analitik

Tragedi Kapal Virgo Transport 8: Kapal Tenggelam di Laut Jawa, 98 Selamat, 6 Meninggal

Ule.co.id – Insiden kapal tenggelam yang menimpa Kapal Virgo Transport 8 pada Sabtu malam (12/9/2026) menimbulkan kepanikan di perairan Laut Jawa. Kapal penumpang yang berlayar dari Surabaya menuju Banjarmasin itu oleng setelah dihantam gelombang besar di sisi lambung kanan, lalu terbalik dan akhirnya tenggelam.

Deputi Operasi dan Kesiapsiagaan Basarnas, Mayjen TNI Edy Prakoso, menjelaskan bahwa gelombang tinggi menabrak bagian kanan kapal sekitar pukul 02.00 WITA, menyebabkan kapal miring secara tiba‑tiba. Nakhoda kapal, Haris Yulianto, sempat mengirim sinyal distress sebelum komunikasi terputus. Sinyal tersebut diterima oleh Basarnas Command Center dan diteruskan ke Kantor SAR Banjarmasin.

Baca juga:
Live Sydney: Dari Kemenangan Swans hingga Konser Macy Gray, Krisis Properti, dan Tantangan Lingkungan

Menurut data resmi Basarnas, Kapal Virgo Transport 8 mengangkut total 243 penumpang (person on board). Dari jumlah tersebut, 98 orang berhasil diselamatkan, enam orang dinyatakan meninggal dunia, dan 129 orang masih dalam proses pencarian.

Rincian korban yang berhasil dievakuasi dapat dilihat pada tabel berikut:

Unit SAR Jumlah Penumpang Selamat Meninggal
TB Mauhaw 16 15 1
TB TCP 6 1 5
Kapal MV Haida 69 69 0
Kapal Nelayan Cahaya Bahari (dipindah ke Intandaya) 22 22 0
Kapal Nelayan Sri Asih 1 1 0

Selain upaya penyelamatan laut, Polda Kalimantan Selatan melalui Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) mengerahkan tiga kapal patroli—KP. XIII‑3001, KP. XIII‑2004, dan KP. XIII‑1008—untuk membantu pencarian 130 korban yang masih hilang. Tim gabungan juga melibatkan Korpolairud Baharkam Polri serta koordinasi intensif dengan Basarnas dan KSOP Kelas I Banjarmasin untuk mengatur arus lalu lintas di sekitar zona kecelakaan.

Para penyintas memberikan kesaksian mengerikan tentang momen kapal miring. Ahmad Saudi, seorang penumpang, mengaku terbangun karena teriakan penumpang lain sekitar pukul 01.20 WITA dan menyaksikan kapal miring ke kiri dengan cepat. “Saya berpegangan pada tiang jendela, kapal terus miring, saya naik ke atas dan menunggu kapal tenggelam,” ujarnya.

Baca juga:
Krisis dan Inovasi di Pasar Baru: Dari Korsleting Listrik hingga Rencana Pasar Induk di Buleleng

Riyanda, penumpang berusia 30 tahun asal Cilacap, berhasil bertahan dengan berpegangan pada selembar triplek dan menggunakan baju pelampung. “Setelah terjun dari kapal, saya berpegangan triplek sampai kapal tenggelam,” katanya saat diwawancarai di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin.

Basarnas menegaskan bahwa hantaman ombak dari lambung kanan menjadi faktor utama penyebab kapal miring dan tenggelam. Operasi pencarian masih berlangsung dengan dukungan helikopter, kapal SAR, serta tim penyelam. Pihak berwenang berharap dapat menemukan sisa 129 penumpang dalam beberapa hari ke depan.

Kasus ini menambah daftar tragedi maritim di Indonesia tahun 2026, menyoroti pentingnya pengawasan kondisi cuaca laut dan kesiapan kapal penumpang dalam menghadapi gelombang tinggi. Pemerintah diperkirakan akan meninjau kembali regulasi keselamatan pelayaran pasca‑insiden ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *