Raih Dua Penghargaan di ICYSS 2026, Siswi Palangka Raya Bersaing di 12 Negara
Ule.co.id – Yumanita Athifah, siswi kelas XII SMAS Bina Cita Utama Palangka Raya, Raih Dua Penghargaan di Tengah Persaingan 12 Negara pada ajang International Conference of Young Social Scientists (ICYSS) 2026 yang digelar di Bali. Prestasi tersebut menandai pencapaian luar biasa bagi seorang pelajar yang mengangkat penelitian tentang ekonomi dan budaya Dayak ke panggung internasional.
Dalam kompetisi yang mempertemukan 75 peserta dari 12 negara, Yumanita berhasil menjuarai kategori Oral Presentation bidang ekonomi dengan posisi pertama, sekaligus memperoleh juara kedua pada kategori Poster Presentation dengan topik yang sama. Kedua penghargaan itu diraih berkat penelitian berjudul “Weaving Culture into Value: How HANDEP’s Social Enterprise Shapes Consumer Willingness to Pay for Dayak Rattan Fashion Crafts” yang mengkaji peran nilai budaya dalam meningkatkan loyalitas dan kesediaan konsumen membayar lebih untuk produk fashion rotan.
Persaingan yang dihadapi tidaklah mudah. Peserta datang dari Indonesia, Malaysia, Thailand, India, Macau, Mongolia, Belanda, Guam, Serbia, Slovenia, Rusia, dan Romania. Masing‑masing membawa puluhan karya ilmiah di bidang ekonomi, geografi, psikologi, sosiologi, sejarah, dan lingkungan. Di tengah keragaman tersebut, Yumanita menonjolkan keunikan risetnya yang memadukan aspek sosial, budaya, dan ekonomi lokal.
Sebelum menembus panggung internasional, Yumanita harus melewati proses seleksi ketat di tingkat nasional. Ia berhasil menjadi juara satu pada seleksi Tim Indonesia yang diselenggarakan oleh CYS Indonesia, kemudian dilatih tiga kali intensif bersama guru pembimbingnya, Hesti Wulandari Aritonang, sejak Agustus 2025. Pendekatan pembinaan yang meliputi perbaikan metodologi riset, penyusunan presentasi, dan simulasi tanya‑jawab membantu Yumanita mempersiapkan diri secara matang.
Setelah tiba di Bali, Yumanita tidak hanya fokus pada kompetisi. Ia menyatakan bahwa interaksi dengan pelajar dari berbagai negara memberikan pengalaman berharga yang tak ternilai. “Kompetisi yang saya ikuti merupakan sebuah pengalaman yang tidak akan terlupakan. Bukan hanya karena hasil yang didapatkan namun juga pengalaman dan pertemanan baru yang terbentuk,” ujarnya pada 25 September 2026.
Keberhasilan Raih Dua Penghargaan di Tengah Persaingan 12 Negara tidak lepas dari dukungan ekosistem sekolah. Kepala SMAS Bina Cita Utama, Indes Permatahati Parhusip, menegaskan kebanggaan seluruh komunitas sekolah atas pencapaian Yumanita. Ia menambahkan bahwa proses pembinaan yang intensif memberikan pelajar kesempatan mengasah kemampuan riset dan kompetisi secara holistik.
Penelitian Yumanita menyoroti HANDEP (HANDmade Ethical Products), sebuah social enterprise yang memproduksi fashion berbahan rotan dengan nilai budaya Dayak yang kuat. Temuan menunjukkan bahwa konsumen yang memahami nilai budaya di balik produk cenderung bersedia membayar premium, sekaligus meningkatkan citra produk sebagai barang etis dan berkelanjutan. Hasil ini relevan dengan agenda global Sustainable Development Goals, khususnya dalam mempromosikan produk lokal yang ramah lingkungan.
ICYSS 2026 sendiri dilaksanakan bersamaan dengan World Olympiad of Sustainable Development and Environmental Protection (WOSDEP) 2026 di Universitas Udayana, Bali. Forum tersebut menjadi wadah bagi lebih dari 50 penelitian muda untuk dipresentasikan, memperkuat jaringan kolaborasi lintas negara dalam bidang ilmu sosial dan lingkungan.
Bagi Yumanita, pencapaian ini merupakan motivasi untuk terus mengembangkan diri dan menginspirasi pelajar lain. Ia berharap keberhasilan Raih Dua Penghargaan di Tengah Persaingan 12 Negara dapat mendorong generasi muda Indonesia untuk berani berpartisipasi dalam kompetisi internasional, memanfaatkan potensi lokal, dan berkontribusi pada solusi ekonomi berkelanjutan.
Prestasi ini sekaligus menegaskan bahwa dukungan keluarga, guru, dan institusi pendidikan menjadi faktor kunci dalam mengoptimalkan potensi pelajar. Dengan semangat yang sama, SMAS Bina Cita Utama berkomitmen terus mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berdaya saing di kancah global.

