Kualitas Udara Hari Ini Memburuk di Singapura, Palembang, dan Medan: Dampak Kabut Asap Regional
Ule.co.id – Kualitas udara hari ini menunjukkan penurunan signifikan di tiga wilayah utama Asia Tenggara: Singapura, Palembang, dan Medan. Asap kebakaran hutan yang terbawa angin mengakibatkan indeks polusi melampaui ambang batas tidak sehat, memaksa otoritas setempat mengeluarkan peringatan kesehatan dan membatasi aktivitas luar ruangan.
Di Singapura, National Environment Agency (NEA) mencatat bahwa pada Selasa pagi, 15 September 2026, seluruh lima zona wilayah mencatat Pollutant Standards Index (PSI) masuk kategori tidak sehat untuk pertama kalinya sejak September 2019. PSI tertinggi tercatat 154 di wilayah tengah, diikuti nilai 128 di zona timur dan barat, 111 di selatan, serta 104 di utara. Kategori PSI 101‑200 dianggap tidak sehat, sementara nilai di atas 200 masuk kategori sangat tidak sehat. NEA menjelaskan bahwa asap berasal dari kebakaran hutan di Kalimantan serta kebakaran lahan di Sumatra bagian selatan, yang terbawa oleh angin timur‑tenggara. Proyeksi cuaca kering diperkirakan akan berlanjut selama beberapa hari, memperparah kondisi kabut asap.
Di Palembang, pemkot memperpanjang pembelajaran jarak jauh (PJJ) untuk siswa TK hingga SMP karena kualitas udara masih berada pada level berbahaya. Wali Kota Ratu Dewa menekankan bahwa keputusan tidak hanya didasarkan pada kabut asap, melainkan juga pada Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang tinggi serta peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Ia menambahkan bahwa kebijakan PJJ akan terus dievaluasi dan dapat berubah bila ISPU dan tingkat ISPA menunjukkan perbaikan.
Sementara itu, di Medan, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan penurunan jarak pandang menjadi satu hingga lima kilometer akibat asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konsentrasi partikel PM2.5 berada pada kategori sedang hingga tidak sehat. Kepala Balai Besar BMKG wilayah I Medan, Hendro Nugroho, menyatakan bahwa asap kemungkinan berasal dari beberapa hotspot di Sumatera Utara, meski belum dapat dipastikan sumber pastinya.
Data kualitas udara di Palembang menunjukkan fluktuasi yang mengkhawatirkan pada dini hari. Konsentrasi PM2.5 mencapai puncak 512,1 µg/m³ pada pukul 00.00 WIB, menandakan status berbahaya. Meskipun angka menurun menjadi 333,8 µg/m³ pada pukul 01.00 WIB, level tetap berada di zona berbahaya hingga pagi hari. Penyebab utama tetap kebakaran hutan di Sumatera Selatan, yang memperparah kualitas udara di wilayah tersebut.
Berikut rangkuman data utama yang tercatat pada 15‑16 September 2026:
- Singapura: PSI tertinggi 154 (wilayah tengah), seluruh zona masuk kategori tidak sehat.
- Palembang: ISPU tinggi, PM2.5 mencapai 512,1 µg/m³, PJJ tetap diberlakukan.
- Medan: Jarak pandang 1‑5 km, PM2.5 berada pada kategori sedang‑tidak sehat.
Otoritas kesehatan di ketiga wilayah menyerukan masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Penggunaan masker N95 atau setara disarankan bila keluar rumah tidak dapat dihindari. Di Singapura, NEA juga menegaskan pentingnya hidrasi dan menghindari olahraga berat pada jam-jam dengan PSI tertinggi.
Para pakar lingkungan menilai bahwa fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor cuaca kering yang dipengaruhi oleh fenomena El Niño serta Indian Ocean Dipole, yang meningkatkan suhu dan mengurangi curah hujan. Kondisi tersebut memperbesar risiko kebakaran hutan, terutama di wilayah yang masih memiliki tutupan vegetasi kering.
Upaya mitigasi jangka pendek meliputi peningkatan pemantauan satelit, penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal, serta penyediaan informasi real‑time melalui aplikasi mobile bagi publik. Sementara itu, strategi jangka panjang menekankan pada reboisasi, pengelolaan lahan berkelanjutan, dan edukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan.
Dengan kualitas udara hari ini yang terus menurun, koordinasi lintas negara dan daerah menjadi kunci untuk mengatasi penyebaran asap. Kerjasama antara Indonesia, Singapura, dan Malaysia dalam pertukaran data kebakaran serta respons cepat dapat memperkecil dampak kesehatan publik di masa mendatang.

