analitik

gianluigi buffon: Buffon Tegaskan Gattuso Pilihan Tepat Meski Italia Gagal ke Piala Dunia 2026

Ule.co.idgianluigi buffon menegaskan kembali dukungannya terhadap Gennaro Gattuso sebagai pelatih Tim Nasional Italia, meski Azzurri gagal lolos ke Piala Dunia 2026. Dalam wawancara di podcast “Tutto in Piazza” milik Corriere dello Sport, sang legenda kiper mengungkap alasan di balik keputusan kritis tersebut dan menolak untuk mengubah pendiriannya meski ada kritik luas.

Buffon, yang sempat menjabat sebagai ketua delegasi Italia selama beberapa tahun, mengaku mengusulkan nama Gattuso pada saat pergantian pelatih setelah kegagalan di babak play‑off melawan Bosnia dan Herzegovina. “Saya mendorong agar dia datang karena pada saat itu Italia membutuhkan sosok yang dapat menyalakan semangat tim dengan cara yang berbeda,” ujar Buffon. “Dia memang orang yang tepat untuk momen itu, dan satu penalti yang terlewat tidak akan mengubah pandangan saya.”

Baca juga:
Spanyol Panggil Dubes Italia Usai Usulan Penangguhan Schengen, Hubungan Diplomatik Memanas

Keputusan Buffon untuk mundur dari staf nasional datang tak lama setelah kekalahan dramatis melawan Bosnia pada Maret 2026. Kekalahan tersebut memicu pergantian total, termasuk pemecatan Gattuso, pengunduran diri Presiden FIGC Gabriele Gravina, serta penunjukan kembali Roberto Mancini sebagai pelatih utama. Buffon menegaskan bahwa ia memilih meninggalkan tim pada waktu yang tepat, mengutip rasa tanggung jawab pribadi sebagai motivasi utama.

“Saya adalah salah satu dari sedikit orang Italia yang berani mengambil keputusan dan keluar pada saat yang tepat,” katanya. “Banyak yang ingin kembali atau tetap berada di dalam, tapi saya memilih meluangkan waktu untuk keluarga dan pertumbuhan pribadi.” Ia menambahkan bahwa selama dua dekade berkarier, tekanan mental dan ekspektasi publik menjadi beban berat, namun ia selalu berusaha memaafkan diri sendiri atas kesalahan yang terjadi.

Dalam percakapan yang sama, Buffon membuka sisi pribadi yang jarang terlihat di media. Ia mengakui pernah mengalami fase depresi dan kecemasan, terutama setelah mengalami cedera berat di Juventus dan kegagalan Italia di kualifikasi. “Setiap orang memiliki momen gelap, dan saya tidak terkecuali,” ungkapnya. “Yang penting adalah bagaimana kita menghadapi dan belajar darinya. Saya selalu berusaha memaafkan diri sendiri, karena itu kunci untuk melanjutkan perjalanan.”

Pengakuan ini menambah dimensi baru pada citra Buffon yang selama ini dikenal sebagai sosok tak tergoyahkan di lapangan. Ia menekankan pentingnya dukungan keluarga, terutama anak‑anaknya yang kini sedang menapaki masa remaja. “Saya ingin menjadi ayah yang hadir, bukan hanya pahlawan sepak bola,” tambahnya.

Sementara itu, Gianluigi Donnarumma, kapten Azzurri, mengajak para pendukung Italia untuk tetap setia mendukung tim di Nations League mendatang. Donnarumma menyoroti tantangan yang dihadapi setelah musim panas yang “heartbreaking”, namun menegaskan bahwa semangat baru harus dibangun bersama.

Baca juga:
Italia Tangguhkan Sistem Schengen dengan Spanyol untuk Perketat Keamanan Perbatasan

Meski Gattuso telah digantikan oleh Mancini, Buffon tetap percaya bahwa keputusan awalnya tepat. Ia menilai bahwa Gattuso berhasil menyalakan kembali rasa kebanggaan dan semangat juang di antara pemain muda yang dipanggil pada turnamen persahabatan Juni 2025. “Saya tidak menyesal, karena pada saat itu kami berada dalam situasi yang sangat sulit dan Gattuso memberikan apa yang kami butuhkan,” ujarnya.

Para pengamat sepak bola menilai bahwa pernyataan Buffon mencerminkan pola umum di dunia olahraga, di mana figur legendaris sering menjadi suara moral yang menyeimbangkan keputusan manajerial. Mereka menilai bahwa keberanian Buffon untuk mengakui kegagalan pribadi sekaligus mendukung keputusan teknis dapat menjadi contoh bagi generasi berikutnya.

Ke depan, Italia akan menghadapi Belgia pada 25 September dalam rangka Nations League, diikuti oleh pertandingan melawan Turki dan Prancis. Buffon berharap bahwa dukungan publik dan kebijakan federasi akan membantu tim kembali ke jalur kualifikasi Piala Dunia berikutnya.

Dengan menutup babak sebagai ketua delegasi, Buffon menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi bagian dari proses pembangunan sepak bola Italia, meski tidak lagi berada di garis depan. “Saya akan selalu mendukung Italia, dalam apa pun kapasitas yang memungkinkan,” tuturnya, menandai akhir sebuah era sekaligus membuka lembaran baru bagi Azzurri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *