analitik

Kebakaran Lahan di Gunung Cikuray Garut: Upaya Gabungan Polisi, TNI, dan BPBD Kendalikan Api Selama Dua Hari

Ule.co.id – Api yang melanda gunung cikuray garut sejak akhir pekan lalu menimbulkan keprihatinan luas, memaksa tim gabungan dari kepolisian, TNI, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan Dinas Pemadam Kebakaran (Disdamkar) melakukan aksi pemadaman intensif di beberapa titik kritis. Kebakaran dimulai pada Sabtu, 4 September 2026, di kawasan hutan dan lahan pertanian di kaki Gunung Cikuray serta di daerah sekitar Gunung Guntur, menutupi area seluas lima hektare yang sebagian berada dalam wilayah Perhutani.

Tim respon cepat tiba di lokasi pertama, Desa Rancabango, Kecamatan Tarogong Kaler, pada siang hari 4 September. Petugas menghadapi medan yang sulit, dengan akses kendaraan terbatas sehingga pemadaman harus dilakukan secara manual menggunakan alat semprot portabel dan penyekatan. Pada malam harinya, api berpindah ke Desa Mekarjaya, Kecamatan Cikajang, menimbulkan ancaman baru di kaki Gunung Cikuray. Penanganan di sini juga dilakukan secara bertahap, mengisolasi area terbakar dan menghalangi penyebaran ke pemukiman terdekat.

Baca juga:
Kualitas Udara Palangka Raya Mencapai 1068,9 µg/m³, Tak Layak Huni Manusia

Kepala Seksi Humas Polres Garut, Ipda Susilo Adhi, menjelaskan bahwa prioritas utama tim adalah melindungi pemukiman warga. “Titik yang berada dekat dengan permukiman menjadi prioritas untuk mencegah api meluas dan membahayakan masyarakat,” ujarnya dalam konferensi pers pada Minggu, 6 September. Ia menambahkan bahwa identitas beberapa tersangka yang diduga terlibat dalam perusakan lahan masih dalam proses penyelidikan, meskipun fokus utama tetap pada pemadaman.

BPBD Kabupaten Garut juga menyiagakan personel tambahan untuk memantau situasi secara terus‑menerus. Kepala Pelaksana BPBD, Aah Anwar Saefuloh, menegaskan pentingnya koordinasi lintas lembaga. “Kami bersama Disdamkar, kepolisian, TNI, serta sukarelawan dan Perhutani bekerja sama untuk memastikan api tidak kembali menyebar, terutama mengingat kondisi kemarau yang ekstrem,” katanya. Menurutnya, lahan yang terbakar berada pada ketinggian sekitar 1.770 meter di atas permukaan laut, dengan vegetasi kering seperti bambu dan ilalang yang mudah terbakar.

Selama proses pemadaman, tim harus mengatasi beberapa kendala. Medan berbukit dan berbatu menghambat akses kendaraan pemadam, sehingga sebagian besar upaya dilakukan secara manual. Selain itu, ketersediaan peralatan terbatas menambah beban kerja petugas di lapangan. Namun, berkat kerja keras dan strategi isolasi area, api berhasil dikendalikan menjelang tengah malam pada Sabtu, 5 September, tanpa menimbulkan kerusakan signifikan pada pemukiman.

Pemerintah daerah Garut terus melakukan monitoring intensif di seluruh titik rawan. Susilo Adhi menambahkan, “Kami masih melakukan pemantauan untuk mengantisipasi munculnya kembali titik api atau potensi penyebaran ke area lain,” tegasnya. Sementara itu, pihak Perhutani melakukan penanaman kembali di area yang terdampak, berupaya memulihkan ekosistem hutan yang terganggu.

Baca juga:
BMKG Potensi Hujan: Harapan Tanpa Hujan di Palangka Raya

Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran hutan. Anwar Saefuloh mengajak warga untuk berperan aktif dalam menjaga kelestarian alam, terutama selama musim kemarau. “Situasi kemarau saat ini harus menjadi perhatian semua pihak untuk bersama‑sama menjaga kawasan lahan maupun hutan agar tidak terjadi kebakaran,” seru ia.

Gunung Cikuray, yang menjulang setinggi 2.821 meter di atas permukaan laut, merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat. Meskipun tidak memiliki kawah aktif, gunung ini tetap menjadi destinasi pendakian dan objek wisata alam. Kebakaran yang terjadi baru-baru ini menyoroti kerentanan area hutan terhadap perubahan iklim dan aktivitas manusia yang tidak terkendali.

Dengan keberhasilan pemadaman yang relatif cepat, pihak berwenang berharap dapat meminimalisir dampak jangka panjang pada flora, fauna, dan kehidupan masyarakat sekitar. Upaya rehabilitasi dan edukasi lingkungan diharapkan menjadi langkah lanjutan untuk mencegah insiden serupa di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *