analitik

Kadinkes Tegaskan ISPA Tak Otomatis Disebabkan Karhutla Dari Dulu Juga Ada, Penjelasan Lengkap Dampak Asap pada Kesehatan Masyarakat Kalimantan Tengah

Ule.co.id – Kadinkes Tegaskan ISPA Tak Otomatis Disebabkan Karhutla Dari Dulu Juga Ada, ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kalimantan Tengah, Suyuti Syamsul, dalam konferensi pers yang digelar di Palangka Raya pada Minggu (13/9/26). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) tidak dapat langsung dihubungkan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah tersebut.

Dalam penjelasan lebih lanjut, Suyuti menambahkan bahwa karhutla memang dapat memperburuk kualitas udara, namun tidak serta-merta menimbulkan ISPA pada seluruh penduduk. “Ada karhutla, tidak ada karhutla, pasti ada kasus ISPA,” ujarnya, menekankan bahwa penyakit ini sudah ada sejak lama dan tidak eksklusif muncul saat kebakaran terjadi.

Baca juga:
Ancaman Karhutla Meningkat, Mitigasi Karhutla Barito Utara Terus Diperkuat

Data resmi Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa angka kejadian ISPA di Kalimantan Tengah mengalami fluktuasi musiman, dengan puncak pada musim hujan ketika kelembapan tinggi memicu pertumbuhan virus dan bakteri pernapasan. Pada tahun 2025, tercatat sekitar 12.000 kasus ISPA, sementara pada tahun 2026 hingga pertengahan September, angka tersebut berada di kisaran 7.500 kasus, meskipun terjadi kebakaran hutan di beberapa wilayah.

Para ahli kesehatan masyarakat menegaskan pentingnya pendekatan multidisiplin dalam menilai dampak karhutla. Mereka menyarankan agar data kualitas udara (PM2,5, PM10) dipadukan dengan data klinis pasien untuk mengidentifikasi korelasi yang lebih akurat. “Kita butuh studi longitudinal yang melacak individu selama dan setelah paparan asap, bukan sekadar laporan kasus harian,” kata Dr. Rina Widyanti, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya.

Selain itu, pemerintah provinsi telah mengaktifkan posko kesehatan di beberapa kecamatan yang terdampak asap tebal. Posko ini menyediakan layanan pemeriksaan pernapasan, distribusi masker N95, serta edukasi tentang cara melindungi diri dari polusi udara. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan komplikasi berat pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Dalam konteks kebijakan, Kadinkes menegaskan bahwa penanganan karhutla tetap menjadi prioritas utama, namun tidak boleh menjadi satu‑satunya alasan munculnya ISPA. “Kami terus berkoordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk mengurangi sumber kebakaran, sekaligus meningkatkan kapasitas layanan kesehatan,” jelas Suyuti.

Penggunaan istilah “diagnosis keranjang sampah” yang diungkapkan Suyuti menggambarkan tantangan dalam praktik kedokteran di daerah dengan sumber daya terbatas. Dokter seringkali harus membuat keputusan cepat tanpa hasil laboratorium yang lengkap, sehingga ISPA menjadi label penampung bagi berbagai gejala pernapasan.

Untuk menanggapi hal ini, Dinas Kesehatan berencana memperluas jaringan laboratorium rapid test yang dapat mendeteksi patogen pernapasan seperti virus influenza, RSV, dan SARS‑CoV‑2. Dengan hasil yang lebih cepat, dokter dapat memberikan terapi yang lebih tepat, mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu, dan memperjelas hubungan antara paparan asap dan penyakit.

Baca juga:
BPBD Kotim Minta Perusahaan Bantu Atasi Krisis Air Bersih dan Kebakaran Hutan

Komunitas lokal juga diajak berperan aktif. Pemerintah menggelar sosialisasi mengenai pentingnya ventilasi ruangan, penggunaan air bersih, serta pemeliharaan kebersihan lingkungan. Kegiatan ini diharapkan dapat menurunkan intensitas penyebaran virus pernapasan, terutama di daerah pedesaan yang rawan kebakaran lahan.

Sejumlah LSM lingkungan menyoroti perlunya penegakan hukum yang lebih tegas terhadap pembakaran lahan ilegal. Mereka berargumen bahwa pencegahan karhutla merupakan langkah preventif yang tidak hanya melindungi ekosistem, tetapi juga kesehatan pernapasan masyarakat. Namun, Kadinkes menegaskan bahwa upaya kesehatan dan lingkungan harus berjalan beriringan.

Dalam jangka panjang, strategi mitigasi meliputi penanaman kembali hutan, rehabilitasi lahan pasca‑kebakaran, serta peningkatan kapasitas respon darurat. Dinas Kesehatan berkomitmen menyediakan data real‑time tentang kasus ISPA melalui aplikasi mobile yang dapat diakses oleh tenaga kesehatan di lapangan.

Kesimpulannya, pernyataan Kadinkes Tegaskan ISPA Tak Otomatis Disebabkan Karhutla Dari Dulu Juga Ada menegaskan bahwa fenomena kesehatan masyarakat bersifat kompleks. Penanganan harus menggabungkan upaya pengendalian kebakaran, peningkatan layanan kesehatan, serta edukasi publik yang berkelanjutan.

Dengan pendekatan terintegrasi, diharapkan angka ISPA dapat ditekan, kualitas udara membaik, dan masyarakat Kalimantan Tengah dapat menjalani kehidupan yang lebih sehat meski dihadapkan pada tantangan lingkungan yang berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *