analitik

Karhutla Menjadi Bencana Kemanusiaan: DPRD Kalteng Serukan Aksi Bersama Semua Pihak

Ule.co.id – Karhutla Menjadi Bencana Kemanusiaan di Provinsi Kalimantan Tengah menimbulkan dampak luas yang melampaui isu lingkungan, mengancam kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial masyarakat. Anggota DPRD Kalteng, Siti Nafsiah, menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan kini sudah menjadi krisis kemanusiaan yang membutuhkan respons terpadu.

Siti Nafsiah menyoroti bahwa efek asap tidak hanya menutupi langit, tetapi juga menurunkan kualitas udara, menimbulkan gangguan pernapasan, dan menghambat aktivitas produktif. “Karhutla ini bukan sekadar bencana lingkungan, melainkan bencana kemanusiaan karena dampaknya meluas ke manusia, hewan, tumbuhan, perkebunan, kesehatan, dan perekonomian,” ujarnya dalam konferensi pers di Palangka Raya.

Baca juga:
Karhutla Kalteng Makin Mengkhawatirkan: Data Terbaru, Dampak Luas, dan Upaya Penanggulangan 2026

DPRD Kalteng secara resmi menyatakan dukungan terhadap upaya pemerintah, termasuk penempatan tim pemadam, patroli udara, dan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Selain itu, partisipasi aktif masyarakat, seperti kelompok Pokmas, MPA, ormas, dan komunitas lokal, mendapat apresiasi khusus.

Dalam aksi solidaritas, Siti Nafsiah bersama Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Kalteng membagikan 5.000 masker gratis di empat titik lampu merah sekitar Bundaran Burung. Distribusi masker ditujukan bagi pejalan kaki dan pengendara yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan meski kualitas udara terganggu.

“Pembagian masker merupakan langkah perlindungan sederhana namun penting bagi warga yang terpaksa beraktivitas di tengah asap tebal,” kata Nafsiah, yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua PMI Kalteng. Ia menambahkan bahwa bantuan ini diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pernapasan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit kronis.

Berbagai dampak yang timbul akibat kebakaran hutan dan lahan dapat diringkas dalam daftar berikut:

Baca juga:
MTQH ke-53 Barito Utara: 320 Peserta dari Sembilan Kecamatan Berkontribusi dalam Acara
  • Gangguan pernapasan dan peningkatan kasus penyakit pernapasan akut.
  • Penurunan produktivitas pertanian akibat kerusakan tanaman.
  • Kerugian ekonomi pada sektor pariwisata dan transportasi.
  • Kematian atau stres pada satwa liar dan ekosistem hutan.
  • Peningkatan biaya kesehatan publik dan beban pada fasilitas medis.

Para ahli kesehatan menekankan pentingnya tindakan preventif, termasuk penggunaan masker N95 atau setara, serta pemantauan kualitas udara secara real time. Sementara itu, tim pemadam kebakaran terus berupaya memadamkan sumber api yang masih aktif, meski kondisi cuaca kering memperparah situasi.

Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama. Nafsiah berharap sinergi antara pemerintah, PMI, DPRD, relawan, dan komunitas dapat diperkuat hingga kebakaran teratasi sepenuhnya. Ia menutup dengan harapan agar upaya perlindungan warga berjalan seiring dengan penanggulangan sumber api, sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali normal.

Karhutla Menjadi Bencana Kemanusiaan menuntut respons cepat, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Dengan dukungan semua pihak, diharapkan kualitas udara akan pulih, kerugian dapat diminimalisir, dan kesejahteraan warga kembali terjaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *