Ule.co.id – Komunitas musik tanah air berduka atas meninggalnya aries budiman, drummer ikonik grup Garasi, yang resmi dipastikan wafat pada 19 September 2026 di Sukabumi, tempat kelahirannya. Kabar duka ini disampaikan keluarga melalui unggahan resmi Instagram sang almarhum, sekaligus memicu gelombang ucapan belasungkawa dari sesama musisi, aktor, dan ribuan penggemar yang tumbuh bersama karya-karyanya.
Aries Budiman lahir di Jawa Barat pada tahun 1984 dan sejak usia muda menaruh minat besar pada perkusi. Pada awal 2000-an, ia berhasil meraih penghargaan Best Drummer di festival musik tingkat Sukabumi, yang kemudian melaju ke panggung nasional. Prestasi tersebut membuka pintu baginya untuk bergabung sebagai additional drummer bersama grup Omelette, memperluas jaringan dan pengalaman di industri musik.
Puncak kariernya mulai terlihat pada tahun 2005 ketika Miles Films menawarinya peran utama dalam film “Garasi”. Bersama Fedi Nuril dan Aiu Ratna, Aries tidak hanya berakting, melainkan juga menghidupkan band Garasi secara nyata. Kolaborasi mereka menghasilkan warna rock alternatif yang segar, menembus hati remaja Indonesia pada era itu. Album debut Garasi pun mencetak penjualan tinggi, menegaskan posisi Aries sebagai salah satu drummer terbaik generasinya.
Rekam jejaknya tidak berhenti pada musik. Aries juga dikenal sebagai aktor layar lebar yang tampil dalam beberapa sinetron dan film indie, memperlihatkan kemampuan berakting yang natural. Namun, banyak yang tetap mengingatnya lewat aksi panggung, terutama ketika ia menampilkan solo drum yang menggetarkan penonton, seperti saat sesi jam bersama Fedi Nuril yang membawakan lagu “American Idiot” versi Green Day.
Setelah lebih dari dua dekade berkarya, berita kepergian Aries Budiman menggugah banyak kenangan. Fedi Nuril, sahabat dekat dan rekan band, menulis pesan panjang di Instagram, mengingat kembali momen pertama mereka bertemu di audisi film “Garasi”. Ia menuturkan, “Lo datang dengan gestur rendah hati, setup drum dulu, lalu solo. Dari situ gue tahu skill lo bukan kaleng‑kaleng.” Fedi juga menyampaikan permintaan maaf mendalam karena tidak dapat menyelesaikan dua lagu ciptaan Aries semasa hidupnya, serta mengakui bahwa energi drumnya masih sangat dibutuhkan.
Reaksi serupa mengalir dari aktor, musisi, hingga penggemar di media sosial. Banyak yang mengunggah foto-foto kenangan bersama aries budiman, menyoroti kepribadiannya yang hangat, rendah hati, dan selalu siap membantu. Beberapa sahabat menambahkan bahwa almarhum selalu mengutamakan kolaborasi, menjadikan proses kreatif di Garasi selalu produktif dan menyenangkan.
Upacara pemakaman dilaksanakan di kampung halaman Sukabumi, tempat keluarga menjemputnya kembali. Fedi Nuril, Aiu Ratna, serta anggota Garasi lainnya melakukan ziarah ke makam, menyalakan lilin, dan mengucapkan selamat jalan. Mereka mengingat kembali kontribusi aries budiman dalam membentuk identitas musik Garasi, serta menegaskan bahwa warisan musiknya akan terus hidup lewat lagu‑lagu yang masih diputar di radio dan platform streaming.
Selain itu, pernyataan resmi dari manajemen Garasi menegaskan komitmen untuk melestarikan karya-karya Aries melalui rilis ulang album dan dokumentasi proses kreatif. Mereka berencana mengadakan konser tribute pada akhir tahun, mengundang musisi muda untuk menafsirkan kembali lagu‑lagu klasik Garasi, sekaligus memperkenalkan generasi baru pada keahlian drum aries budiman.
Kehilangan Aries Budiman juga menjadi pengingat akan pentingnya kesehatan mental dan fisik bagi para seniman. Beberapa rekan menyebutkan bahwa tekanan industri musik kadang membuat artis lupa merawat diri, dan berharap tragedi ini dapat menjadi pelajaran bagi komunitas kreatif untuk lebih peduli terhadap kesejahteraan anggotanya.
Dengan segala prestasi, dedikasi, dan kehangatan yang ditunjukkannya, aries budiman akan tetap dikenang sebagai sosok yang menginspirasi. Karya‑karyanya tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah musik Indonesia, dan semangatnya akan terus mengalir dalam setiap ketukan drum yang menggetarkan hati pendengar.








