Ben Shelton Gagal Meraih Sejarah di US Open 2026, Alexander Zverev Angkat Trofi di New York
Ule.co.id – Ben Shelton memasuki final US Open 2026 dengan harapan menjadi pionir baru bagi tenis Amerika. Namun, pada Minggu sore di Arthur Ashe Stadium, pemain berusia 23 tahun itu harus menelan kekalahan melawan Alexander Zverev, petenis asal Jerman yang berhasil mengamankan gelar pertamanya di turnamen Grand Slam tersebut.
Zverev memulai pertandingan dengan serangan agresif, memaksa Shelton melakukan kesalahan pada servis pertama. Set pertama berakhir 6-3 untuk Jerman, sementara Shelton berjuang keras pada set kedua. Dalam tiebreak, Zverev menampilkan konsistensi servis yang luar biasa, menutup set dengan 7-6 (7-2). Meskipun Shelton berhasil membalikkan keadaan di set ketiga dengan 7-5, keunggulan Zverev di set keempat kembali terbukti tak terbendung, menutup laga 6-2.
Kemenangan Zverev bukan sekadar menambah koleksi trofi; ia menjadi pemain Jerman pertama yang menjuarai US Open sejak Boris Becker pada 1989. Di sisi lain, Ben Shelton tetap menjadi sosok yang patut diperhitungkan. Ia menjadi pemain Amerika pertama sejak Andy Roddick (2003) yang menembus final Grand Slam, sekaligus pemain kulit hitam pertama yang mencapai final US Open sejak legenda Arthur Ashe pada 1972.
Statistik pertandingan menunjukkan dominasi Zverev dalam hal servis dan return. Dari 46 poin servis, Zverev hanya kehilangan dua poin, sementara Shelton hanya berhasil memecah servis lawan sekali, tepat di set ketiga. Zverev juga mencatat rekor 60 kemenangan melawan pemain top-10, menambah catatan impresifnya di level tertinggi.
Penampilan Zverev di lapangan juga menyoroti perjuangannya melawan diabetes tipe 1. Selama pertandingan, ia melakukan dua suntikan insulin, memastikan kadar glukosa tetap stabil. Momen ini menjadi sorotan bagi banyak penonton, menegaskan bahwa atlet berprestasi tinggi tetap harus mengelola kondisi medis secara cermat.
Suasana di arena dipenuhi sorakan penonton yang beragam, termasuk selebriti seperti Jeff Bezos, Lauren Sanchez, serta legenda tenis seperti Martina Navratilova dan Jimmy Connors. Meskipun dukungan mengalir deras untuk Shelton, Zverev tetap tenang dan tidak terganggu oleh tekanan kerumunan.
Setelah kemenangan, Zverev sempat tampak kebingungan saat mengamati papan skor. Hanya setelah beberapa detik ia menyadari bahwa ia telah menjadi juara, lalu mengangkat kedua lengan ke udara sebagai bentuk perayaan. Momen tersebut menambah warna unik pada final yang sudah penuh drama.
Reaksi Shelton pasca kekalahan tetap positif. Ia mengucapkan terima kasih kepada pelatih ayahnya, Brian Shelton, serta tim pendukungnya, termasuk pacarnya Trinity Rodman. “Saya bangga bisa bermain di panggung terbesar tenis dunia, dan saya akan kembali lebih kuat,” ujar Shelton dalam konferensi pers singkat.
Keberhasilan Zverev di US Open menutup tahun 2026 dengan dua gelar Grand Slam, setelah sebelumnya mengangkat trofi Roland Garros pada bulan Juni. Keberhasilan ini menandai kebangkitan kembali kariernya, yang dulunya sering kali terhalang oleh kegagalan di final besar.
Dengan hasil ini, harapan akan kebangkitan kembali tenis pria Amerika masih terbuka lebar. Ben Shelton, meski harus menelan pahit, tetap menjadi sosok inspiratif bagi generasi muda. Perjalanan kariernya yang masih muda menjanjikan peluang besar di turnamen-turnamen mendatang.
US Open 2026 tidak hanya menjadi panggung kemenangan Alexander Zverev, tetapi juga menjadi saksi momen bersejarah bagi Ben Shelton, yang meski tidak berhasil mengangkat trofi, telah menorehkan jejak penting dalam sejarah tenis Amerika.

