Penanganan Karhutla oleh ASN: Keterampilan Teknis Jadi Kunci Utama
Ule.co.id – ASN Tangani Karhutla Perlu Keterampilan Teknis menjadi sorotan utama setelah DPRD Kalimantan Tengah menilai kebijakan pemerintah mengerahkan aparatur sipil negara (ASN) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Inisiatif tersebut dipandang positif, namun para anggota legislatif menekankan pentingnya persiapan teknis dan kesehatan sebelum personel turun ke lapangan.
Okki Maulana, anggota DPRD Kalteng, menegaskan bahwa kesiapan personel harus menjadi prioritas. “Pemeriksaan kesehatan dan pemahaman teknis harus dipastikan terlebih dahulu,” ujarnya pada Selasa (1/9). Menurut Okki, tanpa perencanaan matang, ASN yang belum terbiasa dengan kondisi darurat berisiko mengalami kecelakaan atau tidak dapat menjalankan tugas secara efektif.
Lokasi kebakaran hutan bukanlah medan yang mudah bagi mereka yang tidak memiliki latar belakang pemadam kebakaran. Sebagian besar ASN yang dikerahkan memiliki keahlian di bidang administratif, pendidikan, atau layanan publik, sehingga kurang familiar dengan prosedur pemadaman, penggunaan peralatan khusus, serta koordinasi dengan tim relawan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa kehadiran mereka justru dapat memperlambat penanganan atau menambah beban bagi tim yang sudah berpengalaman.
Okki menambahkan, “Selain menghindari korban jiwa, kita juga harus menghindari situasi di mana kawan‑kawan ini tidak paham SOP di lapangan, sehingga menghambat penanganan.” Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ASN Tangani Karhutla Perlu Keterampilan Teknis tidak hanya sekadar menambah jumlah personel, melainkan harus memastikan setiap anggota memahami batas tugas, prosedur keselamatan, dan pola koordinasi yang tepat.
Untuk mengoptimalkan kontribusi ASN, Okki mengusulkan beberapa langkah konkret. Pertama, pemerintah harus melakukan pembekalan intensif yang meliputi pelatihan dasar penanggulangan kebakaran, penggunaan alat pemadam, serta pengetahuan tentang risiko kesehatan seperti paparan asap berbahaya. Kedua, sebelum penugasan, dilakukan pemetaan kompetensi masing‑masing agar penempatan personel sesuai dengan kemampuan dan pengalaman. Ketiga, penetapan SOP yang jelas dan disosialisasikan secara menyeluruh kepada semua pihak yang terlibat.
Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat meminimalisir potensi kesalahan operasional dan meningkatkan efektivitas penanganan karhutla. Selain itu, dengan adanya pelatihan teknis, ASN dapat berperan lebih aktif dalam kegiatan pencegahan, seperti pemantauan titik rawan, edukasi masyarakat, dan koordinasi lintas sektoral.
Para pengamat lingkungan menilai bahwa kebijakan mengerahkan ASN ke lapangan merupakan langkah strategis, terutama mengingat besarnya skala kebakaran yang melanda wilayah Kalimantan Tengah. Namun, tanpa dukungan keterampilan teknis yang memadai, kebijakan tersebut berpotensi menjadi kontraproduktif. “Kita butuh sinergi antara tenaga ahli, relawan, dan ASN yang terlatih,” kata seorang pakar kebakaran hutan yang tidak disebutkan namanya.
Pemerintah pusat dan daerah diharapkan dapat menyusun kerangka kerja yang terintegrasi, mencakup aspek kesehatan, keselamatan, serta kompetensi teknis. Dengan demikian, ASN Tangani Karhutla Perlu Keterampilan Teknis dapat menjadi landasan bagi kebijakan penanggulangan bencana yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Selain itu, penting bagi lembaga terkait untuk melakukan evaluasi pasca‑penugasan, mengidentifikasi tantangan yang dihadapi, serta memperbaiki prosedur yang kurang optimal. Evaluasi ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi penugasan selanjutnya, memastikan bahwa setiap penempatan ASN memberikan nilai tambah yang signifikan bagi upaya pemadaman dan mitigasi karhutla.

