Ekobis

Rupiah Berpeluang Menguat, Sentimen Global Mereda dan Dolar AS Melemah

Ilustrasi

JAKARTA, Ule.co.id – Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak menguat terbatas pada perdagangan awal pekan ini, seiring meredanya kekhawatiran gangguan pasokan global serta pelemahan dolar Amerika Serikat (AS).

Pada Senin pagi, rupiah tercatat bergerak stagnan di level Rp17.337 per dolar AS, tidak berubah dibandingkan penutupan sebelumnya. Meski demikian, analis melihat adanya ruang penguatan dalam jangka pendek, didorong oleh perbaikan sentimen eksternal.

Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menyebut salah satu katalis utama berasal dari perkembangan geopolitik di Selat Hormuz—jalur vital distribusi energi global.

“Rupiah berpotensi menguat merespons pernyataan Trump yang akan ‘membebaskan’ kapal-kapal di Selat Hormuz, sehingga meredakan kekhawatiran gangguan pasokan global dan menekan harga minyak,” ujarnya di Jakarta.

Langkah yang diumumkan Presiden AS Donald Trump itu mencakup pengawalan kapal-kapal asing netral yang terjebak di kawasan tersebut. Inisiatif yang disebut sebagai “Proyek Kebebasan” bertujuan memastikan jalur pelayaran kembali aman, sekaligus mengatasi krisis logistik yang dialami sejumlah kapal.

Pasar merespons positif langkah tersebut karena potensi stabilisasi distribusi energi global. Penurunan risiko gangguan pasokan minyak secara langsung berdampak pada ekspektasi harga energi, yang selama ini menjadi salah satu pendorong inflasi global.

Di sisi lain, tekanan terhadap dolar AS juga memberi ruang bagi mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Pelemahan dolar dipicu data manufaktur AS yang lebih lemah dari ekspektasi, serta intervensi Bank of Japan (BoJ) yang mendorong penguatan yen.

“Intervensi BoJ menyebabkan indeks dolar AS melemah, yang secara umum mendukung penguatan mata uang lain,” kata Lukman.

Meski demikian, penguatan rupiah diperkirakan tidak akan agresif. Pelaku pasar cenderung bersikap hati-hati sambil menunggu rilis sejumlah data ekonomi domestik yang dijadwalkan keluar hari ini, termasuk inflasi dan neraca perdagangan.

Konsensus pasar memperkirakan inflasi tahunan (year-on-year) Indonesia akan melandai dari 3,48 persen menjadi sekitar 3,0 persen. Sementara itu, neraca perdagangan diproyeksikan tetap mencatat surplus di kisaran 4 miliar dolar AS.

Kombinasi faktor global dan domestik tersebut diperkirakan akan menjaga pergerakan rupiah dalam rentang terbatas.

“Rupiah kemungkinan bergerak di kisaran Rp17.250 hingga Rp17.400 per dolar AS,” ujar Lukman.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika rupiah saat ini menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap faktor eksternal, khususnya geopolitik dan arah kebijakan moneter global. Stabilitas jangka menengah masih akan sangat bergantung pada konsistensi fundamental domestik, termasuk inflasi yang terkendali dan kinerja ekspor yang solid.

Dengan kata lain, sentimen global bisa memberi napas sementara—tetapi fondasi domestik tetap menjadi penentu utama arah rupiah ke depan.

Mungkin Anda Suka

Tinggalkan Komentar

Alamat email tidak akan dipublikasikan. Kolom wajib ditandai *