Harga DRAM Melonjak 50 Persen, Konsumen Gugat Samsung, SK Hynix, dan Micron di AS
Ule.co.id – Harga DRAM melonjak tajam dan diperkirakan terus mengalami kenaikan hingga beberapa tahun ke depan. Kondisi ini membuat biaya produksi berbagai perangkat elektronik ikut meningkat, mulai dari PC, laptop, smartphone, hingga server AI. Di tengah lonjakan tersebut, Samsung, SK Hynix, dan Micron kini menghadapi gugatan class action di Amerika Serikat atas dugaan melakukan praktik kartel yang memicu kenaikan harga memori secara tidak wajar.
Gugatan tersebut diajukan oleh 17 konsumen di California melalui perkara Garciaguirre et al. v. Samsung Electronics Co., Ltd. et al. Para penggugat menilai tiga produsen memori terbesar di dunia itu sengaja membatasi pasokan DRAM konvensional untuk mempertahankan harga tetap tinggi di tengah meningkatnya permintaan pasar.
Situasi ini menjadi perhatian industri karena ketiga perusahaan tersebut menguasai sebagian besar pasar DRAM global. Jika tuduhan terbukti di pengadilan, kasus ini berpotensi menjadi skandal manipulasi harga ketiga yang melibatkan Samsung, SK Hynix, dan Micron dalam kurun waktu sekitar tiga dekade.
Harga DRAM Melonjak Lebih Agresif
Prediksi terbaru dari mantan eksekutif Samsung China yang kini menjadi konsultan industri memori, Ethan Tan, menunjukkan bahwa kenaikan harga memori akan berlangsung lebih agresif dibandingkan perkiraan sebelumnya.
Dalam pemaparannya kepada Jefferies Equity Research, harga DRAM diperkirakan naik sekitar 40 hingga 50 persen pada kuartal ketiga dibandingkan kuartal sebelumnya. Tren tersebut diperkirakan berlanjut pada kuartal keempat dengan kenaikan tambahan sekitar 30 hingga 40 persen.
Secara kumulatif, harga memori untuk kebutuhan pusat data bahkan telah melonjak hingga sekitar 700 persen dalam empat tahun terakhir. Kenaikan ini turut memengaruhi harga berbagai perangkat elektronik dari produsen besar seperti Apple, Sony, dan Microsoft yang mulai menyesuaikan harga produk mereka akibat meningkatnya biaya komponen.
Selain tingginya permintaan, kapasitas produksi global juga belum mampu mengimbanginya. Perkembangan teknologi fabrikasi semikonduktor hanya menambah suplai sekitar 7 hingga 8 persen sepanjang tahun, sehingga pasokan masih tergolong terbatas.
Di sisi lain, produsen memori kini lebih fokus memproduksi High Bandwidth Memory (HBM) untuk kebutuhan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI). Segmen tersebut menawarkan keuntungan yang jauh lebih tinggi dibandingkan produksi DRAM konvensional untuk komputer pribadi maupun smartphone.
Dugaan Kartel Jadi Sorotan
Para penggugat menilai kondisi pasar saat ini tidak mencerminkan persaingan yang sehat. Dalam mekanisme pasar normal, ketika harga suatu komoditas naik tajam, produsen biasanya meningkatkan produksi untuk memperoleh pangsa pasar lebih besar sekaligus menekan harga.
Namun dalam kasus ini, Samsung, SK Hynix, dan Micron justru diduga sama-sama mempertahankan produksi DRAM konvensional pada level terbatas meski permintaan terus meningkat. Dugaan inilah yang menjadi dasar gugatan dugaan kartel atau price-fixing.
Kasus serupa pernah terjadi pada periode 1998 hingga 2002. Saat itu Samsung dijatuhi denda sekitar 300 juta dolar AS, sementara Hynix—yang kini menjadi SK Hynix—membayar denda sekitar 185 juta dolar AS terkait praktik pengaturan harga memori.
Produsen China Belum Mampu Menjadi Penyeimbang
Sebagian kalangan berharap ChangXin Memory Technologies (CXMT) dari China dapat menjadi alternatif untuk meningkatkan persaingan pasar. Meski RAM DDR5 buatan perusahaan tersebut dinilai memiliki performa yang kompetitif untuk konsumen, pengaruhnya di pasar global masih terbatas.
Salah satu penyebab utamanya adalah pembatasan perdagangan dari Amerika Serikat yang membuat CXMT tidak memiliki akses terhadap mesin litografi Extreme Ultraviolet (EUV). Tanpa teknologi tersebut, pengembangan memori generasi terbaru seperti DDR6 maupun HBM berkecepatan tinggi menjadi lebih sulit dilakukan.
Analis memperkirakan produsen China baru berpotensi memberikan dampak signifikan pada pasar memori global beberapa tahun mendatang, terutama di sektor NAND.
Dampak bagi Pengguna PC
Bagi konsumen yang berencana merakit PC baru atau menambah kapasitas RAM dan penyimpanan, tren harga DRAM melonjak menjadi sinyal bahwa biaya upgrade kemungkinan masih akan terus meningkat.
Selama pasokan tetap terbatas dan permintaan dari industri AI terus tumbuh, harga komponen memori diperkirakan belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Sejumlah analis bahkan memperkirakan pemulihan pasar baru dapat terjadi paling cepat pada 2028.
Karena itu, membeli RAM atau SSD selagi stok lama masih tersedia di pasar dapat menjadi pilihan yang lebih ekonomis sebelum gelombang kenaikan harga berikutnya benar-benar terjadi.

