analitik

Sungai Barito di Tengah Ancaman Kebakaran: Dampak Hotspot, Upaya BNPB, dan Nilai Ekonomi yang Terancam

Ule.co.id – Sungai Barito, salah satu sungai terpanjang di Pulau Kalimantan, kini berada di garis depan ancaman kebakaran hutan yang melanda wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah. Lebar rata-rata 650-800 meter serta kedalaman sekitar 8 meter menjadikan aliran ini tidak hanya vital bagi transportasi, tetapi juga sebagai sumber kehidupan bagi ribuan penduduk di sepanjang tepiannya.

Sejak lama, sungai ini menjadi jalur utama perdagangan dan pergerakan masyarakat, mulai dari pasar terapung di Kampung Alalak hingga aktivitas perikanan di Muara Teweh. Panjangnya mencapai antara 909 hingga 1.090 kilometer, bermula dari Pegunungan Muller di Kalimantan Tengah dan bermuara di Laut Jawa. Nama “Barito” sendiri diambil dari wilayah Tanah Barito, yang dulu menjadi pusat administrasi di Muara Teweh.

Baca juga:
Kekeringan Akut Landa Swiss, Warga Dilarang Cuci Mobil dan Siram Taman

Namun, musim kemarau ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Nino memperparah situasi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan 473 titik panas (hotspot) di Kalimantan Selatan pada Selasa pagi, tersebar di 11 kabupaten dan kota. Kabupaten Hulu Sungai Selatan mencatat 118 hotspot, diikuti Kabupaten Tapin dengan 102 titik, dan Kabupaten Banjar sebanyak 99 titik. Daerah Barito Kuala juga masuk dalam daftar, menandakan potensi dampak langsung pada ekosistem sungai.

Hotspot dengan tingkat kepercayaan sedang mendominasi, mencapai 89,9 persen dari total, sementara kategori tinggi terdeteksi di tujuh kabupaten termasuk Barito Kuala. Data ini mengindikasikan peningkatan risiko kebakaran lahan gambut yang dapat mengakibatkan kabut asap tebal, mengancam kesehatan penduduk dan mengganggu aktivitas ekonomi di sepanjang sungai.

  • Jumlah hotspot total: 473
  • Kategori sedang: 425 titik (≈90%)
  • Kategori tinggi: 32 titik
  • Kategori rendah: 16 titik

Menanggapi situasi ini, Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) mengimbau warga di daerah terdampak untuk selalu memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan. Berton SP Panjaitan, Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi BNPB, menegaskan pentingnya pencegahan kebakaran, termasuk tidak membakar sampah serta memastikan puntung rokok padam sempurna.

“Kami terus mengajak masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran, termasuk pembakaran sampah dan puntung rokok,” ujar Panjaitan dalam konferensi pers daring. Ia menambahkan bahwa operasi pemadaman masih berlangsung di Riau, Kalimantan Barat, serta sejumlah kabupaten di Kalimantan Selatan yang meliputi Barito Kuala dan Banjar.

Ancaman kebakaran tidak hanya berdampak pada kualitas udara. Pencemaran air akibat asap dan partikel halus dapat menurunkan kualitas habitat ikan, mengganggu mata pencaharian nelayan di sungai barito. Selain itu, peningkatan suhu air berpotensi mengubah pola aliran, mempengaruhi navigasi kapal kecil yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi barang di wilayah pedalaman.

Baca juga:
Kebakaran Hutan Gunung Bromo Terus Meluas Imbas Angin, Kini Capai 520 Hektare

Ekonomi lokal yang bergantung pada perdagangan sungai juga terancam. Pasar terapung yang menjadi ikon budaya, misalnya, harus menutup sementara untuk melindungi pedagang dan pembeli dari paparan asap berbahaya. Sementara itu, sektor pertambangan dan perkebunan di daerah aliran sungai mengalami penurunan produksi akibat pembatasan operasional.

Pemerintah daerah Kalimantan Tengah dan Selatan berkoordinasi dengan BNPB serta BMKG untuk memperkuat sistem peringatan dini. Upaya meliputi penyebaran informasi hotspot melalui media sosial, serta penyediaan masker gratis di posko-posko kesehatan. Selain itu, program reboisasi lahan gambut dan rehabilitasi kawasan kritis sedang dipercepat untuk mengurangi sumber bahan bakar kebakaran.

Para ahli lingkungan menekankan pentingnya pendekatan berbasis komunitas. “Masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai barito memiliki pengetahuan lokal yang berharga untuk deteksi dini kebakaran,” kata Dr. Utari Randiana, Prakiraan Cuaca BMKG Kalimantan Selatan. “Kolaborasi antara otoritas dan warga dapat mempercepat respons dan meminimalisir kerusakan.

Dengan lebih dari 600 kilometer aliran, sungai barito tetap menjadi nadi kehidupan bagi jutaan orang. Upaya bersama antara pemerintah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat sangat krusial untuk menjaga kelestarian ekosistem ini di tengah ancaman kebakaran hutan yang terus meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *