analitik

Demak: Dari Literasi Digital Mahasiswa hingga Tragedi Pembunuhan dan Krisis BPJS, Apa yang Terjadi?

Ule.co.id – Di Kabupaten Demak, serangkaian peristiwa penting menarik perhatian publik, mulai dari inisiatif literasi digital yang dipimpin mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) hingga kasus pembunuhan mengerikan dan pemutusan bantuan kesehatan yang memengaruhi ratusan ribu warga.

Mahasiswa KKN Universitas PGRI Semarang menggelar kegiatan literasi digital di MI Ibrohimiyyah, Desa Brumbung, Kecamatan Mranggen. Dengan bahasa sederhana, mereka menjelaskan manfaat internet serta bahaya cyberbullying, mengajak siswa kelas empat untuk mengenali tindakan mengejek, menyebarkan konten menyakitkan, dan komentar negatif di dunia maya. Ibu Laksita, narasumber, menekankan pentingnya memperkenalkan etika digital sejak usia sekolah.

Baca juga:
Kombes Sarly Sollu Mutasi ke Teknisi KBR Madya: Jabatan Baru dan Tantangan Besar

Sesi tanya jawab diakhiri dengan pemutaran film edukatif tentang bullying. Setelah menonton, siswa diminta merefleksikan pelajaran yang didapat dan menyampaikan sikap yang tepat bila menyaksikan atau mengalami perundungan, baik secara langsung maupun melalui perangkat digital. Metode interaktif ini dianggap efektif dalam menumbuhkan kesadaran kritis di kalangan anak-anak.

Rizqi, salah satu siswa kelas empat, mengungkapkan perubahan sikapnya: “Saya jadi tahu kalau mengejek atau menyakiti teman lewat HP juga tidak boleh. Saya ingin lebih berhati-hati ketika berkomunikasi dengan teman, termasuk di media sosial.” Pernyataan ini mencerminkan harapan mahasiswa KKN bahwa kebiasaan bijak dapat tertanam sejak dini.

Sementara itu, kabar duka melanda Demak ketika jasad Sri Lestari (42) ditemukan terbakar di pos ronda Dukuh Wareng, Desa Kebonagung. Identitas korban terkonfirmasi melalui tes DNA yang cocok dengan keluarga, khususnya adik kandungnya, Sanuri. Keluarga menuntut agar pelaku dihukum setimpal, mengingat kejahatan ini tidak hanya melukai fisik tetapi juga menimbulkan trauma mendalam.

Investigasi mengungkap bahwa Sri Lestari, pemilik warung makan di Semarang, memiliki hubungan dekat dengan pelaku sejak enam tahun lalu. Pelaku sempat berjanji akan menikahi korban setelah menjual rumah, namun janji tersebut tidak pernah terealisasi. Keluarga korban menilai pelaku bukan orang yang layak, dan hubungan tersebut menimbulkan ketegangan yang akhirnya memuncak dalam tragedi.

Baca juga:
YBM PLN UIP Kalbagbar Salurkan Bantuan untuk Anak Yatim dalam Bulan Suci Muharam

Di bidang kesehatan, lebih dari 178 ribu warga di Kota Semarang dan Kabupaten Demak kehilangan kepesertaan PBI-JK akibat perubahan status desil. Kepala BPJS Kesehatan Cabang Semarang, Debbie Nianta Musigiasari, menjelaskan bahwa penonaktifan ini mengikuti kebijakan pemerintah yang membatasi bantuan bagi golongan desil 1 sampai 5. Warga yang terdampak dapat mengajukan kembali permohonan melalui Dinas Sosial setempat dalam jangka waktu enam bulan.

Penonaktifan PBI-JK menambah beban ekonomi bagi keluarga yang sudah rentan, sementara kasus pembunuhan menimbulkan rasa tidak aman di masyarakat. Kedua peristiwa ini menegaskan perlunya sinergi antara edukasi digital, penegakan hukum, dan kebijakan sosial agar Demak dapat pulih dan berkembang secara berkelanjutan.

Dengan menumbuhkan kesadaran akan etika digital, memperkuat sistem peradilan, serta memastikan akses layanan kesehatan, harapan warga Demak adalah terciptanya lingkungan yang lebih aman, adil, dan produktif bagi semua lapisan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *