di kawasan Timur Tengah.
Kronologi dan Dampak Serangan AS
Serangan yang diklaim dilakukan AS tersebut diluncurkan dari pangkalannya di Jufair, Bahrain. Menurut pernyataan Araghchi yang diunggah di platform media sosial X, tindakan AS ini merupakan “kejahatan yang terang-terangan dan nekat” serta “langkah berbahaya dengan konsekuensi serius” bagi infrastruktur Iran. Pernyataan ini menegaskan bahwa penargetan fasilitas sipil seperti instalasi desalinasi air merupakan pelanggaran serius yang mengancam kehidupan warga sipil.
BACA JUGA: Tujuan Serangan AS ke Iran: Bukan Gulingkan Rezim Teheran
Reaksi dan Balasan dari Iran
Menyusul kecaman dari Menteri Luar Negeri, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, turut angkat bicara di akun X pribadinya. Ghalibaf mengonfirmasi bahwa serangan terhadap fasilitas desalinasi di Qeshm tersebut mendapat dukungan dari salah satu pangkalan udara di negara tetangga Iran di bagian selatan. Sebagai respons langsung, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran pada Sabtu (7/3) mengumumkan telah melancarkan serangan balasan terhadap pangkalan AS di Bahrain. Serangan balasan ini menggunakan rudal berpemandu presisi, yang diperkirakan berbahan bakar padat dan cair, menunjukkan keseriusan Iran dalam menanggapi agresi.
Latar Belakang Konflik Regional yang Memanas
Insiden serangan fasilitas desalinasi Iran ini bukanlah yang pertama dalam serangkaian eskalasi konflik di Timur Tengah. Sebelumnya, pada 28 Februari, Israel dan AS dilaporkan melancarkan serangan gabungan yang menargetkan Teheran dan beberapa kota lain di Iran. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal dan drone yang menargetkan Israel serta pangkalan-pangkalan militer AS yang tersebar di wilayah Timur Tengah. Situasi ini menunjukkan siklus balasan yang terus berlanjut dan memburuknya stabilitas keamanan regional.
Eskalasi terbaru ini, dengan target fasilitas desalinasi air yang krusial, semakin memperparah ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di tengah konflik regional yang sudah memanas. Tindakan saling balas serangan ini meningkatkan kekhawatiran global akan dampak lebih lanjut terhadap stabilitas politik dan kemanusiaan di Timur Tengah, menyerukan perhatian serius dari komunitas internasional.

