analitik

Banjir Mentaya Hulu Belum Surut, Aktivitas Sekolah Lumpuh dan Jalan Desa Terputus

SAMPIT, Ule.co.id – Banjir Mentaya Hulu yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda surut. Debit air yang terus meningkat membuat aktivitas masyarakat terganggu, termasuk kegiatan belajar mengajar di sejumlah sekolah dasar.

Akibat kondisi tersebut, Dinas Pendidikan Kotim memutuskan menerapkan sistem Belajar dari Rumah (BDR) bagi enam sekolah yang terdampak langsung oleh banjir. Kebijakan ini diambil setelah ruang kelas dan halaman sekolah terendam air sehingga proses pembelajaran tatap muka tidak memungkinkan dilakukan.

Kepala Dinas Pendidikan Kotim, Yolanda Lonita Fenisia, mengatakan keputusan tersebut dilakukan demi menjaga keselamatan siswa dan tenaga pengajar sambil memastikan kegiatan pendidikan tetap berjalan.

Baca juga:
Mahasiswa Unhan Bersyukur Jalani Program Pertukaran Pelajar UEA

“Untuk sementara ada enam sekolah di tiga wilayah di Kecamatan Mentaya Hulu dan informasinya dari kepala sekolah tidak bisa melakukan pembelajaran secara tatap muka,” ujarnya di Sampit, Selasa.

Banjir Mentaya Hulu dalam beberapa hari terakhir memang semakin meluas. Selain sekolah, sejumlah akses jalan desa juga dilaporkan mulai sulit dilalui kendaraan karena genangan air terus bertambah.

Enam Sekolah di Kotim Terapkan Sistem BDR

Enam sekolah yang terdampak Banjir Mentaya Hulu dan kini menerapkan sistem belajar dari rumah terdiri dari:

  • SDN 3 Tanjung Kariangau
  • SDN 2 Tanjung Kariangau
  • SDN 1 Bawan
  • SDN 3 Kuala Kuayan
  • SDN 1 Tanjung Jariangau
  • SDN 2 Kuala Kuayan

Sekolah-sekolah tersebut berada di wilayah yang terdampak cukup parah akibat luapan air sungai dan banjir kiriman dari daerah hulu.

Menurut Yolanda, meskipun siswa tidak datang ke sekolah, kegiatan belajar tetap berlangsung dari rumah masing-masing. Guru diminta menyesuaikan metode pembelajaran sesuai kondisi lapangan agar proses pendidikan tidak terhenti.

“Mereka belajar dari rumah karena keadaan tidak memungkinkan oleh debit air yang tinggi,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kebijakan BDR bukan berarti meliburkan siswa. Sistem tersebut hanya memindahkan aktivitas belajar demi keamanan dan keselamatan seluruh peserta didik.

“Surat edaran memang belum ada, tapi tiap sekolah bisa melihat kondisi situasi di sekolah mereka masing-masing untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah apabila tidak memungkinkan. Bukan libur, tapi belajar dari rumah,” tegas Yolanda.

Banjir Mentaya Hulu Belum Menunjukkan Tanda Surut

Sementara itu, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, membenarkan bahwa kondisi Banjir Mentaya Hulu masih berlangsung hingga saat ini.

Menurutnya, BPBD telah menyampaikan informasi terkait perkembangan banjir kepada Dinas Pendidikan sejak beberapa hari lalu agar penyesuaian kegiatan belajar dapat segera dilakukan.

“Hari Minggu, informasi ini sudah kami teruskan ke Dinas Pendidikan dan untuk proses pembelajaran akan disesuaikan dengan kondisi lapangan,” ungkapnya.

BPBD mencatat tinggi muka air saat ini berkisar antara 34 sentimeter hingga 89 sentimeter dari permukaan jalan. Bahkan di beberapa lokasi, air mulai mendekati lantai rumah warga.

“Kenaikan air sekitar 4 sentimeter dari hari kemarin,” ujar Multazam.

Kondisi tersebut membuat warga diminta tetap waspada, terutama apabila curah hujan di wilayah hulu kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Jalan Desa Terputus Akibat Banjir Mentaya Hulu

Selain berdampak terhadap sektor pendidikan, Banjir Mentaya Hulu juga menyebabkan sejumlah akses jalan desa terganggu. Genangan air membuat mobilitas masyarakat menjadi lebih sulit dibanding hari-hari normal.

Camat Mentaya Hulu, Edison, mengatakan beberapa jalur utama tidak dapat dilalui secara maksimal sehingga masyarakat memanfaatkan jalan alternatif milik perusahaan.

“Jalan dari Kecamatan Mentaya Hulu masih bisa dilewati lewat Pos 4 PT TASK. Sudah ada izin lintas, jadi untuk kebutuhan masyarakat, termasuk kondisi darurat dan kebutuhan pokok masih aman. Yang dibatasi hanya angkutan TBS karena ada jam operasional tertentu,” katanya.

Akses alternatif tersebut dinilai cukup membantu warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun keperluan darurat seperti layanan kesehatan dan distribusi logistik.

Baca juga:
Bapenda Temukan 134 Penunggak Pajak Kendaraan Palangka Raya Saat Razia, Ini Nilai Tunggakannya

Sejumlah Desa Terdampak Banjir Mentaya Hulu

Beberapa wilayah yang terdampak cukup parah akibat Banjir Mentaya Hulu antara lain:

  • Desa Tanjung Jariangau
  • Desa Bawan
  • Kelurahan Kuala Kuayan
  • Desa Tangkarobah
  • Desa Tanjung Bantur

Menurut Edison, banjir yang terjadi kali ini merupakan banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Kecamatan Telaga Antang dan Antang Kalang.

Meski curah hujan di Mentaya Hulu tidak terlalu tinggi, posisi geografis wilayah yang berada di pertemuan Sungai Wayan dan Sungai Mentaya membuat air bertahan lebih lama dibanding daerah lainnya.

“Kalau daerah lain dua sampai tiga hari sudah surut, di tempat kita bisa sampai satu minggu bahkan beberapa minggu karena air dari dua sungai bertemu di sini,” jelasnya.

Fenomena tersebut membuat Banjir Mentaya Hulu menjadi persoalan tahunan yang cukup sulit ditangani secara cepat, terutama saat debit sungai meningkat secara bersamaan.

Debit Air Terus Mengalami Kenaikan

Pemerintah Kecamatan Mentaya Hulu menyebut ketinggian air saat ini masih terus mengalami kenaikan bertahap. Dalam beberapa waktu terakhir, peningkatan debit air diperkirakan mencapai sekitar 20 sentimeter.

Meski begitu, sebagian besar rumah warga masih relatif aman karena masyarakat setempat sudah terbiasa menghadapi banjir musiman.

Banyak rumah dibangun menggunakan model rumah panggung dengan penyangga drum sehingga tetap aman ditempati ketika air naik.

“Belum ada laporan warga mengungsi. Kalau ada warga sakit atau kondisi darurat lainnya juga sudah ada solusi transportasi. Mobilitas masyarakat sejauh ini masih aman dan lancar,” ujar Edison.

Namun demikian, warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan apabila hujan deras kembali terjadi di kawasan hulu sungai.

Banjir Mentaya Hulu Jadi Ancaman Tahunan

Banjir Mentaya Hulu bukan kejadian baru bagi masyarakat setempat. Setiap musim hujan, sejumlah desa di wilayah tersebut hampir selalu terdampak luapan sungai.

Kondisi geografis yang berada di kawasan aliran sungai membuat air mudah meluap ketika intensitas hujan meningkat di daerah hulu. Akibatnya, genangan dapat bertahan selama berhari-hari bahkan berminggu-minggu.

Situasi ini juga berdampak terhadap berbagai sektor, mulai dari pendidikan, transportasi, aktivitas ekonomi hingga pelayanan publik masyarakat.

Penerapan BDR di enam sekolah menjadi salah satu langkah cepat pemerintah daerah untuk menjaga proses pendidikan tetap berjalan di tengah situasi darurat banjir.

Di sisi lain, masyarakat berharap penanganan jangka panjang terhadap Banjir Mentaya Hulu dapat segera dilakukan, termasuk perbaikan infrastruktur drainase dan penguatan akses jalan di wilayah rawan genangan.

Hingga kini, BPBD Kotim bersama pemerintah kecamatan masih terus memantau perkembangan kondisi banjir dan meminta warga tetap siaga terhadap kemungkinan kenaikan debit air susulan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *