analitik

Tommy Soeharto Dorong TWNC Jadi Laboratorium Hidup Konservasi Global

Ule.co.id – Tommy Soeharto kembali menegaskan komitmennya terhadap pelestarian alam Indonesia dengan mengusulkan Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung sebagai laboratorium hidup konservasi yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan. Pada acara yang berlangsung 27‑28 Agustus 2026, lebih dari dua puluh tokoh internasional termasuk penerima Nobel, pemenang Turing Award, serta ilmuwan terkemuka berkumpul untuk menyaksikan keanekaragaman hayati yang dikelola selama tiga dekade.

Acara tersebut dipandu oleh Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto—yang lebih dikenal dengan sebutan Titik Soeharto—sebagai tuan rumah. Dalam sambutannya, Titik menekankan bahwa TWNC bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan platform kolaboratif yang memungkinkan interaksi langsung antara alam dan sains. “Tambling dapat menjadi laboratorium hidup di mana ekosistem alami bertemu dengan inovasi teknologi,” ujarnya.

Baca juga:
Polda Lampung Musnahkan Barang Bukti Narkoba Senilai Rp264,9 Miliar

TWNC, yang dikelola oleh Artha Graha Peduli sejak 1996, mencakup seluas 48.153 hektar hutan daratan dan 14.089 hektar wilayah laut. Keanekaragaman habitat meliputi hutan hujan tropis dataran rendah, hutan pantai, mangrove, danau, rawa air tawar, serta hutan sekunder. Keberagaman ini menjadi daya tarik utama bagi para ilmuwan yang ingin mempelajari dinamika ekosistem tropis dalam konteks perubahan iklim.

Selama dua hari, para tamu kehormatan melakukan tur lapangan, mengamati spesies endemik seperti harimau Sumatera, gajah Asia, serta berbagai jenis burung migran. Diskusi panel yang dipimpin oleh Tommy Soeharto menyoroti peran teknologi drone, sensor satelit, dan kecerdasan buatan dalam memantau kesehatan hutan. “Kita dapat mengumpulkan data real‑time untuk mendeteksi ancaman illegal logging atau kebakaran hutan,” jelasnya.

Selain itu, pertemuan ini mempertemukan pemimpin politik internasional, termasuk Presiden Timor Leste José Ramos‑Horta, yang memuji kepemimpinan Tommy Soeharto dalam menggerakkan sinergi antara sektor publik dan swasta. Ramos‑Horta menambahkan, “Pengalaman konservasi di TWNC memberikan contoh konkret bagaimana kolaborasi lintas negara dapat memperkuat perlindungan biodiversitas.”

Para ilmuwan juga membahas potensi pengembangan program pendidikan berbasis lapangan untuk generasi muda. Dengan melibatkan sekolah dan universitas, TWNC diharapkan menjadi pusat pembelajaran praktis yang menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini. “Kami ingin menciptakan generasi yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mengalami langsung tantangan dan solusi konservasi,” kata salah satu profesor biologi dari Universitas Indonesia.

Baca juga:
Disnaker Dorong Ribuan Kerja: Program Driver ke Jepang, Tanggap Kecelakaan di Lampung, dan Pemulangan PMI Jembrana

Tommy Soeharto menekankan pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Ia mengajak para pemangku kepentingan untuk berinvestasi dalam riset dan pengembangan teknologi ramah lingkungan, serta memperkuat kebijakan perlindungan hutan. “Konservasi bukan proyek jangka pendek; ia membutuhkan komitmen jangka panjang untuk generasi mendatang,” tegasnya.

Acara berakhir dengan penandatanganan nota kesepahaman antara TWNC dan beberapa institusi internasional untuk meluncurkan program pilot yang mengintegrasikan data satelit dengan model prediksi kebakaran hutan. Diharapkan, inisiatif ini akan menjadi contoh bagi kawasan konservasi lain di Indonesia.

Keberhasilan pertemuan ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu penjaga utama keanekaragaman hayati dunia. Dengan dukungan tokoh berpengaruh seperti Tommy Soeharto, serta kolaborasi global yang kuat, TWNC siap menjadi model konservasi modern yang menginspirasi negara‑negara lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *