Serangan AS-Iran: Ujian Kredibilitas Dewan Perdamaian Global

Jakarta, ULE.CO.ID – Eskalasi konflik di Timur Tengah dengan serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran telah memicu kekhawatiran global dan menempatkan kredibilitas Dewan Perdamaian (Board of Peace/BoP) dalam sorotan tajam. Ahmad Khoirul Umam, seorang pakar hubungan internasional dari Universitas Paramadina, menyoroti bagaimana peristiwa ini mempertajam kontradiksi antara retorika stabilitas yang digaungkan oleh BoP dan realitas praktik militer di lapangan.

Peristiwa ini, yang terjadi pada Minggu, 1 Maret 2026, memunculkan pertanyaan serius mengenai efektivitas institusi perdamaian internasional dalam menghadapi dinamika geopolitik yang kompleks.

Krisis Kredibilitas di Tengah Konflik Global

Menurut Ahmad Khoirul Umam, serangan terhadap Iran bukan hanya sekadar tindakan militer, tetapi juga sebuah ujian signifikan bagi narasi perdamaian yang diusung oleh BoP. Kontradiksi antara upaya membangun stabilitas dan tindakan militer yang terjadi menunjukkan adanya kesenjangan antara cita-cita perdamaian dan implementasi kebijakan di tataran praktis. Kondisi ini secara langsung mengancam kredibilitas Dewan Perdamaian sebagai entitas yang diharapkan mampu meredam konflik.

Situasi ini juga mendorong negara-negara Islam yang memiliki posisi relatif independen, seperti Turki dan Indonesia, untuk merefleksikan kembali bentuk dan tujuan kerja sama mereka dengan BoP. Keterlibatan aktif dalam upaya perdamaian memerlukan kejelasan mandat dan langkah konkret yang dapat dipertanggungjawabkan.

BACA JUGA: Dialog Trump Kim Jong Un: Peluang Tanpa Syarat Kembali Terbuka

Pentingnya Deeskalasi dan Kekhawatiran Ekspansi Konflik

Dalam pandangan Umam, seluruh elemen kekuatan dunia memiliki tanggung jawab untuk mendorong deeskalasi dalam konflik AS-Israel dan Iran. Ia menekankan bahwa upaya Amerika Serikat dan Israel untuk “menetralisasi” Iran bukan sekadar penaklukkan satu negara, melainkan bagian dari proyek besar untuk merekayasa ulang keseimbangan kekuatan di Timur Tengah.

Apabila komunitas internasional berdiam diri dan menganggap kondisi di Timur Tengah sebagai hal yang normal, Umam memperingatkan bahwa langkah-langkah agresif Amerika Serikat, baik secara mandiri maupun bersama Israel, berpotensi besar untuk meluas ke wilayah lain di dunia. Negara-negara di belahan dunia lain, termasuk Greenland, Kanada, serta kawasan Eropa dan Amerika Latin, bisa menjadi target berikutnya dalam proyek destabilisasi ini.

Rentetan Serangan dan Respons Internasional

Sebelumnya, Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Tak lama setelahnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa militer AS telah memulai operasi tempur berskala besar di Iran. Salah satu insiden krusial adalah serangan tujuh roket Amerika Serikat dan Israel yang menghantam Teheran, bahkan dilaporkan dekat dengan kediaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Sebagai respons, Iran meluncurkan serangan roket balasan terhadap Israel dan beberapa target lainnya di Qatar, Uni Emirat Arab, hingga Bahrain. Dalam konteks ketegangan yang memuncak ini, Kementerian Luar Negeri Indonesia menyatakan kesiapan Presiden RI Prabowo Subianto untuk bertolak ke Iran. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memfasilitasi dialog, dengan harapan dapat menciptakan kembali kondisi keamanan yang kondusif di kawasan tersebut. Ini merupakan upaya konkret dari Indonesia untuk berperan aktif dalam menjaga perdamaian global.

Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah menciptakan ketidakpastian besar di panggung global. Peristiwa ini tidak hanya mengancam stabilitas regional, tetapi juga menjadi ujian krusial bagi kredibilitas Dewan Perdamaian dan organisasi internasional lainnya dalam menjaga perdamaian. Mendesak semua pihak untuk menahan diri dan mengutamakan diplomasi adalah langkah fundamental untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas dan dampaknya yang merusak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *