analitik

Huma Betang Night Kembali Digelar di Palangka Raya, Strategi Jaga Budaya Lokal Sekaligus Dongkrak Ekonomi Daerah

PALANGKA RAYA, Ule.co.id — Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) kembali menghidupkan denyut malam akhir pekan di ibu kota provinsi melalui gelaran Car Free Night bertajuk Huma Betang Night. Kegiatan yang dipusatkan di kawasan Bundaran Besar Palangka Raya pada Sabtu malam (2/5) ini tidak sekadar menjadi ajang hiburan, melainkan juga strategi terpadu untuk menjaga eksistensi seni budaya lokal sekaligus menggerakkan roda perekonomian masyarakat.

Antusiasme masyarakat terlihat jelas sejak awal acara. Ribuan warga memadati kawasan Bundaran Besar, menikmati ragam pertunjukan seni tradisional hingga berburu kuliner khas yang dijajakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Suasana tersebut menegaskan bahwa Huma Betang Night bukan hanya sebuah event, tetapi telah menjelma menjadi ruang interaksi sosial yang hidup dan dinamis.

Baca juga:

Gubernur Kalimantan Tengah, Agustiar Sabran, menegaskan bahwa penyelenggaraan Huma Betang Night merupakan bagian dari komitmen pemerintah daerah dalam mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal di tengah arus modernisasi yang kian deras.

“Melalui Huma Betang Night, kita ingin memastikan bahwa budaya lokal tetap hidup dan tidak tergerus perkembangan zaman. Ini adalah semangat bersama untuk menjaga identitas daerah,” ujar Agustiar Sabran dalam sambutannya.

Panggung Budaya yang Hidup dan Relevan

Dalam gelaran tersebut, berbagai pertunjukan seni tradisional menjadi daya tarik utama. Seni karungut—salah satu bentuk sastra lisan khas Dayak—menggema di tengah kerumunan, menghadirkan nuansa autentik yang menghubungkan generasi muda dengan akar budaya mereka. Selain itu, tarian daerah dengan kostum khas penuh warna turut memeriahkan suasana, menciptakan pengalaman visual yang memikat.

Tidak hanya itu, Huma Betang Night juga membuka ruang bagi para seniman dan artis lokal untuk tampil di panggung yang representatif. Hal ini dinilai penting sebagai bentuk apresiasi terhadap karya seni lokal yang selama ini kerap minim ruang ekspresi.

Penjabat Sekretaris Daerah Kalteng, Linae Victoria Aden, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ekosistem budaya yang berkelanjutan.

“Huma Betang Night bukan sekadar hiburan, tetapi juga upaya konkret untuk menjaga eksistensi seni, budaya, dan kuliner khas daerah agar tetap relevan lintas generasi,” kata Linae.

Ia menambahkan bahwa keberadaan panggung terbuka seperti ini memberikan peluang bagi seniman lokal untuk berkembang sekaligus memperkenalkan karya mereka kepada publik yang lebih luas.

UMKM Dapat Angin Segar

Salah satu aspek paling signifikan dari Huma Betang Night adalah dampaknya terhadap sektor ekonomi, khususnya UMKM. Pemerintah provinsi secara khusus menyediakan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk berjualan, mulai dari kuliner tradisional hingga produk kerajinan tangan.

Dari pantauan di lapangan, lapak-lapak UMKM dipadati pengunjung. Berbagai makanan khas Kalimantan Tengah seperti juhu singkah, ikan bakar, hingga aneka kue tradisional laris diburu masyarakat. Kondisi ini menunjukkan adanya perputaran ekonomi yang cukup signifikan dalam waktu singkat.

Gubernur Agustiar Sabran menilai bahwa kegiatan seperti ini dapat menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi lokal.

Baca juga:

“Dengan menghadirkan keramaian, otomatis daya beli masyarakat meningkat. Ini menjadi peluang besar bagi UMKM untuk berkembang,” ujarnya.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus mendorong kegiatan serupa sebagai bagian dari strategi pemulihan dan penguatan ekonomi daerah.

Ruang Publik yang Aman dan Inklusif

Selain aspek budaya dan ekonomi, Huma Betang Night juga memiliki fungsi penting sebagai ruang publik yang aman, inklusif, dan inspiratif. Di tengah keterbatasan ruang interaksi masyarakat di malam hari, kehadiran Car Free Night menjadi alternatif aktivitas yang sehat dan positif.

Linae Victoria Aden menekankan bahwa pemerintah ingin menghadirkan ruang publik yang tidak hanya ramai, tetapi juga berkualitas.

“Kami ingin masyarakat memiliki pilihan aktivitas malam yang aman, nyaman, dan memberikan nilai tambah, baik secara sosial maupun budaya,” jelasnya.

Dengan konsep car free night, kawasan Bundaran Besar terbebas dari lalu lintas kendaraan bermotor selama acara berlangsung. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk berjalan kaki dengan leluasa, berinteraksi, serta menikmati suasana kota tanpa polusi dan kebisingan.

Menguatkan Identitas Huma Betang

Lebih dari sekadar event, Huma Betang Night juga menjadi medium untuk memperkuat nilai-nilai filosofis Huma Betang itu sendiri. Dalam budaya Dayak, Huma Betang melambangkan kehidupan bersama dalam keberagaman, dengan menjunjung tinggi toleransi, kebersamaan, dan harmoni.

Nilai-nilai tersebut tercermin dalam suasana acara yang mempertemukan berbagai lapisan masyarakat tanpa sekat. Dari anak-anak hingga orang tua, dari pelaku seni hingga pelaku usaha, semuanya berbaur dalam satu ruang yang sama.

“Ini adalah wujud nyata dari semangat Huma Betang, di mana kita hidup berdampingan dalam keberagaman,” kata Linae.

Momentum Peluncuran Program Strategis

Menariknya, gelaran Huma Betang Night kali ini juga dimanfaatkan sebagai momentum peluncuran sejumlah program strategis pemerintah daerah. Di antaranya adalah kalender kegiatan Hari Jadi ke-69 Provinsi Kalimantan Tengah, kanal pengaduan masyarakat “Lapor Pak Gub”, serta pengenalan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di kawasan Bundaran Besar.

Baca juga:

Peluncuran kanal “Lapor Pak Gub” menjadi langkah inovatif dalam meningkatkan partisipasi publik dan transparansi pemerintahan. Melalui platform ini, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi, keluhan, maupun laporan secara langsung kepada pemerintah provinsi.

Sementara itu, pengembangan RTH di Bundaran Besar diharapkan dapat menjadi paru-paru kota sekaligus ruang rekreasi yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Strategi Berkelanjutan untuk Masa Depan

Jika dicermati lebih dalam, Huma Betang Night bukan sekadar agenda seremonial. Kegiatan ini mencerminkan pendekatan pembangunan yang terintegrasi, menggabungkan aspek budaya, ekonomi, dan sosial dalam satu platform.

Di tengah tantangan globalisasi dan digitalisasi, pelestarian budaya lokal sering kali menghadapi tekanan. Namun, melalui inovasi seperti Huma Betang Night, pemerintah daerah menunjukkan bahwa tradisi dapat tetap hidup dengan cara yang relevan dan adaptif.

Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi dan kualitas penyelenggaraan. Event seperti ini membutuhkan kurasi konten yang kuat, manajemen yang profesional, serta dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk komunitas dan sektor swasta.

Namun, dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, peluang untuk menjadikan Huma Betang Night sebagai ikon budaya dan ekonomi Kalimantan Tengah terbuka lebar.

Denyut Kota yang Tak Pernah Padam

Saat malam semakin larut, suasana di Bundaran Besar tetap hidup. Lampu-lampu kota berpadu dengan sorak sorai penonton, menciptakan atmosfer yang hangat dan penuh energi. Di sudut lain, pelaku UMKM masih melayani pembeli, sementara di panggung utama, pertunjukan seni terus berlangsung.

Pemandangan ini menjadi bukti bahwa ketika budaya, ekonomi, dan ruang publik dikelola dengan baik, sebuah kota dapat memiliki denyut kehidupan yang kuat, bahkan di malam hari.

Huma Betang Night telah menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus bersifat statis. Sebaliknya, ia bisa menjadi dinamis, inklusif, dan bahkan menguntungkan secara ekonomi.

Dan jika ritme ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Palangka Raya akan dikenal bukan hanya sebagai ibu kota provinsi, tetapi juga sebagai pusat kebudayaan yang hidup—tempat di mana tradisi dan modernitas berjalan beriringan, tanpa saling meniadakan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *