Anthony Gordon Dihujani Kritik Pedas Media Spanyol Usai Gagal Cetak Gol di Barca
Ule.co.id – Anthony Gordon kembali menjadi sorotan tajam setelah penampilannya di laga Barcelona melawan Sevilla berakhir tanpa satu pun kontribusi gol, menambah tekanan pada pemain berusia 25 tahun yang baru bergabung dari Newcastle United. Meski memulai musim dengan empat assist dalam empat pertandingan pertama, sang winger kini harus menghadapi pertanyaan serius tentang efektivitasnya di lini serang Catalan.
Transfer Gordon ke Barcelona tercatat sebesar £70 juta pada musim panas lalu, menandai langkah besar bagi klub yang tengah mengejar dominasi La Liga. Pada debutnya, ia berhasil memberikan dua assist, diikuti dengan dua assist lagi dalam dua laga berikutnya, membantu tim mencatat kemenangan telak. Namun, tiga pertandingan terakhir menunjukkan penurunan tajam; ia gagal mencatat assist maupun gol, meski rekan-rekannya terus mencetak banyak gol.
Media Spanyol, termasuk Mundo Deportivo dan El PaÃs, tidak segan mengkritik performa sang pemain Inggris. Mereka menilai Gordon “kurang bintang” dan “satu dimensi”, menyoroti dua peluang emas yang terlewat di laga Sevilla. Salah satu analis menulis, “Dia berkeliling di seluruh lini serang, namun tidak tajam, terbukti dari dua tembakan yang meleset.” Kritik tersebut menambah beban mental pada Gordon, yang kini harus membuktikan dirinya kembali.
Pelatih Barcelona, Hansi Flick, tetap menaruh kepercayaan pada Gordon. Dalam konferensi pers pasca pertandingan, Flick menyebut bahwa Gordon memberikan “disiplin taktik” dan membantu menahan tekanan lawan, meski belum menemukan momen untuk mencetak gol. Flick menambahkan bahwa Gordon masih beradaptasi dengan peran yang lebih sentral, termasuk sesekali dipindahkan ke posisi false nine.
Sementara itu, Gordon memberikan wawancara eksklusif dengan El PaÃs, mengungkapkan pandangannya tentang generasi muda di klub. Ia menyatakan, “Saya merasa memiliki jiwa yang lebih tua, lebih suka era 90-an. Saya bahkan berpikir membuka klub baca di dalam tim, karena kebanyakan pemain muda terlalu terobsesi dengan media sosial.” Pernyataan ini menimbulkan tawa sekaligus keheranan, namun menegaskan bahwa ia masih mencari identitasnya di lingkungan baru.
Rekan setimnya, Lamine Yamal, mengakui bahwa keberadaan Gordon di lapangan kadang mengurangi efektivitas serangan. Yamal berpendapat, “Bermain bersamanya terkadang mengurangi peluang, karena dia belum menemukan kepercayaan diri. Saya lebih nyaman bersama Karim Adeyemi atau Gabriel Jesus yang sudah dalam fase bagus.” Analisis ini mencerminkan dinamika tim yang masih mencari kombinasi paling optimal antara kecepatan, kreativitas, dan penyelesaian akhir.
Statistik menunjukkan bahwa sejak bergabung, Gordon telah mencatat empat assist, namun belum mencetak gol. Barcelona sendiri mencatat delapan kemenangan beruntun di semua kompetisi, mencetak rata-rata lebih dari empat gol per laga. Namun, ketergantungan pada pemain lain seperti Raphinha, yang mencetak tiga gol melawan Sevilla, menyoroti kebutuhan akan kontribusi lebih dari Gordon.
Penggemar Barcelona pun terbagi. Sebagian masih memberikan dukungan, mengingat penampilan awalnya yang menjanjikan, sementara yang lain menuntut perubahan cepat. Di media sosial, tagar #GordonUnderFire trending, menandakan besarnya tekanan publik.
Ke depan, Gordon dijadwalkan kembali berlatih intensif bersama tim ofensif, dengan fokus pada penyelesaian akhir. Jika ia dapat kembali menemukan kreativitas dan menambah gol, kritik media mungkin akan berkurang. Namun, jika penurunan performa berlanjut, Barcelona dapat mempertimbangkan alternatif lain di sayap kiri, seperti mengutamakan Adeyemi atau Gabriel Jesus secara permanen.

