Ule.co.id – Vanderson menjadi sorotan utama ketika ia mencetak gol pembuka pada menit ketiga pertandingan persahabatan antara Brasil dan Australia di Suncorp Stadium, Brisbane, pada 29 September 2026. Gol cepat tersebut menandai debutnya mencetak gol untuk tim nasional, sekaligus memberi momentum bagi tim yang dipimpin Carlo Ancelotti untuk meraih kemenangan 4-2 dalam rangka persiapan menuju Piala Dunia 2030.
Strategi baru yang diterapkan Ancelotti dengan formasi 4-3-3 terbukti meningkatkan dinamika serangan Brasil. Setelah gol awal Vanderson, serangan cepat melalui sayap kanan dan tengah menghasilkan peluang berulang, meski Australia berhasil menyamakan kedudukan lewat tendangan sudut Alessandro Circati pada menit ke-28 dan gol spektakuler Connor Metcalfe pada menit ke-33. Kedua gol tersebut sempat menimbulkan keraguan, namun Brasil tetap menekan dengan tekanan tinggi.
Di babak pertama, Raphinha, yang menjabat sebagai kapten sementara karena absennya Marquinhos, menambah tekanan pada pertahanan Australia. Ia berhasil mengeksekusi penalti pada menit ke-45, mengembalikan keunggulan Brasil menjadi 2-2. Sayangnya, cedera pada otot paha memaksa Ancelotti menggantinya dengan Endrick pada jeda babak pertama, sebuah keputusan yang kemudian terbukti tepat.
Memasuki babak kedua, Brasil memperkuat serangan lewat sisi kiri, memanfaatkan kecepatan Vinícius Júnior. Pada menit ke-57, Bruno Guimarães memanfaatkan umpan silang rendah untuk menambah angka menjadi 3-2. Tak lama kemudian, Vinícius Júnior mengeksekusi penalti yang diberikan setelah pelanggaran di kotak penalti, menutup skor menjadi 4-2. Gol-gol tersebut menegaskan efektivitas taktik ofensif Ancelotti dan kemampuan pemain muda dalam menyesuaikan diri.
Sementara itu, performa Vanderson tidak hanya terbatas pada gol pertama. Lateral asal AS Monaco ini menunjukkan kontribusi signifikan dalam fase transisi, sering kali memotong bola ke dalam area lawan dan membantu mengatur ritme serangan. Kecepatan dan ketangguhannya dalam duel satu lawan satu menjadi nilai tambah bagi pertahanan Brasil, terutama dalam menghadapi serangan balik Australia yang sempat mengancam.
Penampilan gemilang Vanderson di level internasional turut memperkuat posisinya di klub Monaco. Berdasarkan data terbaru, ia memperoleh gaji tahunan sekitar 4,48 juta euro, setara dengan sekitar Rp 26,5 miliar per musim, atau kira-kira Rp 2,2 juta per bulan. Investasi Monaco pada pemain berusia 25 tahun ini mencapai sekitar 11 juta euro pada 2021, menunjukkan kepercayaan klub terhadap potensi jangka panjangnya.
Keberhasilan Brasil dalam pertandingan ini memberikan sinyal positif menjelang laga berikutnya melawan India pada 3 Oktober 2026 di Kolkata. Dengan perubahan taktis yang melibatkan masuknya Otávio, Jair Cunha, Gabriel Magalhães, Mauro Júnior, Gabriel Bontempo, dan Rayan, serta kepergian beberapa pemain seperti Hugo Souza dan Marquinhos, Ancelotti tampak menyiapkan skuad yang lebih fleksibel dan siap menghadapi tantangan kompetisi internasional.
Secara statistik, Brasil menguasai lebih dari 60% penguasaan bola dan mencatat 18 tembakan, dengan 7 di antaranya tepat sasaran. Australia, meski kalah, menunjukkan ketangguhan dengan 12 tembakan dan dua gol yang dicetak lewat peluang bola mati. Kedua tim menampilkan intensitas tinggi, namun kemampuan Brasil dalam memanfaatkan peluang penalti menjadi pembeda utama.
Penampilan Vanderson yang konsisten, baik di level klub maupun internasional, menegaskan bahwa pemain muda Brasil kini memiliki peran penting dalam proses regenerasi tim nasional. Dengan dukungan teknis yang kuat dan pengalaman kompetisi di liga top Eropa, ia diprediksi akan menjadi bagian integral dalam skuad Brasil menuju Piala Dunia 2030.








