analitik

Bryan Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Anak, Upaya Revitalisasi Perpustakaan Kreatif di Kalteng

Ule.co.id – Dalam rangka memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat inovasi belajar, Bryan Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Anak menjadi sorotan utama DPRD Kalimantan Tengah pada Selasa, 1 September 2026. Anggota DPRD tersebut menegaskan bahwa perpustakaan tidak boleh lagi dipandang sekadar tempat menyimpan buku, melainkan harus bertransformasi menjadi ruang kreatif yang mampu menstimulus minat belajar dan kreativitas generasi muda.

Pengembangan ruang kreatif di perpustakaan tidak hanya melibatkan penambahan koleksi buku, melainkan juga integrasi teknologi informasi. Bryan menekankan pentingnya akses digital, seperti e‑book, basis data online, serta perangkat keras seperti komputer dan tablet yang dapat diakses secara gratis oleh pengunjung. “Generasi muda saat ini sangat dekat dengan teknologi digital. Karena itu, perpustakaan juga harus mampu menyediakan akses informasi, dan bahan bacaan secara digital agar lebih mudah dijangkau,” ujarnya.

Baca juga:
DPKP Kotim Gencarkan Vaksinasi Rabies dengan Jemput Bola untuk Masyarakat

Strategi yang diusulkan mencakup renovasi interior perpustakaan menjadi zona yang lebih fleksibel, dengan furnitur modular yang dapat diatur sesuai kebutuhan kegiatan. Ruang kreatif tersebut diharapkan menjadi tempat bagi kegiatan workshop, pelatihan keterampilan, pameran seni, serta pertemuan komunitas. Dengan demikian, perpustakaan dapat berfungsi sebagai inkubator ide dan kolaborasi lintas bidang.

Selain aspek fisik, Bryan Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Anak juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas layanan. Pelayanan ramah, staf yang terlatih dalam penggunaan teknologi, serta jam operasional yang lebih fleksibel dianggap krusial untuk menarik lebih banyak kunjungan, terutama dari kalangan pelajar dan mahasiswa.

Inisiatif ini selaras dengan kebijakan nasional yang mendorong digitalisasi perpustakaan serta peningkatan literasi digital. DPRD Kalteng berencana mengalokasikan anggaran khusus untuk pengadaan perangkat keras, pelatihan SDM, serta pengembangan konten digital lokal yang dapat diakses melalui portal perpustakaan. Dengan dukungan pemerintah provinsi, diharapkan program ini dapat menjadi model bagi daerah lain.

Para pengamat pendidikan menilai bahwa pendekatan kreatif ini dapat meningkatkan minat baca secara signifikan. Menurut mereka, ketika perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan dan interaktif, anak muda akan lebih terdorong untuk menghabiskan waktu di sana, baik untuk belajar maupun berkreasi. Hal ini berpotensi menurunkan angka kebocoran literasi yang masih menjadi tantangan di banyak wilayah Indonesia.

Baca juga:
Toyota Manjakan Pemilik EV dengan 28 Slot Parkir Eksklusif di Bekasi

Tak hanya itu, Bryan menambahkan bahwa kolaborasi dengan institusi pendidikan, lembaga kebudayaan, serta sektor swasta dapat memperkaya program yang ditawarkan. Misalnya, kerja sama dengan perusahaan teknologi untuk menyediakan akses internet cepat, atau dengan seniman lokal untuk mengadakan workshop seni rupa.

Dengan visi “perpustakaan hidup”, Bryan Dorong Perpustakaan Jadi Ruang Kreatif Anak berharap perpustakaan dapat menjadi titik pertemuan rutin bagi masyarakat, bukan hanya saat ada acara khusus. Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa inovasi berkelanjutan dan responsif terhadap kebutuhan warga adalah kunci utama keberhasilan transformasi ini.

Jika rencana ini terealisasi, perpustakaan di Kalimantan Tengah dapat menjadi contoh sukses integrasi fungsi tradisional dan modern, sekaligus memperkuat peran pendidikan informal dalam membentuk generasi yang kreatif, kritis, dan siap menghadapi tantangan era digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *