analitik

IRGC Desak Israel Hentikan Serangan ke Lebanon, Iran Ancam Respons Jika Beirut Diserang

TEHERAN, Ule.co.id – Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) kembali mendesak Israel untuk segera menghentikan seluruh operasi militernya di Lebanon dan menarik pasukan dari wilayah yang masih diduduki. Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, meski upaya gencatan senjata antara sejumlah pihak terus dilakukan.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media resmi IRGC, Sepah News, pada Kamis (5/6), Iran menegaskan bahwa penghentian serangan terhadap Lebanon menjadi salah satu syarat utama untuk menjaga stabilitas kawasan dan mendukung implementasi kesepakatan gencatan senjata yang lebih luas.

IRGC menekankan bahwa setiap upaya perdamaian harus mencakup penghentian konflik di seluruh front, termasuk wilayah Lebanon yang selama beberapa bulan terakhir kembali menjadi titik panas akibat eskalasi antara Israel dan kelompok Hizbullah.

Iran Tegaskan Syarat Gencatan Senjata

Menurut IRGC, posisi Teheran tetap konsisten sejak tercapainya kesepakatan gencatan senjata pada 8 April lalu yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Pemerintah Iran menilai bahwa gencatan senjata hanya dapat berjalan efektif apabila seluruh pihak menghentikan aksi militer tanpa pengecualian. Karena itu, situasi di Lebanon menjadi bagian penting dari syarat yang diajukan Teheran.

Dalam pernyataannya, IRGC meminta Israel menghentikan serangan terhadap warga Lebanon serta menarik seluruh pasukan yang masih berada di wilayah yang dianggap diduduki.

Iran Peringatkan Dampak Jika Beirut Diserang

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Seyed Abbas Araghchi memberikan peringatan keras terkait kemungkinan serangan Israel terhadap Beirut.

Dalam wawancara yang disiarkan stasiun televisi Lebanon, Al Mayadeen, Araghchi menyatakan bahwa Iran tidak akan tinggal diam apabila ibu kota Lebanon menjadi sasaran serangan militer.

Ia mengungkapkan bahwa Teheran telah menyampaikan sikap tersebut kepada berbagai pihak internasional.

Menurut Araghchi, serangan terhadap Beirut berpotensi memicu eskalasi yang lebih luas dan membuka kembali konflik berskala besar di kawasan Timur Tengah.

“Iran telah memberi tahu semua pihak bahwa Teheran tidak akan menoleransi serangan terhadap Beirut,” demikian pesan yang disampaikan dalam wawancara tersebut.

Israel dan Hizbullah Kembali Terlibat Serangan

Pernyataan Iran muncul ketika bentrokan antara Israel dan Hizbullah kembali terjadi pada Kamis, hanya sehari setelah Lebanon dan Israel mencapai kesepakatan gencatan senjata melalui perundingan trilateral yang berlangsung di Washington.

Meski terdapat kesepakatan penghentian permusuhan, laporan dari lapangan menunjukkan kedua pihak masih saling melancarkan serangan.

Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa upaya diplomatik yang telah dilakukan dapat menghadapi hambatan serius apabila pelanggaran terus terjadi.

Isi Kesepakatan Gencatan Senjata

Kesepakatan yang dicapai pada Rabu menetapkan sejumlah syarat yang harus dipenuhi untuk menjaga stabilitas di perbatasan Lebanon-Israel.

Di antaranya adalah penghentian penuh serangan yang dilakukan Hizbullah serta penarikan seluruh anggotanya dari wilayah selatan Sungai Litani.

Wilayah tersebut selama ini menjadi salah satu area yang paling sensitif dalam konflik antara Israel dan Hizbullah karena lokasinya yang dekat dengan perbatasan kedua negara.

Pelaksanaan kesepakatan tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko konfrontasi langsung yang lebih besar di masa mendatang.

Hizbullah Tegaskan Perlawanan Akan Berlanjut

Di sisi lain, pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menyatakan bahwa kelompoknya akan terus melakukan perlawanan selama pendudukan Israel dan serangan terhadap wilayah Lebanon masih berlangsung.

Dalam pernyataannya pada Kamis, Qassem menegaskan bahwa keamanan permukiman Israel tidak akan terjamin apabila konflik dan pendudukan terus berlanjut.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa situasi keamanan di kawasan masih sangat rapuh meskipun berbagai upaya diplomatik telah dilakukan untuk meredakan ketegangan.

Ketegangan Timur Tengah Masih Tinggi

Perkembangan terbaru ini menunjukkan bahwa konflik di perbatasan Lebanon-Israel masih menjadi salah satu sumber ketidakstabilan utama di Timur Tengah.

Desakan IRGC agar Israel menghentikan serangan ke Lebanon, peringatan Iran terkait kemungkinan serangan terhadap Beirut, serta sikap Hizbullah yang tetap melanjutkan perlawanan menunjukkan bahwa proses menuju perdamaian masih menghadapi tantangan besar.

Para pengamat menilai keberhasilan gencatan senjata akan sangat bergantung pada komitmen seluruh pihak untuk menahan diri dan mematuhi kesepakatan yang telah dicapai melalui jalur diplomasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *