Ule.co.id – Karhutla Belum Reda BNPB dan Menhut Berkantor di Kalteng menjadi sorotan utama setelah keduanya memutuskan untuk menempatkan diri di lapangan guna mengawasi penanganan kebakaran hutan yang masih meluas. Keputusan ini diambil pada Senin (21/9/26) setelah kunjungan lapangan dan rapat evaluasi bersama pejabat setempat.
Letjen TNI Dr. Suharyanto, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bersama Menteri Kehutanan Raja Antoni, awalnya menjadwalkan kunjungan singkat ke Kalimantan Tengah. Namun, setelah menilai situasi yang masih kritis, mereka memutuskan untuk memperpanjang kehadiran dan mendirikan kantor sementara di provinsi tersebut. “Kami berdua yang tadinya hanya berkunjung kembali, memutuskan untuk beberapa hari berkantor di Kalimantan Tengah,” ujar Suharyanto dalam konferensi pers.
Selama berada di Kalteng, kedua pejabat tersebut akan memantau secara langsung perkembangan penanganan kebakaran, termasuk upaya memadamkan api, penanggulangan kabut asap, serta koordinasi dengan aparat daerah dan lembaga terkait. Fokus utama mereka adalah memastikan bahwa setiap langkah penanggulangan berjalan selaras dengan rencana strategis pemerintah pusat.
Salah satu instrumen penting yang diharapkan dapat mempercepat pemulihan kondisi atmosfer adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Pemerintah berharap OMC dapat memicu hujan buatan, sehingga membantu menurunkan intensitas kebakaran dan mengurangi kabut asap yang melanda wilayah tersebut. “Supaya sampai dengan nanti operasi modifikasi cuacanya berhasil, hujan turun, paling tidak sedikit membantu terbukanya cuaca yang sekarang dipenuhi oleh kabut asap,” kata Suharyanto.
Keberadaan BNPB dan Menhut di Kalimantan Tengah tidak hanya bersifat simbolis. Kedua institusi akan terlibat dalam penilaian data satelit, pemantauan kualitas udara, serta peninjauan lapangan terhadap titik-titik api yang masih aktif. Tim teknis mereka juga akan berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengoptimalkan prediksi cuaca serta menyesuaikan strategi penanggulangan.
Situasi Karhutla di Kalteng memang belum reda. Menurut data terbaru, area yang terdampak masih meluas, dengan puluhan titik api yang belum sepenuhnya terkontrol. Dampak kabut asap pun masih dirasakan oleh warga di wilayah sekitarnya, termasuk penurunan kualitas udara yang mengganggu aktivitas harian dan kesehatan masyarakat.
Selain OMC, pemerintah juga mengaktifkan tim respons cepat yang terdiri dari pemadam kebakaran, aparat keamanan, dan relawan. Upaya penanggulangan melibatkan penggunaan pesawat pemadam, helikopter, serta unit darat yang menembus area terdampak. Koordinasi lintas sektoral ini diharapkan dapat mempercepat pemadaman dan meminimalkan kerusakan ekosistem hutan.
Para ahli lingkungan menekankan pentingnya pencegahan jangka panjang, termasuk penegakan hukum terhadap pembakaran lahan ilegal dan edukasi masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan. “Penanganan darurat memang penting, namun langkah preventif harus menjadi prioritas untuk menghindari terulangnya situasi serupa,” ujar seorang pakar kebakaran hutan.
Sejumlah lembaga non‑pemerintah juga turut berkontribusi dengan menyediakan bantuan logistik, seperti masker respirator, serta mengadakan kampanye kesadaran publik mengenai bahaya asap bagi kesehatan. Upaya kolaboratif ini mencerminkan kepedulian bersama terhadap krisis lingkungan yang sedang berlangsung.
Selama masa penempatan sementara di Kalteng, Suharyanto dan Raja Antoni menegaskan komitmen mereka untuk tetap berada di lapangan hingga OMC memberikan hasil yang diharapkan. Mereka juga berjanji akan melaporkan perkembangan secara berkala kepada publik melalui konferensi pers dan media sosial resmi masing‑masing lembaga.
Dengan langkah ini, diharapkan tekanan untuk mempercepat penanggulangan Karhutla Belum Reda BNPB dan Menhut Berkantor di Kalteng dapat menghasilkan tindakan konkret, menurunkan intensitas kabut asap, serta melindungi kesehatan dan mata pencaharian masyarakat setempat.








