Gempa Nias Mengguncang Sumatera Utara, Dirasakan hingga Sumatera Barat, dan Dampak Luasnya
Ule.co.id – Gempa nias yang terjadi pada Selasa (18/7) pukul 13.02 WIB mengguncang wilayah Nias Selatan, Sumatera Utara dengan magnitude 6,1, menimbulkan getaran kuat yang terasa hingga ke beberapa kota di Sumatera Barat. Warga di Padang melaporkan air dalam galon bergoyang selama beberapa detik, sementara di Mentawai gempa dirasakan cukup kuat hingga memicu pertanyaan kepada BMKG.
Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa berada di kedalaman 10 kilometer di lepas pantai Nias Selatan. Data seismik menunjukkan bahwa energi gempa cukup signifikan untuk menimbulkan gelombang permukaan yang meluas ke wilayah barat pulau Sumatera. BMKG menegaskan bahwa tidak ada indikasi tsunami, namun peringatan dini gelombang tinggi dikeluarkan untuk perairan di sekitar Samudra Hindia, termasuk daerah barat Kepulauan Nias.
Getaran gempa nias dirasakan di beberapa kota besar Sumatera Barat, antara lain Padang, Bukittinggi, Pariaman, serta Kabupaten Kepulauan Mentawai. Seorang warga bernama Abidin mengirimkan pesan ke grup WhatsApp BMKG Sumbar, menyatakan “Mentawai terasa kuat, mohon infonya, bapak/ibu BMKG”. Di Padang, seorang ibu rumah tangga bernama Rini mengaku melihat air dalam galon bergoyang selama sekitar tujuh detik, meski tidak merasakan guncangan secara fisik. Sementara itu, sejumlah warga di Balai Kota Padang melaporkan tidak merasakan apa-apa, menandakan variasi intensitas getaran tergantung pada lokasi dan kondisi tanah.
Pihak berwenang segera mengaktifkan prosedur penanganan darurat. Tim SAR Basarnas bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melakukan penyisiran di area terdampak untuk memastikan tidak ada korban jiwa atau korban hilang. Meskipun gempa nias belum dilaporkan menimbulkan korban jiwa, otoritas tetap waspada mengingat potensi gempa susulan dan dampak pada infrastruktur kritis, termasuk jaringan listrik dan fasilitas kesehatan di Nias Selatan.
Di samping gempa nias, Indonesia juga menghadapi bencana lain pada minggu yang sama. Gempa berkekuatan magnitude 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) menewaskan 70 orang dan melukai 132 orang. Penyaluran bantuan darurat, termasuk beras, air minum, dan perlengkapan medis, terus berlangsung dengan koordinasi antara InJourney Group, Satgas BUMN, dan posko bencana di Labuan Bajo. Meskipun kedua peristiwa terpisah, mereka menegaskan tantangan penanggulangan bencana yang terus dihadapi Indonesia.
BMKG juga mengingatkan potensi gelombang tinggi hingga 4 meter di Samudra Hindia, terutama di wilayah barat Kepulauan Nias dan Mentawai. Kondisi angin kencang dari timur laut hingga barat daya diprediksi menghasilkan gelombang tinggi yang dapat mengancam keselamatan pelayaran. Nelayan, operator kapal feri, dan kapal kargo di sekitar perairan tersebut diminta meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi protokol keselamatan laut.
Menteri Agraria dan Tata Ruang serta Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menyoroti pentingnya koordinasi lintas sektoral dalam penanganan bencana. Ia menekankan bahwa empat Kantor Pertanahan yang masih mengalami masa tunggu pengukuran tanah lebih dari tujuh hari, termasuk Kantah Kabupaten Nias, harus segera dipercepat agar layanan publik tidak terganggu oleh situasi darurat. Upaya percepatan layanan pertanahan diharapkan dapat membantu proses pemulihan pascabencana, terutama bagi warga yang kehilangan rumah dan memerlukan bantuan tanah untuk pembangunan kembali.
Secara keseluruhan, gempa nias menegaskan kerentanan wilayah pesisir Indonesia terhadap aktivitas tektonik. Pemerintah terus meningkatkan sistem peringatan dini, memperkuat kapasitas SAR, dan mempercepat layanan publik untuk meminimalkan dampak bencana. Masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengikuti informasi resmi, dan siap membantu upaya penanggulangan jika diperlukan.

