Ule.co.id – Charles Spencer, kakak tertua almarhum Putri Diana, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan pandangannya dalam sebuah wawancara eksklusif dengan BBC. Dalam percakapan yang ditayangkan pada Minggu malam, sang Earl menyoroti kemiripan penderitaan pasangan Duke of Sussex, Prince Harry, dan Meghan Markle, dengan apa yang dialami sang putri pada masa hidupnya. Menurutnya, media yang terus mengejar dan mengkritik Diana kini mengulang pola yang sama terhadap Harry dan Meghan, menjadikan mereka korban “pengaruh kanker” yang menggerogoti kehidupan pribadi.
Spencer menegaskan bahwa ia tidak berbicara atas nama Harry dan Meghan, melainkan mewakili setiap individu yang setiap hari menjadi sasaran serangan media. “Jika Anda membaca sebuah artikel tabloid tentang Diana atau pasangan Sussex, Anda akan merasakan betapa tidak menyenangkannya itu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa publik seharusnya belajar dari tragedi Diana, yang pada akhirnya menjadi “beban berat” karena sorotan media yang tak henti.
Buku terbarunya, Swan Song: Diana, My Sister, menjadi wadah bagi Charles Spencer untuk mengungkapkan kenangan pribadi serta konflik internal keluarga kerajaan. Di dalamnya, ia menuliskan percakapan telefonik yang terjadi beberapa hari setelah kematian Diana, di mana sang pangeran Charles (sekarang Raja Charles III) dikabarkan mengucapkan, “Kita akan segera melupakannya,” saat membahas prosesi pemakaman. Pernyataan ini memicu reaksi keras Buckingham Palace, yang menanggapi dengan menyatakan bahwa rasa duka dapat memengaruhi ingatan dan penilaian seseorang.
Spencer menilai respons istana sebagai upaya meminimalisir tuduhannya. Ia menyebutnya sebagai “manipulasi psikologis” atau gaslighting, menuduh bahwa Raja Charles berusaha menjelekkan ingatannya tanpa memberikan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan. “Saya merasa sangat terkejut dan tersinggung karena mereka mencoba menyiratkan bahwa saya berbohong,” kata Spencer dalam wawancara yang sama.
Selain menyoroti konflik dengan Raja Charles, Charles Spencer juga mengkritik sikap media Barat yang, menurutnya, masih menempatkan Diana sebagai sosok yang “sempurna” dan “berkekayaan tak terbatas”. Ia menolak narasi tersebut, menegaskan bahwa sang putri sebenarnya sangat sensitif terhadap kritik dan tidak pernah menikmati kehidupan yang bebas dari tekanan publik. Hal ini, menurut Spencer, menjadi pelajaran penting bagi generasi kini yang terus berjuang melawan eksposur media yang berlebihan.
Reaksi publik terhadap pernyataan Spencer beragam. Beberapa pihak memuji keberaniannya mengangkat isu-isu sensitif, sementara yang lain menilai bahwa ia memperpanjang luka keluarga kerajaan. Namun, tak dapat dipungkiri bahwa wawancara tersebut membuka kembali perdebatan tentang etika jurnalisme dan batasan kebebasan pers dalam meliput kehidupan pribadi anggota kerajaan.
Dalam konteks yang lebih luas, pernyataan Charles Spencer menambah daftar panjang kontroversi yang melibatkan keluarga kerajaan Inggris, termasuk tuduhan rasisme terhadap Harry dan Meghan pada tahun 2021 serta perdebatan seputar peran monarki di era modern. Dengan mengaitkan pengalaman Sussex dengan tragedi Diana, Spencer berharap publik dapat melihat pola berulang yang merugikan dan menuntut perubahan dalam cara media memperlakukan tokoh publik.
Seiring peluncuran Swan Song yang dijadwalkan pada akhir September, dunia menantikan detail lebih lanjut mengenai hubungan rumit antara anggota keluarga kerajaan, serta dampak psikologis yang ditimbulkan oleh sorotan media yang tak henti. Bagaimana respons resmi istana selanjutnya akan menjadi indikator apakah keluarga kerajaan siap menghadapi kritik terbuka atau tetap mempertahankan kebijakan penutupannya.







