analitik

Karhutla Pangkalan Bun-Kolam Meluas, Ancaman Api pada Habitat Satwa di HKm Masoraian

Ule.co.idKarhutla Pangkalan Bun-Kolam Meluas Api Dekati Habitat Satwa di Kawasan HKm Masoraian menjadi sorotan utama setelah kobaran api meluas di area Jalan Pangkalan Bun‑Kotawaringin Lama, KM 14‑15 dan KM 20 pada Jumat 11 September 2026. Api yang terus berkobar menimbulkan kekhawatiran serius karena lokasinya berada berdekatan dengan Hutan Kemasyarakatan (HKm) Komunitas Karya Masoraian, tempat tinggal lebih dari 70 spesies satwa liar, termasuk orangutan dan uwak‑uwak.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Barat, Samuel, menjelaskan bahwa titik api di KM 14‑15 belum sepenuhnya padam pada pagi hari Sabtu 12 September, sementara KM 20 masih berada dalam proses pemadaman intensif. Luasan yang terbakar diperkirakan melebihi 50 hektar, dengan total area terbakar sejak awal Agustus mencapai hampir 450 hektare. Penanganan melibatkan tim satgas, posko kesehatan, serta penyediaan tabung oksigen untuk mengatasi gangguan kesehatan pada personel yang terpapar asap.

Baca juga:
Turangga Resources Dukung Keberhasilan Rehabilitasi DAS, PT ABB Raih Juara I Penghargaan IPPKH

Fokus utama petugas adalah mencegah penyebaran api ke habitat satwa di HKm Masoraian. Samuel menegaskan bahwa meskipun tersedia sumber air dari bekas embung dan galian, jarak antara sumber air dan titik api yang berada di medan berbukit menyulitkan akses. Upaya pemadaman dilakukan dengan kombinasi helikopter, pemadam darat, serta pembuatan garis pemadam untuk memutus jalur penyebaran api.

Selain tantangan geografis, kondisi medan yang berat memperlambat mobilisasi alat berat. Pada KM 20, api berada tidak jauh dari badan jalan, mengganggu arus lalu lintas dan menambah risiko kecelakaan. Dua anggota satgas dilaporkan mengalami gangguan kesehatan darurat akibat paparan asap tebal dan kelelahan fisik; keduanya telah dievakuasi ke rumah sakit dan kini dalam kondisi stabil berkat dukungan posko kesehatan BPBD.

Sepanjang bulan September 2026, BPBD Kotawaringin Barat mencatat 13 kali penanganan kebakaran di sepanjang jalur Pangkalan Bun‑Kotawaringin Lama, mulai dari KM 8 hingga KM 20. Titik-titik kebakaran tersebar di beberapa kecamatan, termasuk Mendawai Seberang, Raja Seberang, dan Kotawaringin Hilir. Kebakaran pertama tercatat pada KM 13 Mendawai Seberang pada 11 Agustus 2026, menandai awal musim kebakaran yang dipicu oleh kondisi kering pasca puncak kemarau.

  • KM 14‑15: area terbakar lebih dari 30 hektar, belum padam total.
  • KM 20: api mendekati HKm Masoraian, ancaman langsung pada satwa liar.
  • KM 8‑13: kebakaran ringan, berhasil dipadamkan dalam waktu singkat.

Data resmi BPBD menunjukkan total 29 kali kegiatan penanganan kebakaran sejak Agustus, dengan luasan terbakar kumulatif 449,68 hektare. Upaya mitigasi jangka panjang mencakup peningkatan jaringan pemadam air, pelatihan masyarakat sekitar, serta penanaman kembali lahan yang terbakar. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak kehutanan dan LSM lingkungan untuk memperkuat perlindungan HKm Masoraian, mengingat nilai ekologis kawasan tersebut sebagai koridor satwa migrasi.

Baca juga:
Surfaktan Pemadam Api: Polisi Pakai Cairan Surfaktan Padamkan Api di Palangka Raya

Para ahli lingkungan menilai bahwa kebakaran hutan yang berdekatan dengan habitat satwa dapat menyebabkan dampak jangka panjang, termasuk penurunan populasi spesies terancam dan gangguan ekosistem. Oleh karena itu, Samuel menekankan pentingnya penanggulangan cepat serta pemantauan berkelanjutan menggunakan satelit dan drone untuk mendeteksi percikan api sejak dini.

Dengan tekanan cuaca yang masih kering dan potensi hujan yang belum pasti, BPBD Kobar terus meningkatkan kesiapsiagaan. Tim satgas dilengkapi dengan peralatan pemadam modern, serta prosedur evakuasi medis yang lebih cepat. Masyarakat di sekitar jalur Pangkalan Bun‑Kotawaringin Lama juga diajak berperan aktif dalam melaporkan tanda-tanda kebakaran serta menjaga kebersihan lingkungan untuk mengurangi sumber api potensial.

Karhutla Pangkalan Bun‑Kolam meluas, menyoroti perlunya sinergi antara pemerintah, komunitas, dan lembaga konservasi dalam melindungi keanekaragaman hayati. Keberhasilan memadamkan api di KM 20‑21 akan menjadi indikator penting bagi upaya melindungi HKm Masoraian dari ancaman kebakaran di masa mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *