analitik

Kabut Asap Paksa PJJ: Rana Soroti Keaktifan Guru dan Siswa di Palangka Raya

Ule.co.id – Kabut Asap Paksa PJJ Rana Soroti Keaktifan Guru dan Siswa menjadi sorotan utama anggota DPRD Kota Palangka Raya setelah kabut asap melanda wilayah tersebut, memaksa peralihan pembelajaran dari kelas ke rumah. Sekretaris Komisi III DPRD, Rana Muthia Oktari, menekankan pentingnya memantau kualitas proses belajar mengajar selama periode tersebut.

Kondisi kualitas udara yang menurun drastis mengharuskan otoritas setempat menutup sekolah demi melindungi kesehatan anak-anak. Namun, penutupan fisik tidak serta merta menjamin proses belajar tetap efektif. PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) harus mampu menyesuaikan metode dengan tantangan lingkungan, termasuk keterbatasan akses internet dan ketersediaan perangkat.

Baca juga:
Penataan Kabel di Palangka Raya Bikin Wajah Kota Berubah, Tiang dan Kabel Semrawut Mulai Ditertibkan
➜

Rana menegaskan bahwa evaluasi tidak boleh berhenti pada sekadar memindahkan lokasi belajar. “Yang perlu kita awasi adalah bagaimana keaktifan tenaga pendidik dan peserta didik selama PJJ. Apakah metode ini relevan dengan kondisi kabut asap saat ini, serta apa manfaat dan dampaknya selama proses belajar,” ujarnya pada Selasa (29/9/2026). Pernyataan tersebut menegaskan bahwa keaktifan guru dan siswa menjadi indikator utama keberhasilan kebijakan.

Di sisi lain, siswa yang berada di rumah menghadapi tantangan berbeda, mulai dari gangguan lingkungan hingga keterbatasan ruang belajar yang kondusif. Rana menekankan pentingnya pendampingan orang tua atau wali dalam memastikan anak tetap terlibat aktif. “Guru tetap memiliki tanggung jawab memastikan materi tersampaikan, sementara siswa perlu didukung agar tidak kehilangan motivasi,” tambahnya.

Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya diharapkan melakukan koordinasi intensif dengan sekolah-sekolah untuk mengidentifikasi kendala yang muncul. Hal ini mencakup penyediaan materi offline bagi wilayah dengan sinyal internet lemah, serta pelatihan bagi guru dalam penggunaan platform digital yang ramah pengguna.

Beberapa kendala teknis yang diidentifikasi meliputi jaringan internet yang tidak stabil, kurangnya perangkat komputer atau tablet di rumah, serta rendahnya literasi digital di kalangan orang tua. Rana mengusulkan agar pemerintah daerah menyediakan paket bantuan teknologi bagi keluarga kurang mampu, sehingga kesenjangan digital tidak memperparah ketimpangan pendidikan.

Meskipun PJJ dipandang sebagai langkah perlindungan kesehatan, Rana menegaskan bahwa hak siswa untuk memperoleh pembelajaran yang efektif tetap harus dijaga. “Jangan sampai kita hanya melihat anak tidak datang ke sekolah, tetapi tidak melihat apakah proses belajarnya benar-benar berjalan di rumah,” tegasnya.

Baca juga:
Sumur Bor Pahandut: Solusi Antisipasi Kendala Air pada Empat Titik Karhutla di Pahandut
➜

Evaluasi menyeluruh mencakup empat pilar utama: kualitas udara, keaktifan guru, keaktifan siswa, dan capaian pembelajaran. Data yang terkumpul akan menjadi dasar bagi perbaikan kebijakan di masa mendatang, termasuk kemungkinan penyesuaian kurikulum atau metode pengajaran yang lebih fleksibel.

Jika implementasi PJJ berhasil, diharapkan tidak hanya melindungi kesehatan, tetapi juga meningkatkan kemampuan adaptasi sistem pendidikan terhadap situasi darurat. Sebaliknya, kegagalan dalam memantau keaktifan dapat menurunkan prestasi siswa dan menambah beban mental bagi guru.

Rana kembali menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas. “Kabut Asap Paksa PJJ Rana Soroti Keaktifan Guru dan Siswa” menjadi mantra yang harus dijadikan acuan dalam setiap rapat evaluasi, guna memastikan bahwa setiap langkah kebijakan memiliki dampak positif yang terukur.

Dengan komitmen bersama antara DPRD, Dinas Pendidikan, guru, orang tua, dan siswa, diharapkan pembelajaran jarak jauh selama kabut asap tidak hanya menjadi solusi sementara, melainkan peluang untuk memperkuat sistem pendidikan yang lebih resilient dan inklusif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *