Ule.co.id – Kembali Berduka Relawan Karhutla Kobar Gugur Total Tiga Relawan Berpulang menambah duka mendalam di Palangka Raya. Pada Kamis (10/9/26) sore, Aries Sutio Luthfil Hadi, relawan asal Kecamatan Kotawaringin Lama, dinyatakan meninggal dunia setelah tiga hari dirawat karena sesak napas akibat paparan asap kebakaran hutan.
Aries dikenal sebagai sosok yang selalu berada di garis depan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar). Sebelum kepergiannya, ia sempat dirawat di rumah sakit setempat, namun kondisi pernapasan yang memburuk tak dapat diselamatkan. Kepergiannya meninggalkan rasa kehilangan yang dalam bagi keluarga, rekan‑rekan relawan, serta Pemerintah Kecamatan Kotawaringin Lama.
Pemerintah Kecamatan Kotawaringin Lama menyampaikan belasungkawa sekaligus penghargaan atas dedikasi Aries. “Jasa dan pengabdianmu tak pernah kami lupakan,” ujar perwakilan pemerintah setempat. Begitu pula Bupati Kotawaringin Barat, Hj Nurhidayah, yang menegaskan bahwa Aries adalah “pejuang karhutla” yang telah mengorbankan tenaga dan kesehatan demi melindungi hutan dan masyarakat.
Kembali Berduka Relawan Karhutla Kobar Gugur Total Tiga Relawan Berpulang bukan hanya mencerminkan kehilangan satu nyawa. Sebelumnya, Kalteng juga kehilangan dua relawan penting: Akhmad Rizani, Ketua Tim Serbu Api Kecamatan Jekan Raya, yang meninggal pada 27 Agustus 2026 setelah dirawat enam hari karena kondisi drop; serta Ahmadin alias Itam Madin, relawan Damkar Huma Singgah Itah, yang mengundurkan napas di RSUD Sultan Imanudin Pangkalan Bun setelah mengalami sesak napas akibat paparan asap tebal.
Berikut rangkuman singkat mengenai ketiga relawan yang telah berpulang:
- Aries Sutio Luthfil Hadi – Relawan Karhutla, Kecamatan Kotawaringin Lama, meninggal 10 September 2026 setelah tiga hari perawatan di rumah sakit.
- Akhmad Rizani – Ketua Tim Serbu Api, Kecamatan Jekan Raya, meninggal 27 Agustus 2026 setelah enam hari perawatan karena kondisi drop saat bertugas.
- Ahmadin (Itam Madin) – Relawan Damkar Huma Singgah Itah, meninggal pada September 2026 setelah dirawat karena sesak napas yang dipicu paparan asap tebal.
Ketiga kisah ini menegaskan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh Relawan Karhutla. Mereka tidak hanya berhadapan dengan api yang menyala, tetapi juga dengan asap beracun, suhu ekstrem, dan medan yang sulit dijangkau. Risiko kesehatan, terutama gangguan pernapasan, menjadi ancaman utama yang sering kali berujung pada konsekuensi fatal.
Kembali Berduka Relawan Karhutla Kobar Gugur Total Tiga Relawan Berpulang menjadi pengingat keras bahwa di balik upaya memadamkan kebakaran hutan, terdapat pahlawan tanpa tanda jasa yang rela mempertaruhkan nyawa demi lingkungan dan keselamatan warga. Duka yang dirasakan oleh keluarga, rekan, dan masyarakat harus menjadi motivasi bagi semua pihak untuk meningkatkan kebijakan pencegahan kebakaran, memperkuat sistem respons cepat, serta memberikan penghargaan yang layak bagi para relawan.
Ke depan, harapan besar tetap mengiringi upaya penanggulangan karhutla di Kalteng. Pemerintah provinsi, bersama lembaga swadaya masyarakat dan komunitas lokal, bertekad memperkuat program edukasi, penanaman kembali hutan, serta penyediaan sarana pemadam yang memadai. Dengan dukungan penuh, diharapkan tidak ada lagi Relawan Karhutla yang harus berkorban demi melindungi bumi kita.







