Iran Tuding AS Dalangi Serangan Drone di Bandara Kuwait untuk Dongkrak Penjualan Sistem Pertahanan
TEHERAN, Ule.co.id – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas setelah Iran melontarkan tuduhan serius terhadap Amerika Serikat terkait insiden serangan drone di Bandara Kuwait yang terjadi pekan lalu. Pemerintah Iran menilai peristiwa tersebut merupakan bagian dari operasi pengelabuan atau false flag yang bertujuan membuka peluang penjualan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Amerika kepada Kuwait.
Tuduhan tersebut disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, melalui unggahan di platform media sosial X pada Selasa (9/6). Menurut Baqaei, terdapat sejumlah indikasi yang mengarah pada dugaan bahwa Amerika Serikat sengaja menciptakan ancaman keamanan guna memperoleh keuntungan ekonomi dan strategis.
Pernyataan itu muncul beberapa hari setelah insiden serangan drone di Bandara Kuwait yang menyebabkan kerusakan pada terminal penumpang dan mengakibatkan puluhan korban luka.
Iran Sebut Ada Operasi Pengelabuan
Dalam pernyataannya, Baqaei menuduh Washington berada di balik serangan tersebut dengan menggunakan drone tiruan untuk menciptakan narasi ancaman dari Iran.
Menurut dia, insiden itu kemudian dimanfaatkan sebagai alasan untuk menawarkan teknologi pertahanan udara terbaru kepada pemerintah Kuwait.
“Kepingan-kepingan teka teki ini mulai terungkap dengan sangat cepat. Mereka melakukan operasi pengelabuan dengan mengerahkan drone tiruan Lucas untuk menyerang Bandara Kuwait, menciptakan alasan sempurna untuk memasarkan sistem pertahanan udara anti-drone buatan Powerus dengan dalih melindungi diri dari serangan Iran,” tulis Baqaei.
Ia menambahkan bahwa skenario tersebut dinilai sangat menguntungkan bagi industri pertahanan Amerika Serikat yang selama ini menjadi pemasok utama berbagai sistem keamanan dan persenjataan di kawasan Teluk.
Namun hingga kini, Baqaei tidak menyampaikan bukti konkret yang mendukung tuduhan tersebut. Pemerintah Amerika Serikat juga belum memberikan tanggapan resmi terkait klaim yang dilontarkan Teheran.
Bandara Kuwait Mengalami Kerusakan
Sebelumnya, pemerintah Kuwait mengonfirmasi bahwa terminal penumpang Bandara Internasional Kuwait mengalami kerusakan signifikan akibat insiden yang terjadi pada Rabu (3/6).
Juru Bicara Kementerian Pertahanan Kuwait, Saud Al-Atwan, mengatakan ledakan yang dipicu oleh serangan pesawat nirawak mengakibatkan kerusakan pada sejumlah fasilitas bandara.
Bandara Internasional Kuwait merupakan salah satu pusat transportasi udara terpenting di kawasan Teluk dan melayani jutaan penumpang setiap tahun. Kerusakan pada fasilitas tersebut sempat mengganggu operasional penerbangan dan memicu peningkatan pengamanan di sekitar area bandara.
Otoritas Kuwait langsung melakukan penyelidikan untuk mengidentifikasi sumber serangan dan memastikan tidak ada ancaman lanjutan terhadap infrastruktur strategis negara itu.
Puluhan Orang Terluka
Selain menyebabkan kerusakan infrastruktur, serangan drone di Bandara Kuwait juga menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Juru Bicara Kementerian Kesehatan Kuwait, Abdullah Al-Sanad, menyatakan bahwa lebih dari 60 orang mengalami cedera dalam peristiwa tersebut.
Korban terdiri atas penumpang, pekerja bandara, serta sejumlah staf operasional yang berada di lokasi ketika ledakan terjadi. Sebagian korban dilaporkan mengalami luka akibat pecahan kaca dan material bangunan yang rusak.
Tim medis dan petugas tanggap darurat segera diterjunkan ke lokasi untuk mengevakuasi korban serta memberikan perawatan darurat.
Meski demikian, hingga laporan terakhir tidak ada informasi mengenai korban meninggal dunia dalam insiden tersebut.
IRGC Bantah Iran Terlibat
Di tengah munculnya berbagai spekulasi mengenai pelaku serangan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dengan tegas membantah keterlibatan Teheran.
Juru Bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyatakan bahwa militer Iran tidak meluncurkan rudal maupun pesawat nirawak ke wilayah Kuwait.
Menurut Mohebbi, kerusakan yang terjadi di bandara justru kemungkinan besar disebabkan oleh kesalahan operasional sistem pertahanan udara Patriot yang digunakan untuk menghadapi ancaman udara.
Ia menyebut kegagalan teknis atau salah identifikasi target dapat menjadi faktor yang menyebabkan insiden tersebut.
“Militer Iran tidak menembakkan rudal apa pun ke arah terminal bandara tersebut,” kata Mohebbi dalam pernyataannya.
Pernyataan itu menjadi bagian dari upaya Iran untuk menepis berbagai tuduhan yang mengaitkan negara tersebut dengan serangan terhadap infrastruktur penting di kawasan Teluk.
Ketegangan Regional Kembali Meningkat
Insiden serangan drone di Bandara Kuwait terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam kondisi yang sensitif, terutama terkait isu keamanan regional, program nuklir Iran, serta kehadiran militer AS di kawasan Teluk.
Kuwait sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu negara yang berupaya menjaga hubungan diplomatik dengan berbagai pihak, termasuk negara-negara Teluk, Amerika Serikat, dan Iran.
Namun insiden yang menyerang fasilitas sipil strategis seperti bandara berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai stabilitas keamanan regional.
Pengamat keamanan menilai tuduhan yang dilontarkan Iran kemungkinan akan memperumit dinamika politik kawasan, terutama jika tidak disertai bukti yang dapat diverifikasi secara independen.
Penyelidikan Masih Berlangsung
Hingga saat ini, otoritas Kuwait masih melanjutkan investigasi guna mengungkap pelaku serta motif di balik serangan drone di Bandara Kuwait.
Pemerintah Kuwait belum secara resmi menyimpulkan pihak yang bertanggung jawab atas insiden tersebut. Hasil penyelidikan teknis terhadap puing-puing drone dan lokasi ledakan diharapkan dapat memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai asal-usul serangan.
Sementara itu, langkah pengamanan di sejumlah fasilitas vital Kuwait terus diperketat untuk mengantisipasi kemungkinan ancaman lanjutan.
Di tengah penyelidikan yang masih berlangsung, tuduhan Iran terhadap Amerika Serikat menjadi sorotan internasional dan berpotensi memicu perdebatan baru mengenai keamanan kawasan serta peran industri pertahanan dalam konflik geopolitik modern.
Dengan belum adanya bukti final yang dipublikasikan, berbagai pihak kini menunggu hasil investigasi resmi Kuwait untuk mengetahui fakta sebenarnya di balik serangan drone di Bandara Kuwait yang mengguncang salah satu fasilitas transportasi terpenting di kawasan Teluk tersebut.
Sumber: Antara

