Ule.co.id – Al Shamal menorehkan hasil imbang 1-1 melawan Al‑Ittihad dalam laga pembuka AFC Champions League Elite 2026/27, menegaskan pertahanan solidnya meski belum mampu mengamankan tiga poin. Gol pembuka tim Qatar datang dari striker veteran Baghdad Bounedjah, namun balasan dari gelandang Belanda Georginio Wijnaldum memastikan poin bagi tamu asal Jeddah.
Debutan baru ACL Elite, Al Shamal, masuk sebagai runner‑up Qatar Stars League 2025/2026 setelah hanya mengizinkan 28 gol dalam 22 pertandingan, tercatat sebagai pertahanan terkuat bersama Al‑Duhail. Keberhasilan itu memberi klub kepercayaan diri tinggi menjelang fase grup, meski mereka masih harus menyesuaikan diri dengan intensitas kompetisi antar‑benua.
Empat tim debut di ajang ini—Al‑Qadsiah, Al‑Shamal, Kyoto Sanga, dan Cong An Ha Nội—menjadi sorotan utama. Al‑Qadsiah, wakil Arab Saudi, mencatat kemenangan pertama pada pembukaan, mengalahkan Al‑Wasl 2-1 di kandang. Sementara Kyoto Sanga dan Cong An Ha Nội menyiapkan skuad untuk menantang dominasi tim‑tim tradisional.
Berbeda dengan Al‑Shamal, Al‑Ittihad harus bangkit dari ketertinggalan. Tim asal Jeddah sempat tertinggal 1-0 sebelum gol penyama kedudukan dicetak oleh Wijnaldum pada menit tambahan pertama babak kedua. Kemenangan tipis ini memberi mereka peluang penting dalam grup, terutama mengingat jadwal padat yang melibatkan pertandingan melawan Shabab Al‑Ahli (UAE) dan Mamelodi Sundowns (Afrika Selatan) dalam kompetisi tiga benua.
- Stadion Al‑Shamal: Al‑Shamal SC Stadium, kapasitas 5.300 penonton.
- Pemain kunci: Pablo Mari, Alex Collado, Mouafak Awad, Nassin Benaissa, Babacar Seck.
- Statistik defensif: 28 kebobolan dari 22 laga (2025/2026).
Jadwal selanjutnya menempatkan Al‑Shamal di luar negeri pada 12 Oktober melawan Tractor Iran, sebuah ujian penting untuk menguji ketangguhan lini belakang mereka di luar zona nyaman. Sementara itu, Al‑Ittihad akan menjamu Shabab Al‑Ahli pada 13 Oktober, memperpanjang duel antar‑tim Timur Tengah.
Di sisi lain, Al‑Ahlí juga terpaksa puas dengan hasil imbang 1-1 melawan Pakhtakor Uzbekistan di Jeddah. Gol penyeimbang datang dari Firas Al‑Buraikan pada menit tambahan pertama, menghindarkan sang juara dua kali berturut‑turut dari kekalahan pertama di kompetisi.
Keempat debutan ini menambah warna pada fase grup ACL Elite, menantang dominasi tim‑tim berpengalaman seperti Al‑Hilal yang baru saja mengalahkan Al‑Gharafa 2-1 di Arena Kingdom. Dengan persaingan yang semakin ketat, performa Al‑Shamal dalam beberapa laga ke depan akan menjadi indikator apakah klub dapat melaju ke fase knockout atau harus berakhir lebih awal.
Para analis menilai bahwa disiplin taktik dan transisi cepat menjadi keunggulan utama Al‑Shamal, terutama dalam menghadapi tim‑tim yang mengandalkan serangan balik. Jika mereka dapat mempertahankan konsistensi defensif sekaligus meningkatkan efektivitas serangan, peluang untuk melaju ke babak berikutnya bukanlah hal yang mustahil.









