Tangis Mengalir di Mamuju: Nikita Willy dan Nurul Syafwah Menghadapi Kesendirian Saat Upacara Bendera
Ule.co.id – Tangis Nikita Willy pecah usai bertugas di Mamuju orangtua tak bisa hadir karena jarak dan kerja [titlebase] menyentuh hati banyak warga yang menyaksikan upacara penurunan bendera merah putih di Lapangan Ahmad Kiring, Mamuju, pada Senin (17/8/2026). Kedua anggota Paskibra asal Pasangkayu itu tampak terharu ketika tidak ada orang tua yang dapat menyaksikan secara langsung karena keterbatasan jarak dan pekerjaan mereka.
Usai melaksanakan tugas mengibarkan bendera pada rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81, Nikita Willy dan rekannya, Nurul Syafwah, berdiri di tengah lapangan menatap kerumunan yang bertepuk tangan. Namun, kebahagiaan mereka berubah menjadi haru ketika menyadari tidak ada sosok orang tua yang hadir. “Kami menunggu, tapi mereka tidak bisa datang,” ungkap Nikita dengan suara bergetar.
Kejadian ini menarik perhatian Kepala Kesbangpol Sulawesi Barat, Darwis Damir, yang segera menghampiri kedua remaja. Darwis memberikan pelukan hangat dan kata-kata penyemangat, menegaskan bahwa dedikasi mereka tetap berharga meski tanpa kehadiran keluarga. “Kita semua bangga pada kalian, karena kalian telah mengabdi untuk negara,” tegasnya.
Menurut laporan cuaca BMKG, pada hari itu cuaca di Sulawesi Barat cerah berawan dengan potensi hujan ringan di beberapa wilayah, termasuk Mamuju. Suhu berkisar antara 16-32°C, dan angin berhembus dari tenggara hingga barat laut. Kondisi tersebut tidak menghalangi semangat para siswa Paskibra yang tetap melaksanakan tugas dengan penuh profesionalisme.
Setelah upacara selesai, tradisi biasanya memperbolehkan anggota Paskibra bertemu dengan orang tua mereka untuk saling melepas rindu. Namun, karena jarak dan pekerjaan, orang tua Nikita dan Nurul tidak dapat hadir secara fisik. Mereka hanya mengirimkan ucapan melalui telepon dan video call, yang tetap tidak dapat menggantikan kehangatan pertemuan langsung.
Reaksi warga Mamuju pun beragam. Beberapa warga mengungkapkan rasa empati melalui media sosial, menyebutkan betapa mengharukan momen tersebut. “Semoga mereka tetap kuat dan terus berprestasi,” tulis salah satu netizen. Sementara itu, pihak sekolah menegaskan bahwa dukungan moral tetap diberikan secara virtual, dan menyiapkan fasilitas bagi siswa yang membutuhkan bantuan psikologis.
Kasus ini juga menyoroti tantangan logistik bagi keluarga yang tinggal di daerah terpencil seperti Pasangkayu. Jarak tempuh yang jauh dan keterbatasan transportasi membuat kehadiran fisik pada acara penting menjadi sulit. Pemerintah daerah setempat berjanji akan meningkatkan akses transportasi, terutama pada momen-momen seremonial yang melibatkan siswa dari wilayah luar kota.
Selain menyoroti aspek emosional, peristiwa ini menegaskan pentingnya peran Paskibra dalam menumbuhkan rasa kebangsaan di kalangan generasi muda. Nikita Willy, yang kini menjadi simbol ketangguhan, menyatakan tekadnya untuk terus berlatih dan menginspirasi teman-temannya. “Kami tetap berjuang untuk Indonesia, meski tanpa sorotan orang tua,” ujarnya.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan, Mamuju juga menggelar berbagai kegiatan budaya, termasuk lomba tari tradisional dan pameran kerajinan lokal. Masyarakat diharapkan dapat merayakan kebersamaan meski tantangan geografis tetap ada.
Ke depan, diharapkan adanya kebijakan yang lebih fleksibel bagi keluarga yang berada di daerah terpencil, agar mereka dapat berpartisipasi dalam acara penting tanpa harus menanggung beban perjalanan yang berat. Sementara itu, Nikita Willy dan Nurul Syafwah tetap menjadi contoh dedikasi tanpa pamrih, menginspirasi generasi berikutnya untuk tetap berbakti pada bangsa.

