Kabut Asap Belum Reda, Dewan Dukung Perpanjangan PJJ di Palangka Raya
Ule.co.id – Kabut Asap Belum Reda Dewan Dukung PJJ menjadi sorotan utama ketika kondisi udara Palangka Raya masih dipenuhi asap berbahaya, mendorong Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Palangka Raya mendukung perpanjangan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) demi melindungi kesehatan siswa.
Wakil Ketua II Komisi III DPRD Kota Palangka Raya, Sri Ani Rintuh, menegaskan dukungannya pada hari Minggu, 6 September 2026, bahwa pembelajaran daring harus dipertahankan selama kualitas udara belum membaik. Ia menilai bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayah tersebut meningkatkan risiko kesehatan, khususnya bagi anak-anak usia sekolah yang masih rentan.
Ia menambahkan bahwa anak-anak cenderung sulit disiplin memakai masker ketika berada di luar ruangan. “Anak sekolah masih muda, biasanya mereka enggan memakai masker dan lebih suka bermain bersama tanpa perlindungan. Itu yang membuat mereka berisiko tinggi saat kabut asap masih menyelimuti,” jelas Sri.
Meski mengutamakan pembelajaran daring, Sri mengakui bahwa sebagian tenaga pendidik masih harus hadir di sekolah. Namun, ia menegaskan hal tersebut dapat dilakukan dengan protokol kesehatan yang ketat, termasuk penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan. “Guru tetap dapat mengajar dari sekolah asalkan mengikuti mekanisme yang ada, memakai masker, dan mengurangi interaksi di luar ruangan,” katanya.
Ia menegaskan kehadiran guru di lingkungan sekolah tidak berarti mengabaikan bahaya kabut asap. “Guru tetap menjalankan tugas mengajar, namun harus menyesuaikan diri dengan kondisi udara. Mengajar di dalam ruangan dengan protokol yang tepat tetap aman,” tambahnya.
Situasi kabut asap ini tidak hanya memengaruhi proses belajar mengajar, tetapi juga menimbulkan tantangan kesehatan yang signifikan. Badan Kesehatan Daerah (DKK) Palangka Raya telah mengeluarkan peringatan bagi warga untuk mengurangi aktivitas luar ruangan, memakai masker N95, dan menghindari paparan asap berlebih. Anak-anak, terutama yang memiliki riwayat asma atau masalah pernapasan, berada pada kelompok paling berisiko.
Para orang tua pun merespons kebijakan PJJ dengan rasa lega. Banyak yang menyatakan bahwa pembelajaran daring memberikan kesempatan bagi mereka untuk memantau kondisi kesehatan anak secara lebih intensif. Namun, beberapa orang tua mengkhawatirkan keterbatasan interaksi sosial dan aktivitas fisik yang biasanya didapatkan di sekolah.
Untuk menyeimbangkan kebutuhan pendidikan dan kesehatan, DPRD Kota Palangka Raya berencana mengadakan evaluasi berkala terhadap kualitas udara. Jika indeks kualitas udara (AQI) turun ke level aman, kemungkinan akan dipertimbangkan kembali transisi ke pembelajaran tatap muka dengan protokol tambahan.
Selain itu, pemerintah kota berkomitmen memperkuat upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan. Koordinasi lintas sektoral antara Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Pendidikan, dan Badan Penanggulangan Bencana akan dioptimalkan untuk mengurangi frekuensi kabut asap di masa mendatang.
Dengan dukungan Dewan DPRD dan kebijakan yang adaptif, diharapkan proses belajar mengajar tetap berjalan tanpa mengorbankan kesehatan generasi muda. Kebijakan PJJ yang diperpanjang menjadi langkah preventif yang penting dalam menghadapi situasi udara berisiko, sambil menunggu perbaikan kualitas atmosfer di Palangka Raya.

