Zinédine Zidane Guncang Timnas Prancis dengan Pilihan Muda dan Kontroversi Baru
Ule.co.id – Sejak diumumkannya pada akhir Juli, Zinédine Zidane telah menjadi sorotan utama dunia sepak bola Prancis. Mantan bintang Real Madrid ini mengambil alih bangku kepelatihan Timnas Prancis, menggantikan Didier Deschamps yang mengakhiri masa jabatannya setelah Piala Dunia 2022. Keputusan Zidane untuk mengubah paradigma seleksi pemain menimbulkan antisipasi tinggi menjelang empat laga Liga Nations pada September‑Oktober 2026.
Daftar pertama yang dirilis Zidane mencakup 23 nama, di mana lima di antaranya merupakan wajah baru bagi skuad biru. Di antara mereka, penjaga gawang muda dari Toulouse, Guillaume Restes, mendapat panggilan pertama untuk timnas. Restes, yang baru berusia 21 tahun, baru-baru ini menampilkan performa gemilang dalam kemenangan 3‑2 atas Le Havre, mencatat dua penyelamatan krusial termasuk satu refleks horisontal pada menit tambahan. Pelatih Toulouse, Jens Berthel Askou, menyambut baik pemanggilan tersebut, menilai keputusan Zidane sebagai langkah tepat untuk mengembangkan talenta lokal.
Selain Restes, Zidane menambahkan tiga pemain muda lainnya: bek kanan Andy Diouf (Inter Milan), gelandang Lucas Da Cunha (Côme) dan penyerang Esteban Le Paul (Stade Rennais). Pilihan ini menandakan niat Zidane untuk meremajakan skuad, sekaligus memberi kesempatan kepada pemain yang kurang mendapat sorotan di era Deschamps. Di sisi lain, veteran seperti Kylian Mbappé tetap dipertahankan sebagai kapten, menegaskan bahwa keseimbangan antara pengalaman dan energi muda menjadi prioritas utama.
Langkah Zidane dalam memperkuat posisi bek sayap juga menimbulkan perbincangan. Pada konferensi pers, ia menegaskan bahwa kebutuhan akan pemain sayap yang dapat berkontribusi secara defensif dan ofensif masih menjadi celah timnas. Oleh karena itu, Andy Diouf dipilih sebagai solusi, sementara Adrien Truffert, yang sedang berkarier di Bournemouth, juga masuk dalam daftar. Kedua pemain ini diharapkan dapat menambah variasi taktik dalam pertandingan melawan Turki, Belgia, dan Italia.
Namun, tidak semua pihak menyambut keputusan baru ini dengan positif. Mantan konsultan sepak bola, Pierre Menès, mengkritik secara tajam pemilihan Zidane, menyebutnya “bukan fan” terhadap sang mantan pemain. Menès menyoroti kurangnya pengalaman Zidane selama lima setengah tahun terakhir sejak meninggalkan Real Madrid pada 2021, meragukan kemampuan sang legenda dalam mengolah taktik modern dan mengoptimalkan potensi pemain muda. Meski demikian, Menès mengakui bahwa para pemain seperti Mbappé tetap menghormati Zidane, dan berharap perubahan tidak mengganggu stabilitas tim.
Reaksi media internasional, khususnya di Spanyol, juga menyoroti perubahan signifikan yang dibawa Zidane. Surat kabar Marca menamakan langkahnya sebagai “Revolusi Prancis”, menekankan kehadiran lima pemain baru yang tidak pernah dipanggil sebelumnya, termasuk Jérémy Jacquet (Liverpool) dan Lucas Da Cunha. Media Spanyol menilai bahwa keputusan Zidane menunjukkan keberanian untuk menata ulang skuad, sekaligus menimbulkan pertanyaan mengenai eksklusivitas pemain yang sebelumnya menjadi andalan Deschamps.
Di dalam lingkup domestik, pemilihan Restes menjadi topik hangat di Ligue 1. Pelatih Le Havre, Didier Digard, mengakui bahwa Restes tidak terpengaruh oleh tekanan panggilan internasional, melainkan tetap fokus pada tugasnya di klub. Restes menambah nilai bagi Toulouse dengan lebih dari 100 penampilan di Ligue 1 dan pengalaman sebagai wakil juara Olimpiade 2024 bersama timnas muda Prancis.
Jadwal pertandingan Timnas Prancis di bawah asuhan Zidane dimulai pada 25 September melawan Turki di Istanbul, dilanjutkan dengan pertemuan melawan Belgia pada 28 September di Brussels, serta dua laga di Stade de France melawan Italia dan Belgia pada awal Oktober. Persiapan intensif dijadwalkan di Clairefontaine pada 21 September, memberikan kesempatan bagi pemain baru untuk beradaptasi dengan taktik dan filosofi baru.
Secara keseluruhan, kebijakan seleksi Zinédine Zidane mencerminkan ambisi untuk mengembalikan kejayaan Timnas Prancis melalui kombinasi pengalaman veteran dan energi pemain muda. Meskipun mendapat kritik dari beberapa pundit, dukungan dari pemain senior dan antusiasme publik menunjukkan bahwa era baru sepak bola Prancis sedang dimulai. Semua mata kini tertuju pada performa tim dalam empat laga Liga Nations, yang akan menjadi tolok ukur awal keberhasilan Zidane sebagai pelatih nasional.

