analitik

Mahakam surut biaya: Curhat warga imbas Mahakam surut, ongkos naik dari Rp 400 ribu jadi Rp 1 juta

Ule.co.id – Curhat warga imbas Mahakam surut: Ongkos naik dari Rp 400 ribu jadi Rp 1 juta [titlebase] menjadi sorotan utama ketika penduduk Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) harus menanggung beban biaya transportasi yang melambung tajam akibat penurunan debit sungai. Selama musim kemarau panjang, sungai Mahakam yang biasanya menjadi urat nadi mobilitas barang dan penumpang kini menyusut, memaksa warga seperti Desy, seorang penduduk Kecamatan Long Hubung, beralih ke moda darat dengan tarif mencapai satu juta rupiah per perjalanan.

Kondisi ini tidak hanya mengganggu keseharian, tetapi juga menimbulkan tekanan ekonomi yang signifikan bagi keluarga berpenghasilan menengah ke bawah. Sebelumnya, tarif kapal penumpang hanya sekitar Rp 400 ribu, namun kini perjalanan darat memakan waktu 15 hingga 18 jam dan menambah biaya makan serta akomodasi. Dampaknya terasa pada sektor lain, termasuk petani yang harus mengirim hasil panen ke pasar Samarinda, serta pelajar yang harus menempuh jarak jauh untuk melanjutkan pendidikan.

Baca juga:
Populer: Direktur Garuda Indonesia Dicopot; Asing Lepas Saham RI Rp 1,18 T

Penurunan debit Mahakam bukan sekadar masalah transportasi; ia juga mengancam ekosistem lokal. Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI) mengingatkan bahwa pesut Mahakam, spesies endemik yang sudah terancam punah, kini terpaksa bergerak lebih jauh ke hulu untuk mencari perairan yang cukup. Danielle Kreb, pimpinan Program Ilmiah RASI, menekankan pentingnya peran masyarakat sebagai sistem peringatan dini. “Jika melihat pesut kesulitan bergerak, segera laporkan ke RASI atau Balai Pengelolaan Kelautan,” ujarnya.

Selain dampak lingkungan, sektor ketenagakerjaan di pelabuhan juga mengalami penurunan drastis. Ahmad Gazali, buruh Dermaga Sungai Kunjang, melaporkan penurunan aktivitas bongkar muat hingga 75 persen selama musim kemarau. Banyak kapal yang terpaksa berhenti di titik tertentu, memaksa muatan dilanjutkan dengan truk. Hal ini menurunkan pendapatan harian para pekerja pelabuhan dan mengurangi kesempatan kerja bagi penduduk setempat.

Para ahli ekonomi menilai lonjakan biaya transportasi ini dapat memperburuk ketimpangan regional. “Kenaikan tarif dari Rp 400 ribu menjadi Rp 1 juta bukan sekadar angka, melainkan beban tambahan yang mengurangi daya beli masyarakat,” ujar Dr. Budi Santoso, dosen Ekonomi Pembangunan Universitas Mulawarman. Ia menambahkan bahwa pemerintah daerah perlu segera merencanakan alternatif transportasi, seperti perbaikan jalan darat yang lebih aman dan pengembangan layanan feri yang dapat menyesuaikan diri dengan fluktuasi debit sungai.

Upaya mitigasi telah mulai digulirkan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk memperkuat sistem peringatan dini dan mempercepat respons penyelamatan pesut yang terjebak. Sementara itu, beberapa operator angkutan darat menawarkan paket diskon bagi penumpang yang melakukan perjalanan pulang‑pergi, meski masih jauh dari tarif kapal tradisional.

Baca juga:
Program GENCARKAN Tingkatkan Inklusi Keuangan Masyarakat Pulang Pisau

Di tengah tantangan ini, kisah Desy menjadi cermin perjuangan warga Mahulu yang harus menyesuaikan diri dengan realitas baru. “Kalau biasanya naik kapal sekitar Rp 400 ribu, sekarang harus lewat darat. Biayanya bisa sampai Rp 1 juta,” ujarnya kepada media. Ia menambahkan bahwa selain biaya, perjalanan darat menambah kelelahan fisik dan risiko keselamatan di jalan yang belum sepenuhnya terawat.

Dengan Mahakam surut biaya yang terus meningkat, tekanan pada infrastruktur, lingkungan, dan kesejahteraan sosial semakin terasa. Diperlukan sinergi antara pemerintah, lembaga konservasi, dan masyarakat untuk menemukan solusi jangka panjang yang menjaga kelancaran transportasi sekaligus melestarikan ekosistem sungai.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *