Ule.co.id – Dinkes Palangka Raya Bagikan 50 Kotak Masker ke Pengendara pada Selasa pagi, sebagai respons cepat terhadap kabut asap pekat yang meliputi area Bundaran Besar Palangka Raya. Inisiatif ini bertujuan melindungi ribuan pengguna jalan, terutama anak sekolah, ibu hamil, dan lansia, dari dampak pernapasan yang berbahaya.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menjelaskan bahwa keputusan pembagian masker didasarkan pada observasi visual kondisi udara yang sangat menurunkan visibilitas di sekitar bundaran. “Kami melalui Dinas Kesehatan menyediakan masker gratis bagi setiap orang yang melintasi bundaran,” ujar Riduan pada kesempatan itu.
Distribusi masker tidak bersifat satu kali acara. Riduan menegaskan bahwa Dinkes akan menggelar program serupa secara berkelanjutan, dengan lokasi yang berganti‑ganti sesuai tingkat keparahan asap di berbagai titik strategis kota. Setelah menyelesaikan pembagian di Bundaran Besar, tim kesehatan berencana berpindah ke Bundaran Burung, dan bahkan menargetkan Bundaran Kecil pada sore hari yang sama.
Prioritas utama dalam penyaluran masker mencakup tiga kelompok rentan: pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA; ibu hamil yang memerlukan perlindungan ekstra; serta lansia yang lebih sensitif terhadap polusi udara. Menurut Riduan, kelompok‑kelompok ini memiliki risiko lebih tinggi mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) atau eksaserbasi asma ketika terpapar partikel halus dalam kabut asap.
Untuk menanggulangi potensi peningkatan kasus ISPA, Dinkes Palangka Raya telah menyiapkan ruang oksigen darurat di beberapa fasilitas kesehatan. Lima tabung oksigen tersedia untuk penggunaan gratis bagi warga yang mengalami sesak napas atau gejala pernapasan lainnya. “Kami meningkatkan kewaspadaan tenaga medis dan menyiapkan sarana yang memadai, sehingga bila ada warga yang membutuhkan bantuan, mereka dapat langsung mendapatkan pertolongan,” tambah Riduan.
Data sementara menunjukkan bahwa mayoritas kasus yang teridentifikasi masih berupa ISPA ringan, tanpa laporan kematian terkait kabut asap hingga saat ini. Namun, Dinkes memperingatkan bahwa paparan berkelanjutan dapat memperparah kondisi pernapasan, terutama pada penderita asma. “Asma dapat kambuh secara tiba‑tiba bila terpapar asap. Kami mengimbau mereka yang memiliki riwayat asma untuk segera mencari pertolongan medis bila gejala memburuk,” ujar Riduan.
Selain pembagian masker, Dinkes juga mengedukasi masyarakat tentang pentingnya penggunaan Masker Palangka Raya yang memenuhi standar kesehatan, serta anjuran untuk mengurangi aktivitas fisik berat di luar ruangan selama kondisi udara masih buruk. Pemerintah kota juga berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau kualitas udara secara real‑time, sehingga penyesuaian kebijakan dapat dilakukan dengan cepat.
Upaya mitigasi tidak hanya berhenti pada distribusi barang dan layanan medis. Dinas Kesehatan berkolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup untuk menekan sumber asap, termasuk pembakaran lahan terbuka dan kebakaran hutan yang masih menjadi pemicu utama kabut asap di wilayah Kalimantan Tengah. Riduan berharap hujan segera turun, karena curah hujan dapat membantu menurunkan konsentrasi partikel debu di atmosfer.
Sejumlah warga yang menerima masker melaporkan rasa lega dan rasa aman saat melanjutkan perjalanan mereka. “Saya merasa lebih tenang karena ada masker yang bisa dipakai. Anak‑anak di sekolah juga jadi lebih terlindungi,” kata seorang ibu yang berada di lokasi pembagian. Respons positif tersebut menegaskan pentingnya kebijakan cepat dan tepat dalam menghadapi bencana alam yang bersifat kesehatan.
Dengan langkah proaktif ini, Dinkes Palangka Raya menunjukkan komitmen kuat dalam melindungi kesehatan publik, khususnya pada masa krisis kabut asap yang kerap melanda wilayah ini. Program distribusi masker diharapkan menjadi contoh bagi kota‑kota lain di Indonesia dalam menanggapi tantangan kualitas udara yang semakin mengkhawatirkan.









