analitik

Penanganan Karhutla Kalteng Diperkuat: Bangun 40 Sumur Bor di Kameloh dan Perbatasan Pulpis

Ule.co.id – Upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah semakin intensif setelah pemerintah memutuskan untuk Bangun 40 Sumur Bor di Kameloh dan Perbatasan Pulpis. Langkah tersebut diambil sebagai respons terhadap rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Palangka Raya pada 22 Agustus 2026, dengan tujuan mempercepat pendinginan lahan gambut yang rawan terbakar.

Personel Kodam XXII/Tambun Bungai, yang dipimpin oleh Pangdam Mayjen TNI Zainul Arifin, langsung turun ke lapangan. Mereka tidak hanya mengoperasikan helikopter untuk water bombing, tetapi juga menyiapkan sarana dan prasarana (sarpras) sumur bor yang didanai pemerintah pusat. Menurut Dandim 1016/Palangka Raya Kolonel Inf Kurniawan Agung Sancoyo, hingga akhir Agustus 2026, sekitar 40 sumur bor telah terpasang mulai dari Kelurahan Kameloh hingga perbatasan Kabupaten Pulang Pisau.

Baca juga:
GIIAS 2026 Siap Menghadirkan 6 Titik Shuttle Bus Gratis ke ICE BSD

Setiap sumur bor diperkirakan dapat menyuplai air cukup untuk membasahi lahan gambut seluas 100 meter persegi selama lebih dari tiga jam. Dengan demikian, satu sumur bor dapat menahan penyebaran api pada area yang cukup luas, mengurangi kebutuhan air tambahan dari sumber eksternal yang sering kali sulit diakses pada musim kemarau panjang.

Kondisi musim kemarau yang berkepanjangan dan tingkat kekeringan yang meningkat menjadi tantangan utama bagi petugas pemadam. Sumber air alami di banyak titik karhutla semakin menipis, sehingga keberadaan sumur bor menjadi alternatif strategis. Selain membantu pemadaman, sumur bor juga berperan dalam menurunkan intensitas asap yang biasanya melanda wilayah perkotaan dan daerah sekitarnya.

Pemasangan sumur bor tidak lepas dari koordinasi lintas sektoral. Pemerintah daerah, TNI, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalteng bekerja sama dalam penentuan lokasi yang paling rawan. Penentuan titik pemasangan didasarkan pada data historis kebakaran, tingkat kerapuhan tanah gambut, serta aksesibilitas bagi tim lapangan.

Di samping sumur bor, upaya lain yang dijalankan meliputi patroli darat, penyuluhan kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga lahan, serta penegakan hukum terhadap pembakaran liar. Namun, para ahli menekankan bahwa tanpa pasokan air yang memadai, upaya‑upaya tersebut akan terbatas efektivitasnya.

Keberhasilan instalasi sumur bor pertama kali terlihat pada penurunan intensitas kebakaran di wilayah Kameloh. Petugas melaporkan bahwa titik api yang semula meluas kini dapat dipadamkan dalam waktu singkat berkat aliran air yang stabil dari sumur bor. Hal ini memberikan harapan bahwa strategi serupa dapat diterapkan di daerah lain yang memiliki kondisi tanah gambut serupa.

Baca juga:
Warga Keluhkan Asap Pekat di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur

Selain meningkatkan kapasitas pemadaman, sumur bor juga diharapkan dapat menjadi sumber air cadangan bagi masyarakat setempat pada musim kering. Dengan demikian, proyek ini tidak hanya bersifat temporer untuk penanggulangan kebakaran, melainkan juga memberikan manfaat jangka panjang bagi ketahanan air daerah.

Pemantauan berkelanjutan akan dilakukan oleh tim teknis TNI dan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memastikan bahwa sumur bor tetap berfungsi optimal. Jika diperlukan, perawatan atau peningkatan kapasitas akan dilakukan secara berkala.

Secara keseluruhan, strategi Bangun 40 Sumur Bor di Kameloh dan Perbatasan Pulpis menandai perubahan paradigma dalam penanggulangan karhutla di Kalimantan Tengah. Dengan mengintegrasikan teknologi sumur bor, dukungan udara, serta koordinasi lintas lembaga, diharapkan kebakaran hutan dapat ditekan sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *