analitik

Dolar Amerika Serikat Melemah, Emas Meroket dan Rupiah Berbalik Menguat di Tengah Turunnya Harga Minyak

Ule.co.id – Dolar amerika serikat kembali menunjukkan tanda pelemahan pada perdagangan akhir pekan, memicu kenaikan harga emas dunia dan memberi ruang bagi rupiah untuk kembali menguat setelah sempat tertekan sepanjang minggu.

Data pasar pada Jumat 18 September 2026 mencatat harga emas spot naik 0,9 persen menjadi USD 4.379,59 per ons, sementara kontrak berjangka emas menguat 0,4 persen menjadi USD 4.417,84 per ons. Kenaikan ini didorong oleh penurunan nilai dolar dan turunnya harga minyak mentah, yang sekaligus menurunkan tekanan inflasi komoditas di pasar global.

Baca juga:
Pengunduran Diri Catherine Hindra di GoTo dan Apresiasi Driver Legend: Dampak pada saham goto

Federal Reserve (The Fed) melakukan kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Rabu 16 September, pertama kalinya sejak Juli 2023. Meskipun kebijakan ini biasanya memperkuat dolar, pasar menilai kenaikan tersebut belum cukup agresif untuk menahan tekanan geopolitik dan kenaikan harga minyak yang sebelumnya menguat. Sebagai hasilnya, dolar tetap berada di zona lemah, memberi peluang bagi aset safe‑haven seperti emas.

Di Asia, mata uang regional mengalami tekanan signifikan. Won Korea terdepresiasi 3,19 persen, yen Jepang turun 2,11 persen, sementara yuan China menjadi satu‑satunya mata uang yang mencatat penguatan. Rupiah Indonesia berakhir pada level Rp17.730 per dolar, mengalami apresiasi tipis 0,03 persen namun masih melemah 0,82 persen secara mingguan. Fluktuasi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal seperti harga minyak yang turun 2,7 persen untuk Brent dan 3,2 persen untuk WTI, serta sentimen pasar yang mengantisipasi kebijakan moneter The Fed ke depan.

  • Harga emas spot: USD 4.379,59/ons (+0,9%)
  • Emas berjangka: USD 4.417,84/ons (+0,4%)
  • Rupiah: Rp17.730/US$ (apresiasi 0,03%)
  • Won KRW: -3,19%
  • Yen JPY: -2,11%
  • Brent: USD 105,83/barel (-2,7%)
  • WTI: USD 102,43/barel (-3,2%)

Pengamat pasar uang menilai bahwa penurunan harga minyak mentah dunia menjadi katalis utama bagi penguatan rupiah. Menurut analis Lukman Leong, harapan bahwa Arab Saudi dapat memulihkan setengah pasokan minyak yang terdampak memberikan sinyal positif bagi likuiditas global, sekaligus menurunkan tekanan pada indeks dolar amerika serikat dan imbal hasil obligasi AS.

Di sisi lain, kebijakan moneter Bank of Japan (BoJ) yang pada Jumat 18 September menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 1,25 persen – tertinggi sejak 1995 – tidak berhasil menguatkan yen. Pasar menilai kenaikan tersebut masih kurang hawkish dibandingkan ekspektasi, serta menyoroti kesenjangan suku bunga yang masih lebar antara AS dan Jepang, sehingga strategi carry‑trade yen tetap menarik bagi investor.

Baca juga:
Harga Emas Antam-Galeri24 Turun Sepekan, Buyback Justru Kompak Naik

Secara makro, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hingga akhir Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau 0,9 persen dari PDB. Meskipun defisit tetap berada di bawah target 2,68 persen PDB, tekanan fiskal dan fluktuasi nilai tukar dapat memengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia dalam beberapa minggu ke depan.

Para analis memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.700 hingga Rp17.800 per dolar AS pada perdagangan selanjutnya, seiring lanjutan penurunan harga minyak dan stabilisasi dolar. Sementara itu, harga emas diprediksi akan tetap berada di atas level USD 4.300 per ons selama dolar tetap lemah, memberikan peluang bagi investor yang mencari perlindungan nilai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *