analitik

Meninggal 70 Jiwa, Ribuan Mengungsi: Update Korban Gempa NTT 2026

Ule.co.id – Update korban gempa NTT: 70 orang meninggal dunia [titlebase] menjadi titik fokus penanganan bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah gempa berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang Pulau Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hingga hari keempat, pihak Basarnas dan BNPB terus memperbaharui data korban serta mengkoordinasikan upaya penyelamatan dan pemulihan.

Menurut Laksamana Pertama Yudhi Bramantyo, Direktur Operasi Basarnas, total korban yang teridentifikasi hingga pukul 23.30 WITA pada hari ketiga mencapai 202 orang. Dari jumlah tersebut, 70 orang telah dinyatakan meninggal dunia, sementara 132 orang mengalami luka-luka, terdiri dari 40 luka berat dan 92 luka ringan. Data ini mencerminkan peningkatan angka kematian dibandingkan laporan awal, sekaligus menegaskan besarnya tantangan medis di lapangan.

Baca juga:
Sopir Meregang Nyawa, Mitsubishi Triton Terseret 30 Meter di Moncong Lokomotif KA Gajayana

“Sampai dengan hari ketiga kemarin pukul 23.30, kami telah mengkompilasi total korban sebanyak 202 orang, dengan 70 orang meninggal dunia dan 132 orang luka-luka,” ujar Yudhi dalam konferensi pers daring bersama BNPB pada Selasa, 18 Agustus 2026. “Kami tidak lagi menerima laporan warga yang masih dalam pencarian, sehingga tim SAR kini memfokuskan penyisiran wilayah terdampak serta membantu proses pemulihan yang dipimpin BNPB.”

Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Panjaitan, menambahkan bahwa sebanyak 40.040 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara. Ia menegaskan, angka pengungsi ini tidak semata-mata mencerminkan kerusakan rumah, melainkan juga dampak psikologis yang dirasakan masyarakat. Hingga kini, tercatat 11.925 rumah mengalami kerusakan, dengan sebagian besar berada di Kabupaten Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka.

Sementara itu, Kepala Kantor SAR Maumere, Fathur Rahman, menyampaikan data sementara hingga pukul 18.00 WITA pada hari Selasa. Total korban mencapai 608 orang, dengan 70 orang meninggal dunia, 538 orang luka (230 luka berat dan 308 luka ringan). Rincian per kabupaten menunjukkan variasi dampak: Kabupaten Nagekeo mencatat 8 orang tewas, 9 luka ringan, 13 luka berat; Kabupaten Ngada 2 tewas, 19 luka ringan, 17 luka berat; Kabupaten Manggarai Timur 25 tewas, 242 luka ringan, 182 luka berat.

Setelah gempa utama, wilayah NTT mengalami 2.119 gempa susulan dengan magnitudo antara 1,3 hingga 6,2. Aktivitas seismik masih fluktuatif, dan pola peluruhan belum terlihat jelas, menambah beban tim SAR dalam menilai keamanan area yang masih rawan.

Baca juga:
Breaking News: Speedboat Bawa 11 Wisatawan Asing Hilang Kontak dari Kepulauan Togean ke Gorontalo

Tim SAR gabungan telah mengevakuasi tujuh korban luka berat melalui helikopter Dauphin, dengan tiga korban dievakuasi pada kloter pertama dan empat pada kloter kedua. Evakuasi dilakukan secara bertahap, mengutamakan korban yang membutuhkan perawatan medis intensif. Basarnas terus menyiapkan armada tambahan, termasuk helikopter dan unit medis, untuk mempercepat proses penyelamatan di daerah paling terdampak.

  • Total korban: 202 orang (70 meninggal, 132 luka)
  • Total korban (data sementara lain): 608 orang (70 meninggal, 538 luka)
  • Pengungsi: 40.040 jiwa
  • Rumah rusak: 11.925 unit
  • Gempa susulan: 2.119 kali (M 1,3–6,2)

Kerusakan infrastruktur tidak hanya terbatas pada rumah tinggal. Fasilitas umum seperti sekolah, rumah ibadah, dan jaringan listrik juga mengalami kerusakan signifikan, memperpanjang masa pemulihan bagi penduduk. Pemerintah daerah bersama BNPB telah mendirikan posko bantuan di beberapa kabupaten, menyediakan kebutuhan pokok, obat-obatan, serta layanan psikososial bagi korban.

Dengan tidak adanya laporan warga yang masih hilang, fokus selanjutnya beralih pada penataan kembali pemukiman, rehabilitasi rumah, dan pemulihan layanan publik. Koordinasi antara Basarnas, BNPB, TNI, Polri, serta organisasi kemanusiaan terus dipertahankan untuk memastikan bantuan dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat yang terdampak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *